ISLAM LIVE – Menyampaikan ajaran Islam bukan perkara sekadar berani berbicara di depan orang banyak. Seorang pendakwah perlu memiliki bekal yang memadai agar pesan yang disampaikan tidak menyesatkan atau menimbulkan pemahaman keliru. Bekal itu mencakup pemahaman agama, etika penyampaian, hingga tanggung jawab atas informasi yang disebarkan.
Landasan pentingnya terdapat dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 125:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Ud’u ilaa sabeeli Rabbika bilhikmati walmaw’izatil hasanati wa jaadilhum billatee hiya ahsan; inna Rabbaka huwa a’lamu biman dalla ‘an sabeelihee wa Huwa a’lamu bilmuhtadeen
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Ayat ini menjadi pijakan bahwa dakwah menuntut keseimbangan antara kebenaran isi dan kelembutan cara. Berdakwah dengan tegas tidak harus dilakukan dengan kasar; ajaran agama tetap bisa disampaikan secara jelas sambil menjaga tutur kata dan menghormati lawan bicara.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah niat. Pendakwah sebaiknya tidak menjadikan dakwah semata-mata sarana mencari pujian, popularitas, atau pengakuan. Tujuan dakwah adalah mengajak manusia kepada kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, niat perlu terus dievaluasi, terutama ketika seseorang mulai dikenal banyak orang atau mendapat perhatian masyarakat.
Kedua, kelembutan. Nasihat yang benar bisa sulit diterima apabila disampaikan dengan bentakan, hinaan, atau sikap merendahkan. Allah SWT mengingatkan pentingnya kelembutan dalam Surah Ali Imran ayat 159, yang menjelaskan bahwa sikap keras dan berhati kasar dapat membuat orang menjauh dari sekitarnya. Pendakwah perlu menjaga perkataan dan sikap, terutama ketika menghadapi orang yang belum memahami suatu ajaran atau memiliki pandangan berbeda.
Ketiga, tidak memaksa atau mengintimidasi. Dakwah seharusnya mendorong orang mengenal dan melakukan kebaikan, bukan membuat mereka merasa terancam. Pendakwah bisa menjelaskan manfaat suatu amalan, mengingatkan konsekuensi dari perbuatan tertentu, dan memberikan pemahaman berdasarkan ajaran Islam, namun penyampaiannya tetap mempertimbangkan keadaan orang yang dinasihati.
Keempat, memilih cara yang bijak dalam menasihati. Tidak semua nasihat harus disampaikan secara terbuka. Menegur seseorang di depan umum bisa membuatnya malu atau menolak nasihat. Jika menyangkut kesalahan pribadi yang tidak membahayakan orang lain, nasihat secara pribadi bisa menjadi pilihan lebih baik. Namun, jika ada tindakan yang membahayakan orang lain, cara menyikapinya perlu disesuaikan dengan keadaan.
Kelima, landasan ilmu. Materi dakwah perlu memiliki dasar yang jelas agar tidak sekadar mengikuti pendapat pribadi. Al-Qur’an dan hadis menjadi sumber utama dalam menjelaskan ajaran Islam, sehingga pendakwah perlu memahami dalil yang digunakan dan konteks pembahasannya. Jika menyampaikan ayat atau hadis, pastikan teks dan maknanya benar. Ketika menjelaskan persoalan fikih yang memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama, pendakwah sebaiknya tidak menyederhanakan masalah hingga membuat pendengar mengira hanya ada satu pandangan yang diakui.
Keenam, menyesuaikan materi dengan pendengar. Setiap orang memiliki tingkat pemahaman agama yang berbeda. Ada yang sudah lama mengikuti kajian, ada yang baru mulai belajar, dan ada yang membutuhkan penjelasan lebih mendasar. Pendakwah perlu menyesuaikan bahasa, materi, dan contoh yang digunakan, sehingga penjelasan dapat diikuti secara bertahap.
Ketujuh, menjaga penampilan dan sikap. Pendakwah sebaiknya menjaga kebersihan, kerapian, dan kepantasan berpakaian sesuai situasi serta ketentuan agama. Yang penting adalah menjaga kesopanan dan menghormati orang-orang yang menjadi sasaran dakwah. Cara berbicara, mendengarkan orang lain, dan memperlakukan jamaah dapat memengaruhi bagaimana pesan dakwah diterima.
Kedelapan, mengamalkan apa yang disampaikan. Allah SWT berfirman dalam Surah As-Saff ayat 2-3:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ, كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Yaa ayyuhal lazeena aamanoo lima taqooloona maa laa taf’aloon. Kabura maqtan ‘indal laahi an taqooloo maa laa taf’aloon
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Pendakwah tentu tetap manusia yang bisa melakukan kesalahan dan perlu terus memperbaiki diri. Namun, sebaiknya ia sudah berusaha semaksimal mungkin menerapkan nilai yang diajarkan, sehingga nasihatnya tercermin dalam perilaku. Ketika mengajak orang lain berkata jujur, ia perlu membiasakan diri bersikap jujur. Ketika mengingatkan pentingnya menghormati sesama, ia pun perlu menunjukkan sikap yang sama.
Sebagai bekal terakhir, seorang pendakwah perlu memiliki pemahaman agama yang memadai, mampu berpikir dan menyampaikan pesan dengan baik, menjaga tanggung jawab atas informasi yang disampaikan, serta memiliki akhlak yang baik. Sikap santun, jujur, dan menghargai orang lain merupakan bekal penting agar dakwah sejalan dengan nilai yang diajarkan.
