ISLAM LIVE – Kualitas bahan baku menentukan daya simpan dan ketahanan produk tahu walik. Pemilik usaha kuliner Gurih & Manis, Diah Annisa Ulva, mengingatkan bahwa penggunaan tahu pong yang terlalu basah dapat menurunkan kualitas adonan hingga membuat kulit tahu tidak kokoh.
Tahu walik sendiri merupakan jajanan asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang memakai tahu pong, yaitu tahu yang kosong di bagian dalamnya dan sudah digoreng. Teksturnya yang asin gurih di luar dan kenyal di dalam membuatnya digemari banyak orang.
“Ada beberapa penjual yang tahunya (tahu pong) sebagian digoreng kering, ada juga yang sebagian agak basah,” ucap Diah Annisa Ulva, pemilik usaha kuliner Gurih & Manis, dalam siaran Santai Siang edisi Pemberdayaan UMKM Lokal di RRI Pro2 Samarinda, Kamis (22/10/2026).
Menurut Diah, tahu pong kering lebih direkomendasikan karena tahu bersifat asam. Dengan begitu, kualitas adonan tahu walik tetap terjaga. Sebaliknya, tahu yang terlalu basah memengaruhi kualitas adonan, mengurangi masa simpan, dan membuat kulit tahu tidak kokoh.
“Kalau tahu yang terlalu basah dicampur ke dalam adonan jadinya memengaruhi kualitas adonan tahu walik. Masa simpannya jadi berkurang dan kulit tahu jadi tidak kokoh,” ujarnya.
Diah juga kerap menemukan tahu pong yang robek atau hancur saat dibalik sehingga tidak bisa digunakan. Ia membutuhkan tahu yang tetap utuh ketika dibalik agar proses pembuatan berjalan lancar.
Bagi pelaku UMKM kuliner, catatan ini menjadi pengingat bahwa pemilihan bahan bukan sekadar soal rasa, tetapi juga menyangkut daya tahan produk. Tahu pong kering tidak hanya menjaga adonan tetap kokoh dan tahan lebih lama, tetapi juga mempertahankan bentuk tahu agar tidak mudah robek saat dibalik.
