ISLAM LIVE – Tidak semua salat yang dikerjakan pada malam hari mengharuskan seseorang tidur terlebih dahulu. Pertanyaannya, apakah salat malam tanpa tidur lebih dulu bertentangan dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Dalam buku Hidup Bersama Rasulullah Muhammad SAW yang ditulis Daeng Naja, dijelaskan bahwa Rasulullah biasa tidur pada awal malam dan bangun di sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan salat Tahajud. Hal itu dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah RA, ia berkata:
وَعَنْهَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ ، وَيَقُومُ آخِرَهُ فَيُصَلِّي . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur pada awal malam dan bangun pada penghujung malam. Lalu beliau melakukan salat.” (HR Muttafaqun ‘alaih)
Rasulullah mulai tidur setelah salat Isya, sekitar pukul 19.45 hingga 20.00. Beliau tidur di awal malam agar dapat bangun lebih pagi untuk melaksanakan tahajud. Kebiasaan itu menjadi opsi bagi orang yang ingin mengisi malam dengan ibadah, namun belum terbiasa bangun di tengah malam.
Lantas, salat apa saja yang bisa dikerjakan tanpa tidur terlebih dahulu? Pertama, salat Witir, yakni salat sunnah dengan jumlah rakaat ganjil seperti satu, tiga, atau lima rakaat. Salat ini biasa dikerjakan sebagai penutup rangkaian salat malam.
Bagi seseorang yang khawatir tidak bisa bangun pada sepertiga malam terakhir, salat Witir boleh dikerjakan lebih awal, yakni setelah salat Isya. Sebagaimana disebutkan dalam Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah menambahkan salat padamu yaitu salat witir. Maka, tunaikanlah salat witir pada waktu antara salat Isya sampai salat Subuh.”
Kedua, salat Tobat, yakni salat sunnah yang dikerjakan sebagai bentuk penyesalan atas kesalahan dan dosa. Salat ini tidak mengharuskan seseorang tidur terlebih dahulu dan bisa dikerjakan dua rakaat dengan satu kali salam.
Ketiga, salat Hajat. Ketika memiliki keinginan, cita-cita, atau menghadapi persoalan tertentu, seorang Muslim dapat mengerjakan salat Hajat dan memanjatkan doa kepada Allah. Salat ini dapat dikerjakan tanpa tidur lebih dahulu, dua hingga 12 rakaat dengan salam setiap dua rakaat.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa berwudhu dan mengerjakannya dengan sempurna, kemudian mengerjakan salat dua rakaat dengan sempurna, maka Allah mengabulkan apa yang dimohonnya baik dengan cepat maupun lambat.” (HR Ahmad)
Keempat, salat Mutlak, yakni salat sunnah yang tidak terikat sebab atau waktu tertentu. Salat ini bisa dikerjakan pada malam hari tanpa harus tidur lebih dahulu, dengan jumlah rakaat yang tidak ditentukan khusus.
Kelima, salat Tarawih khusus pada bulan Ramadan. Umat Islam dapat mengerjakan salat Tarawih setelah salat Isya tanpa perlu tidur terlebih dahulu, baik berjamaah maupun sendirian. Rasulullah bersabda:
“Siapa yang mengerjakan salat malam di bulan Ramadan dengan disertai iman dan hanya mengharap keridhaan Allah, maka dosanya yang telah lalu diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, salat malam tanpa tidur lebih dahulu tidak bertentangan dengan sunah Rasulullah. Kebiasaan beliau tidur di awal malam adalah salah satu cara mengisi malam dengan ibadah, bukan satu-satunya ketentuan yang menutup pilihan salat sunnah lain setelah Isya.
