Prof. Didin Dorong Penguatan Literasi Digital di Pesantren

1 views
Prof. Didin Nurul Rosidin

ISLAM LIVE – Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Didin Nurul Rosidin, mendorong penguatan literasi digital di pesantren untuk membentengi generasi muda dari propaganda, intoleransi, dan radikalisme. Menurutnya, pesantren memiliki modal yang kuat melalui pendidikan agama, pembentukan akhlak, kehidupan bersama, dan kesadaran kebangsaan.

Namun, status santri tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap propaganda, terutama di tengah derasnya arus informasi digital. Oleh karena itu, ia mendorong kolaborasi pesantren, pengajar, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk membangun sistem pencegahan yang tidak hanya menyampaikan larangan, tetapi juga melatih generasi muda berpikir kritis dan menyelesaikan perbedaan secara damai.

“Kekuatan utama santri itu terletak pada pertemuan antara kedalaman ilmu, pendidikan akhlak, pengalaman hidup bersama, dan kesadaran kebangsaan. Maka otomatis, ketika keempatnya berjalan dengan baik, pesantren sebenarnya mempunyai modal penting untuk membentuk ketahanan terhadap intoleransi, ekstremisme, dan juga kekerasan,” kata Didin Nurul Rosidin, Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Baca Juga:  Mengapa Mimpi Buruk Terjadi? Ini Penjelasan dalam Ajaran Islam

Didin menekankan pentingnya kewaspadaan epistemik atau kewaspadaan epistemik, yakni sikap kritis dalam memeriksa informasi sebelum memercayai atau menyebarkannya. “Dengan generasi muda yang moderat dan kritis itulah, maka akan muncul generasi yang kuat keyakinannya, jernih pertimbangannya, luas pergaulannya, dan yang lebih penting lagi adalah bertanggung jawab atas tindakannya,” ujarnya.

Menurut Didin, tradisi keilmuan pesantren melalui metode sorogan, bandongan, dan musyawarah dapat melatih santri memahami perbedaan pendapat serta menghindari pemahaman keagamaan yang memungkinkan terjadinya kekerasan. Pendekatan itu perlu mencakup ruang digital melalui pembelajaran berbasis kasus nyata.

Santri, misalnya, diajak menceritakan ceramah yang provokatif, berita konflik tanpa sumber yang jelas, hingga ajakan menyerang kelompok lain. Langkah ini penting agar generasi muda tidak mudah menerima informasi secara mentah, apalagi menyebarkannya tanpa memeriksa kebenaran dan konteks.

Baca Juga:  Prof. Quraish Shihab Resmi Masuk Dewan Pertimbangan Presiden

“Ketahanan itu merupakan hasil pendidikan yang harus terus dirawat,” tegas Didin. Penguatan literasi digital di pesantren diharapkan tidak hanya mencegah radikalisme, tetapi juga membangun generasi yang mampu menjaga perdamaian, menghormati perbedaan, dan merawat keutuhan bangsa.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA