ISLAM LIVE – Sebanyak 417 siswa memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Bekasi pada Senin (31/8/2026). Selama 14 hari, mereka akan menjalani pembiasaan kedisiplinan di asrama sebelum memulai kegiatan belajar mengajar secara formal.
“Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa. Tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan untuk belajar dan meraih masa depannya hanya karena kondisi ekonomi atau keterbatasan yang dihadapi,” kata Asep Surya Atmaja, Pelaksana Tugas Bupati Bekasi, di SRT 1.
Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah untuk anak-anak putus sekolah akibat kesulitan ekonomi. Dengan sistem asrama, seluruh siswa akan menjalani pendidikan di luar dan di dalam ruang kelas. Kedisiplinan dan pendidikan karakter menjadi modal utama dalam program ini.
PIC Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi Kementerian Sosial RI, Budi Satriyo, menjelaskan bahwa selama 14 hari MPLS, anak-anak akan diajari berbagai kebiasaan hidup teratur. Kegiatan dimulai dari bangun pagi, salat Subuh bagi yang Muslim, olahraga, mandi, sarapan, hingga masuk kelas.
“Dua minggu, 14 hari. Di situ nanti anak-anak diajari kedisiplinan, misalkan menata kasur, kemudian mencuci, menyetrika, diajari bangun pagi, salat Subuh bagi yang Muslim, olahraga, mandi, sarapan, baru masuk kelas,” ujarnya.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bekasi, Alamsyah, menyampaikan bahwa peserta didik Sekolah Rakyat berasal dari keluarga pada kelompok desil 1 dan desil 2. Sebanyak 427 siswa akan mengikuti pendidikan di SRT 1 Kabupaten Bekasi, berasal dari Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi.
Asep Surya Atmaja menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan hak setiap anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan harus dapat dirasakan oleh seluruh anak bangsa tanpa terkecuali.
“Harapannya anak-anak kita setelah itu bisa menjadi agen perubahan untuk meningkatkan derajat ekonomi dan derajat kesehatan keluarga,” kata Alamsyah.
Dengan konsep sekolah berasrama, program ini diharapkan tidak hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga membentuk anak-anak agar kelak mampu menjadi agen perubahan bagi keluarganya.
