ISLAM LIVE – Mohammad Natsir atau Buya Natsir dikenal sebagai tokoh yang memandang dakwah bukan sekadar menyampaikan ajaran, tetapi juga menumbuhkan harapan akan adanya perubahan pada setiap manusia. Prinsip tersebut diwujudkan dalam kisah ketika ia meminta disiapkan seribu kain sarung untuk para tahanan politik PKI pada tahun 1969.
Peristiwa itu terjadi setelah Buya Natsir mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada tahun 1967. Meski sebelumnya sempat tersingkir pada masa Demokrasi Terpimpin dan berada di kubu yang berseberangan dengan PKI, ia tetap memilih pendekatan dakwah yang mengedepankan optimisme.
Ketika seorang dermawan menganalisis alasan memberikan bantuan kepada para tapol PKI, Buya Natsir menjelaskan bahwa seorang dai memiliki cara pandang yang berbeda dari seorang politikus.
“Tapi kalau seorang Da’i pembawa dakwah, cara berpikirnya lain. Dia bertitik tolak pada pemikiran bahwa: sejahat-jahatnya manusia, ada baik. Benih kebaikan itu seringkali tersimpan, tertutup oleh lapisan kejahatan.”
Prinsip itulah yang mendorongnya tetap memberikan bantuan meskipun muncul keraguan apakah para tahanan benar-benar telah berubah.
Dalam berbagai kesempatan, Buya Natsir juga menegaskan bahwa dirinya tidak menyimpan dendam kepada pihak-pihak yang pernah berseberangan dengannya.
“Tidak ada balas dendam-dendaman. Dan saya tidak benci kepada Sukarno.”
Catatan mengenai bantuan seribu sarung tersebut kemudian diabadikan dalam sejumlah publikasi, termasuk tulisan Buya Natsir di Panji Masyarakat serta buku Belajar dari Partai Masyumi . Terbukti Ahmad Syata, bantuan yang diberikan bahkan mencakup baju koko dan perlengkapan ibadah lainnya.
