Membunuh Diri dengan Kesedihan: Saat Penyesalan Menggerogoti Jiwa

14 views

ISLAM LIVE– Ada kesedihan yang datang seperti hujan: turun, membasahi, lalu reda. Namun ada pula kesedihan yang tidak berhenti di mata atau dada. Ia masuk lebih dalam, menggerogoti semangat hidup, menghabiskan energi batin, hingga seseorang seolah “membunuh dirinya sendiri” tanpa senjata apa pun. Dalam bahasa Arab klasik, keadaan itu disebut bakh‘ البخع.

Kata ini terdengar asing bagi telinga modern. Namun maknanya justru sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Bakh‘ merujuk pada tindakan membinasakan diri karena kesedihan, penyesalan, atau beban batin yang begitu berat. Bukan sekadar sedih, melainkan tenggelam dalam kesedihan sampai kehilangan daya untuk melanjutkan hidup secara sehat.

Al-Qur’an menggunakan istilah ini ketika berbicara kepada Nabi Muhammad saw:

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

“Maka barangkali engkau akan membinasakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, jika mereka tidak beriman kepada keterangan ini” (QS. Al-Kahfi: 6)

Ayat ini turun dalam konteks yang sangat manusiawi. Nabi Muhammad saw begitu menginginkan kaumnya menerima pesan kebenaran. Penolakan demi penolakan yang beliau hadapi bukan hanya persoalan dakwah yang gagal, melainkan luka batin yang mendalam. Beliau merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka. Namun Allah mengingatkan: jangan sampai kesedihan itu berubah menjadi penghancur diri.

Pesan serupa muncul dalam ayat lain:

فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ

“Janganlah dirimu binasa karena penyesalan terhadap mereka” (QS. Fathir: 8)

Ada pelajaran psikologis yang sangat kuat di sini. Tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Kita boleh berusaha, menasihati, mencintai, mendidik, dan memperjuangkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Tetapi hasil akhir sering kali berada di luar kuasa kita. Ketika seseorang memikul tanggung jawab yang melebihi batas kemampuannya, ia rentan terjebak dalam kesedihan yang merusak.

Fenomena ini terasa sangat relevan di zaman sekarang. Banyak orang mengalami kelelahan emosional karena terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Seorang orang tua merasa gagal karena anaknya tidak tumbuh sesuai harapan. Seorang guru menyesali murid yang tak kunjung berubah. Seorang aktivis frustrasi melihat ketidakadilan yang terus berulang. Bahkan tidak sedikit orang yang berbulan-bulan menyiksa dirinya karena keputusan masa lalu yang dianggap keliru.

Baca Juga:  Ulil Amri dan Makna Perintah: Siapa Sebenarnya yang Berhak Diikuti?

Pada titik tertentu, penyesalan yang semula sehat berubah menjadi racun. Ia tidak lagi mendorong perbaikan, melainkan menghabiskan tenaga jiwa. Seseorang terus memutar ulang peristiwa yang sama dalam pikirannya, seakan-akan masa lalu dapat diperbaiki dengan mengulang penyesalan berkali-kali.

Bahasa Arab memilih kata yang sangat kuat untuk menggambarkan keadaan itu: bakh‘. Seolah-olah seseorang sedang menghunus pedang kepada dirinya sendiri, tetapi senjata yang digunakan bukan besi, melainkan kesedihan.

Menariknya, para ahli bahasa klasik memberikan makna tambahan pada kata ini. Mereka menjelaskan bahwa seseorang dikatakan melakukan bakh‘ ketika ia mengakui suatu kewajiban atau kebenaran dengan perasaan sangat berat dan terpaksa. Ia tunduk, tetapi batinnya menolak. Ia menerima, namun dengan kepedihan yang mendalam.

Makna ini membuka lapisan baru dari persoalan manusia. Terkadang penderitaan bukan muncul karena kita tidak mengetahui kebenaran, melainkan karena kita mengetahui apa yang benar tetapi sulit menerimanya. Kita tahu harus melepaskan seseorang, tetapi hati belum siap. Kita tahu sebuah kenyataan tidak bisa diubah, tetapi ego masih berusaha melawannya. Kita tahu bahwa hidup harus berjalan, tetapi kenangan membuat langkah terasa berat.

Dalam salah satu syair Arab kuno, seorang penyair menyeru:

“Wahai engkau yang membinasakan dirinya karena duka…”

Seruan itu terdengar seperti teguran lembut kepada manusia sepanjang zaman. Berapa banyak orang yang sebenarnya tidak dihancurkan oleh musibah, melainkan oleh cara mereka memandang musibah itu? Berapa banyak yang tidak kalah oleh kegagalan, tetapi oleh penyesalan yang tak kunjung selesai?

Baca Juga:  Menyelam ke Dalam Bahr: Hikmah tentang Kedalaman Jiwa dan Kematangan Hidup 

Bukan berarti agama mengajarkan manusia untuk tidak bersedih. Kesedihan adalah bagian alami dari kemanusiaan. Nabi saw sendiri pernah menangis ketika kehilangan orang-orang yang dicintainya. Yang ditolak adalah kesedihan yang berubah menjadi penghancuran diri; kesedihan yang membuat seseorang berhenti hidup sebelum ajalnya tiba.

Di tengah budaya modern yang sering menuntut kesempurnaan, pesan Al-Qur’an tentang bakh‘ terasa semakin penting. Kita hidup dalam era yang membuat kegagalan tampak lebih memalukan daripada sebelumnya. Media sosial memperlihatkan keberhasilan orang lain setiap hari, sementara kesalahan pribadi terasa semakin besar dan menghantui. Akibatnya, banyak orang memikul beban emosional yang tidak perlu.

Padahal hidup tidak pernah dibangun dari keberhasilan semata. Ia juga dibentuk oleh keterbatasan, ketidaksempurnaan, dan kenyataan bahwa tidak semua usaha akan menghasilkan apa yang diinginkan. Kebijaksanaan lahir ketika seseorang mampu membedakan antara apa yang harus diperjuangkan dan apa yang harus diikhlaskan.

Di situlah letak kedalaman makna bakh‘. Kata ini bukan sekadar istilah linguistik dari kamus Arab kuno. Ia adalah cermin bagi kecenderungan manusia untuk menghukum dirinya sendiri secara berlebihan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa bahkan seorang nabi pun tidak boleh tenggelam dalam kesedihan sampai merusak dirinya. Apalagi kita, manusia biasa yang hidup dengan segala keterbatasan.

Mungkin karena itu, salah satu bentuk kedewasaan spiritual yang paling sulit adalah menerima bahwa kita tidak bertanggung jawab atas segala sesuatu. Kita bertanggung jawab atas usaha, bukan atas seluruh hasil. Kita diminta menanam, bukan menjamin panen.

Dan ketika penyesalan mulai berubah menjadi beban yang melumpuhkan, barangkali kita perlu mengingat pesan yang tersimpan dalam kata bakh‘: jangan sampai kesedihan yang seharusnya menghaluskan hati justru menjadi pisau yang perlahan melukai jiwa sendiri.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA