ISLAM LIVE – Pemerintah memperkuat ekosistem hilirisasi dan industri bernilai tambah tinggi untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyampaikan hal itu dalam BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Susiwijono menyoroti dampak konflik Selat Hormuz terhadap kenaikan harga dan biaya logistik, sekaligus menekankan pentingnya kepastian bahan baku.
“Yang paling penting sebenarnya masalah kepastian bahan baku,” ujar Susiwijono.
Di tengah kondisi tersebut, realisasi investasi Semester I-2026 mencapai Rp1.010 triliun, hampir 50 persen dari target 2026 sebesar Rp2.041 triliun. Pemerintah juga meninjau skema insentif fiskal seiring penerapan Global Minimum Tax sebesar 15 persen.
Penguatan ekosistem hilirisasi diarahkan melalui investasi, insentif kompetitif, rantai pasok domestik, dan perluasan akses pasar. Pemerintah menilai kerja sama perdagangan internasional dapat memperluas pasar produk Indonesia sekaligus meningkatkan daya tarik investasi.
“Ini yang terus kita dorong, sehingga kita mendapatkan dua manfaat sekaligus. Pertama, membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia, sekaligus membuat Indonesia semakin menarik bagi investor,” pungkas Susiwijono.
