ISLAM LIVE – Ada sesuatu yang menggentarkan ketika kita berdiri di tepi pantai pada malam hari, menatap laut lepas yang gulita. Namun, bayangkan jika Anda berada di kedalaman ratusan meter di bawah permukaan samudra itu: diimpit kegelapan samudra terdalam, tertutup gelombang demi gelombang, dan dinaungi mendung hitam yang menutup rapat setiap jengkal cahaya bintang. Begitulah Al-Qur’an memotret jiwa manusia yang kehilangan orientasi spiritual—sebuah potret alegoris yang tidak hanya estetis, tetapi juga secara mengejutkan koheren dengan ilmu pengetahuan modern.
Dalam Surah An-Nur ayat 40, Allah swt menggambarkan kondisi amal perbuatan orang-orang kafir dan mereka yang berpaling dari kebenaran melalui perumpamaan samudra yang sangat dalam:
أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ
“Atau (keadaan orang-orang kafir itu) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada awan (gelap); gelap gulita yang bertindih-tindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, dia hampir tidak dapat melihatnya. Barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.” (QS. An-Nur: 40)
Penggunaan kata bahrin lujjiyy—lautan yang dalam dan bergejolak—bukan sekadar pemilihan diksi puitis. Kata lujjiy berakar dari kata lijaj, yang bermakna sikap keras kepala, perselisihan bertubi-tubi, dan pengulangan perdebatan tanpa henti. Sebagaimana gelombang samudra yang saling berbenturan dan menyapu permukaan tanpa jeda, demikian pula ego manusia yang keras kepala terus menghempaskan gelombang ilusi dan penolakan terhadap kebenaran.
Sains Kedalaman dan Penggelapan Jiwa
Penelitian oseanografi modern mengonfirmasi kebenaran faktual di balik perumpamaan ini. Di kedalaman laut melebihi 200 hingga 1.000 meter, cahaya matahari habis terserap oleh lapisan air. Pembiasan cahaya oleh ombak permukaan, ditambah keberadaan gelombang internal (internal waves) di dalam kedalaman samudra serta awan tebal di angkasa, benar-benar menciptakan pekat yang absolut. Para ilmuwan mencatat bahwa di kedalaman ini, kegelapan menjadi begitu pekat hingga makhluk hidup tidak lagi dapat melihat bagian tubuhnya sendiri tanpa bantuan bioluminesensi.
Secara metafisis, fenomena alam ini adalah cermin bagi kondisi mental dan spiritual. Mengapa amalan orang-orang yang menutup diri dari hakikat disamakan dengan lautan gelap, alih-alih sekadar ruang tanpa lampu? Ada dua alasan mendasar: kedalaman itu sendiri dan fenomena pemecahan cahaya. Keangkuhan dan bias pemikiran bertindak seperti ombak bertingkat yang membiaskan cahaya kebenaran, mencegahnya menembus dasar hati. Ditambah lagi awan tebal berupa dorongan hawa nafsu dan kesombongan materialistis, lengkap sudah penghalang itu.
Ketika kegelapan bertumpuk di atas kegelapan—zhulumatun ba’dhuha fauqa ba’dh—manusia sampai pada titik di mana ia menjulurkan tangannya sendiri tepat di depan matanya, namun tidak lagi mampu melihatnya. Ini adalah alegori mengenai kehabisan kesadaran diri: manusia yang kehilangan kemampuan mengevaluasi niat dan moralitas tindakannya sendiri.
Anatomi Kejahilan Berlapis
Tafsiran mendalam terhadap frase “kegelapan bertindih-tindih” mengungkapkan potret tragis psikologi manusia modern. Kegelapan ini bukan sekadar ketiadaan pengetahuan, melainkan struktur kejahilan yang memiliki tiga tingkatan.
Tingkat pertama adalah ketiadaan ilmu—sebuah ketidaktahuan polos karena belum tersentuh petunjuk. Ini adalah ketidaktahuan yang relatif mudah disembuhkan dengan belajar dan keterbukaan pikiran. Namun, tingkat kedua jauh lebih berbahaya: ketidaktahuan bahwa dirinya tidak tahu (jahl murakkab). Manusia pada level ini berada dalam ilusi kepintaran, menganggap ketidakpahamannya sebagai sebuah kebenaran mutlak.
Puncak dari kegelapan ini adalah tingkat ketiga: keyakinan palsu bahwa dirinya sedang berbuat baik dan membawa perbaikan, padahal sejatinya sedang melakukan kerusakan. Keadaan tragis ini diabadikan secara tajam dalam Surah Al-Kahf ayat 104:
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“(Yaitu) orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahf: 104)
Di sinilah letak bahaya terbesar bagi peradaban manusia. Ketika seorang pelanggar hukum merasa dirinya adalah penyelamat, ketika seorang pemanipulasi merasa tindakannya adalah strategi cerdas, atau ketika seorang egois merasa tindakannya demi kebaikan bersama—mereka telah tenggelam dalam kedalaman bahrin lujjiyy. Keyakinan palsu ini menutupi hati nurani, membuat mereka kebal terhadap nasihat dan kritik.
Takdir, Ikhtiar, dan Kebersihan Cermin Hati
Pertanyaan filosofis yang kerap mengemuka adalah: jika Allah swt menyatakan “Barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun”, apakah ini berarti Allah swt sengaja menyesatkan sebagian manusia secara deterministik? Apakah ini masalah pemaksaan (jabr) atau pilihan bebas (ikhtiar)?
Sunnatullah tidak bekerja secara serampangan. Cahaya Ilahi melimpah tanpa batas di alam semesta, bagai sinar matahari yang menyinari bumi tanpa pilih kasih. Namun, agar sebuah benda dapat memantulkan cahaya, ia membutuhkan permukaan yang siap menerima pantulan tersebut.
Hati manusia adalah cermin. Ketika cermin itu dibiarkan tertutup karat kesombongan, prasangka buruk, kemaksiatan, dan rasa paling benar, maka secara alami cahaya tidak akan sanggup terpantul darinya. Tuhan tidak menolak memberikan cahaya, melainkan manusialah yang menghancurkan kapasitas dirinya sendiri untuk menerima cahaya itu.
Maka, kesadaran akan keterbatasan diri adalah langkah awal menuju kelepasan. Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa yang sarat akan makna ketergantungan eksistensial manusia di hadapan Sang Pencipta:
“Ya Allah, janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau hanya sekedip mata pun.”
(إِلهِي لاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَداً)
Doa ini menggarisbawahi kebenaran mendalam: kesadaran manusia begitu rapuh. Tanpa pimpinan hidayah dan kerendahan hati untuk terus menyuci cermin jiwa, manusia senantiasa terancam terjebak dalam egosentrisme yang membutakan.
Abadi versus Fana: Hikmah Sejarah
Pelajaran sejarah memperlihatkan betapa megahnya bangunan fisik yang didirikan di atas keangkuhan pada akhirnya runtuh menjadi debu tak berharga. Ketika Nabi Muhammad SAW dan para sahabat mendirikan Masjid Nabawi pertama kali di Madinah, struktur itu hanyalah empat dinding sederhana dari batu bata tanah liat, beratap pelepah kurma, dan beralaskan tanah tanpa permadani. Ketika hujan turun, air menembus atapnya.
Namun, karena bangunan itu didirikan di atas fondasi cahaya keimanan dan ketulusan niat, kesederhanaannya memancarkan pengaruh yang mengubah jalannya peradaban dunia. Sebaliknya, istana-istana megah para penguasa zalim yang dibangun di atas penindasan dan kepalsuan—meski menjulang menembus awan—pada akhirnya menjadi puing-puing hampa yang dilupakan zaman.
Ketika tentara Muslim terkepung dalam Perang Khandaq dan harus menggali parit keras yang memecahkan cangkul, Rasulullah SAW memukul batu besar yang menghalangi. Dari percikan api yang keluar saat batu itu pecah, Beliau mengabarkan visi tentang runtuhnya istana-istana Romawi dan Persia. Para munafik saat itu mengejek ramalan tersebut sebagai ilusi semata. Namun sejarah membuktikan: cahaya kebenaran yang diikat dengan keikhlasan senantiasa melintasi batasan waktu, sementara kegelapan kepalsuan akan menelan para pelakunya sendiri.
Pada akhirnya, perumpamaan samudra gelap ini mengajak kita untuk sejenak berhenti dan merenungi kedalaman jiwa kita sendiri. Apakah amal-amal yang kita banggakan selama ini benar-benar memancarkan sinar ketulusan, ataukah ia hanya gugupan ombak di atas lautan ego yang gelap? Di tengah bisingnya dunia modern yang mengagungkan citra luar, menyelam ke dalam hati dan menyuci cermin jiwa dari karat kejahilan adalah satu-satunya jalan agar kita tidak tersesat dalam kegelapan bertumpuk—kegelapan di mana kita bahkan tak mampu lagi mengenali diri kita sendiri.
