ISLAM LIVE – Kekerasan dan pencurian hasil panen zaitun oleh pemukim Israel meningkat selama musim panen tahun ini di Tepi Barat yang diduduki. Kelompok hak asasi manusia Israel, Yesh Din, mencatat 125 serangan fisik terhadap pemanen zaitun Palestina dan 168 insiden pencurian hasil panen dalam 24 hari sejak musim panen dimulai.
Ahmed Salem, petani Palestina berusia 50 tahun dari desa Lubban al-Gharbi, mengatakan kepada Reuters bahwa para pemukim memukul pohon-pohon zaitunnya dengan tongkat sebelum mengambil buahnya. Ia mengaku takut melakukan perlawanan karena khawatir akan diserang. Menurut Salem, hasil panen tersebut dimasukkan ke dalam karung dan dibawa ke sebuah pos pemukiman Israel untuk diolah menjadi minyak zaitun.
Yesh Din melaporkan pada Rabu (21/10/2026) bahwa pasukan militer Israel berada di lokasi dalam sedikitnya seperempat dari insiden serangan dan pencurian yang dicatat selama periode tersebut. Data itu memperlihatkan bahwa musim panen berlangsung di tengah risiko keamanan yang dihadapi petani Palestina.
Militer Israel menyatakan bahwa tindakan kekerasan, aktivitas kriminal, dan upaya yang dinilai mengganggu keamanan ditanggapi dengan serius. Namun, seorang pejabat militer tidak secara khusus menanggapi laporan pencurian zaitun maupun dugaan keberadaan pasukan di lokasi kejadian.
Sikap tokoh agama Yahudi terhadap pengambilan hasil panen tersebut juga berbeda. Zev Weitman, seorang rabi dari pemukiman Alon Shvut, menyebut tindakan itu sebagai pencurian yang dilarang. Sebaliknya, rabi Ortodoks Dov Lior menyatakan bahwa para pemukim seharusnya memanen zaitun di seluruh Tepi Barat, dengan alasan bahwa warga Palestina tidak memiliki hak kepemilikan atas lahan tersebut.
Juru bicara pemerintah Israel menyatakan bahwa pengambilan zaitun oleh orang Yahudi di tanah leluhur bangsa Yahudi tidak serta-merta merupakan pencurian. Namun, ia juga menegaskan bahwa tidak seorang pun boleh bertindak di luar hukum.
