ISLAM LIVE – Kementerian Agama (Kemenag) menempatkan perlindungan santri sebagai prioritas melalui program SafeSantri. Program ini ditujukan untuk memperkuat perlindungan santri melalui sistem pencegahan, kanal pengaduan, pendampingan, dan respons cepat terhadap kasus kekerasan di lingkungan pesantren.
“Fokus kami, santri datang untuk menuntut ilmu dan membangun masa depan, bukan untuk membawa pulang trauma,” kata Basnang Said, Direktur Jenderal Pendidikan Pesantren Kemenag, di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Pernyataan itu disampaikan Basnang terkait lima program Quick Win pengembangan pesantren yang disiapkan Kemenag. Selain SafeSantri, program lain mencakup pengakuan ijazah, kemandirian ekonomi, penguasaan teknologi, dan dakwah digital. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan pesantren sekaligus mempersiapkan santri menghadapi perubahan dunia pendidikan, pekerjaan, dan teknologi.
“Program ini didesain dari, oleh, dan untuk pesantren. Karenanya, dalam pelaksanaannya, Kemenag bersinergi dengan kalangan Gus dan Ning sebagai penerus perjuangan pesantren,” jelasnya.
Kemenag telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) SafeSantri yang diluncurkan Menteri Agama Nasaruddin Umar pada peringatan Hari Santri 2026. Sejumlah Gus dan Ning juga dilibatkan sebagai teladan sekaligus penggerak perlindungan di lingkungan pesantren.
Selain perlindungan santri, Kemenag memperluas pengakuan terhadap pendidikan pesantren melalui program rekognisi ijazah. Program ini bertujuan agar lulusan memiliki akses lebih terbuka untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, dan mengembangkan karier.
“Jangan sampai masa depan santri terhambat, bukan karena kurang ilmunya, melainkan karena belum diakui status pendidikannya,” ucapnya.
Kemenag juga mendorong kemandirian ekonomi pesantren melalui program Pesantren Adaptif & Mandiri yang mencakup penguasaan teknologi, modernisasi tata kelola, serta penguatan kewirausahaan. Sejumlah figur publik dan praktisi, termasuk Habib Husein Ja’far, Atta Halilintar, Willy Salim, Putra Siregar, dan Aldi Taher, dilibatkan untuk berbagi pengalaman bisnis dan pengembangan usaha.
“Pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, melainkan juga ruang untuk menciptakan peluang ekonomi dan lapangan kerja baru,” ungkapnya.
Untuk memperkuat keterampilan santri, program Santri 5.0 diarahkan pada penguatan keterampilan teknis, literasi digital, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi tanpa meninggalkan karakter keagamaan.
“Kita ingin santri itu kuat ilmu agamanya, kuat pula keterampilannya,” tambahnya.
Terakhir, program Dakwah Digital menyiapkan dai dan daiyah agar mampu memanfaatkan media sosial, algoritma, AI, dan konten kreatif untuk menyampaikan dakwah yang santun dan moderat kepada generasi muda. Kemenag melibatkan tokoh dakwah muda, kreator konten religi, serta Gus dan Ning yang aktif di ruang digital.
“Kalau anak muda hari ini lebih banyak berada di depan layar daripada di depan mimbar, maka dakwah harus hadir secara kreatif di layar mereka,” jelasnya.
Kelima program tersebut menempatkan perlindungan santri, pengakuan pendidikan, dan kesiapan menghadapi ekonomi digital sebagai bagian penting dari masa depan pesantren. Tantangannya adalah memastikan seluruh program berjalan efektif dan manfaatnya dirasakan langsung oleh santri serta lembaga pendidikan pesantren.
