Salah satu tugas filsafat yang seringkali terlupakan ialah mengkreasi penafsiran baru terhadap alam semesta serta berbagai fenomena yang melingkupinya. Namun, dalam realitas akademik kontemporer, misi agung ini kerap tersingkir dari panggung diskursus. Para pemikir (juga pegiat), seiring berjalannya waktu, cenderung merasa cukup menjadi sebatas kurator warisan masa lalu. Terjadi semacam kecanduan eksplanasi, di mana para pemikir hanya menjadi pelayan narasi lama, terjebak dalam ritual pengulangan dan menutup pintu bagi setiap kemungkinan kreasi radikal.
Akibatnya, filsafat yang secara esensial menuntut dinamisme dan transformasi, justru berubah menjadi entitas yang stagnan, kaku, dan membeku. Padahal, jika kita merujuk pada pemikiran Mulla Sadra, filsafat merupakan Shairurat al-Insan; sebuah proses “menjadi” bagi manusia menuju kesempurnaan intelektual. Bahkan bila dinamisme dan transformasi tidak dianggap sebagai esensi dari filsafat, setidaknya kita harus mengakui bahwa keduanya adalah atribut yang tak terpisahkan dari eksistensi filsafat itu sendiri.
Filsafat sebagai “Proses Menjadi” Itu Melampaui Skeptisisme
Pandangan berbasis shairurah ini memberikan ruang bagi para filosof untuk selalu menempatkan informasi dan warisan intelektual mereka dalam radar observasi, kritik, dan pembacaan ulang. Langkah ini krusial agar pemikiran tidak mengalami keusangan atau pembusukan. Tanpa pembacaan ulang, sebuah teori akan kehilangan daya hidupnya dan hanya menjadi artefak linguistik yang hampa makna.
Apalagi jika kita menyadari adanya batasan kapasitas manusia. Kesadaran bahwa tidak ada filosof yang benar-benar mampu merengkuh hakikat segala sesuatu secara absolut menuntut adanya pembacaan baru yang terus-menerus. “God alone can have this privilege”, begitu kata Aristoteles ketika mengutip Simonides di awal Kitab Metafisikanya. Setiap individu hanya menangkap kebenaran sesuai dengan kapasitas dan kondisi subjektifnya.
Namun, penting untuk dicatat bahwa keterbatasan ini tidak niscaya membawa kita pada jurang skeptisisme atau deadlock pengetahuan. Keterbatasan daya manusia hanya berarti bahwa pengetahuan manusia itu terbatas (limited), bukan berarti tertutup atau mustahil (blocked). Spirit shairurah merupakan panggilan untuk kerendahhatian intelektual, bukan untuk keputusasaan akademik.
Meruntuhkan Mental Block Antara Sakralitas dan Kesinisan
Dalam upaya menghidupkan kembali gairah berfilsafat, kita seringkali terbentur pada penghalang mental dan psikologis yang bersifat ekstrem. Di satu sisi, ada kecenderungan yang terjebak dalam sakralitas. Mereka begitu mencintai filsafat, khususnya filsafat islam, hingga memberi status suci padanya. Hal ini berbahaya karena mematikan nalar kritis; teks dianggap sebagai dogma yang tak boleh digugat, dan para filosof masa lalu dianggap sebagai otoritas yang mustahil salah.
Di sisi lain, terdapat kutub kesinisan. Kelompok ini melihat filsafat dengan tatapan meremehkan, menganggapnya tidak berguna, atau mengharamkannya secara apriori, karena dianggap sebagai produk masa lalu yang sudah kedaluwarsa. Kesinisan intelektual ini menutup peluang bagi dialog yang sehat.
Jadi, kadang kita terjebak dalam fanatisme etnis yang berujung pada xenofobia intelektual (kebencian pada yang asing), dan kadang kita terjebak dalam rasa rendah diri (inferiority complex) yang berujung pada pemujaan buta terhadap kreativitas asing.
Jalan kemajuan dan inovasi hanya akan terbuka jika kita memiliki pandangan yang jujur dan kritis terhadap warisan sendiri maupun warisan “liyan”. Maka, kita harus melihat tradisi filsafat islam sebagai warisan yang sangat berharga (precious heritage), namun tidak bersifat sakral.
Dialektika Sadra vs Hegel: Bentangan vs Pertentangan
Terdapat perbedaan ontologis yang sangat halus namun krusial antara shairurah dalam perangkat filsafat Mulla Sadra dan Hegel. Bagi Sadra, proses “menjadi” tetap berada dalam kerangka teori potensi (quwwah) dan aktualitas (fi’l). Hal ini memastikan bahwa kesatuan (unity) tetap terjaga di sepanjang proses perubahan. Sedangkan bagi Hegel, kesatuan tidak terjaga selama proses, melainkan hanya muncul di titik awal atau akhir secara sesaat.
Dalam terminologi yang lebih tajam, shairurah bagi Sadra ialah sebuah bentangan, sedangkan bagi Hegel ialah sebuah pertentangan. Dalam perspektif Hegelian, sebuah sistem filsafat seringkali dianggap benar hanya jika ia menegasikan sistem sebelumnya secara total. Namun bagi Sadra, karena kebenaran pada hakikatnya bersifat tunggal, maka kelahiran sistem filsafat baru bukanlah pembatalan sistem lama, melainkan penguatan dan penyempurnaan (isytidad).
Peran Institusi Pendidikan: Dari Transmisi ke Transformasi
Institusi pendidikan memegang peran sentral dalam menentukan apakah filsafat akan hidup sebagai shairurah atau mati dalam kejumudan. Selama ini, banyak institusi pendidikan—bahkan pendidikan filsafat—tertawan dalam peran “penjaga museum”. Kurikulum filsafat seringkali hanya berisi inventarisasi pendapat tokoh masa lalu tanpa memberikan metodologi bagi siswa untuk memahami asumsi dan melancarkan kritik.
Dalam bayangan penulis, fungsi ideal institusi pendidikan setidaknya harus mencakup tiga aspek transformasi:
- Inkubator Pemikiran Kritis: Pendidikan harus menanamkan keberanian intelektual agar siswa berani bertanya “mengapa”, bahkan terhadap teks yang paling mapan sekalipun.
- Jembatan Epistemologis: Institusi harus menjadi ruang perjumpaan di mana keberagaman pendekatan dilihat sebagai kekayaan, bukan ancaman.
- Aktualisasi Nilai: Pendidikan harus membimbing siswa untuk mengarungi tahap aplikasi, yaitu memproses teori metafisika yang abstrak menjadi solusi bagi masalah kemanusiaan yang nyata.
Tiga Tangga Transformasi
Agar tidak terjebak dalam dua ekstrem sakralitas maupun kesinisan, serta guna memutus mata rantai berfilsafat yang melumpuhkan kreativitas, paradigma sairurah dapat kita breakdown menjadi tiga tangga transformasi:
- Mendalami Teks: Memahami teks secara mendalam bukan sekadar pada kulit luarnya, melainkan menangkap semangat dan maksud di balik kata-kata (beyond the text). Ini adalah tahap di mana pemahaman menjadi dialog yang hidup antara pembaca dan pengarang.
- Melampaui Teks: Melakukan kritik, dekonstruksi, dan reproduksi teori. Ini adalah fase di mana pemikir tidak lagi sekadar mengekor, melainkan mulai memproduksi ide-ide baru yang relevan dengan konteks zaman.
- Memberi Konteks: Mengolah hasil pemikiran tersebut menjadi sesuatu yang dapat diterapkan dan disebarkan untuk kemaslahatan masyarakat secara luas.
Sikap non-taklid inilah yang membuat Mulla Sadra mampu melakukan sebuah ”lonjakan” intelektual. Penulis sendiri meyakini parameter seseorang layak disebut Sadrian bukanlah pemahaman, apalagi hafalan, tentang doktrin-doktrin Mulla Sadra. Itu penting, namun tidak cukup. Sadrian adalah mereka yang terus mengalami lonjakan intelektual.
Tugas kita hari ini ialah memastikan bahwa lonjakan tersebut terus berlanjut di berbagai institusi sosial, khususnya di lembaga pendidikan dan komunitas-komunitas intelektual. Itulah mengapa kami menginisasi sebuah komunitas diskursus bernama Mawara (bahasa arab bagi beyond). Harapannya, wadah itu bisa “menjadi” gerakan akal yang senantiasa “melonjak” dan “melampaui”. Memang belum besar, tapi kalau kata salah satu lirik lagu: kecil-kecilan dulu, ya!
