Membakar Berhala Modern: Menakar Ulang Arti Kemerdekaan di Era Mutasi Digital

2 views

ISLAM LIVE – Di sebuah sudut peradaban yang riuh oleh kilau gawai dan tumpukan portofolio investasi, manusia modern kerap merasa telah mencapai puncak kemerdekaan. Kita tak lagi melihat lelang manusia di pasar-pasar gelap, pun tak ada lagi rantai besi yang mengikat pergelangan kaki. Namun, benarkah kita telah benar-benar merdeka? Ataukah kita hanya berpindah dari satu jenis perbudakan klasik ke dalam dekapan perbudakan gaya baru yang lebih subtil, mewah, dan mematikan?

Kitab suci Al-Quran seakan telah membaca kecenderungan psikologis ini berabad-abad lampau. Dalam Surah An-Nahl ayat 75, sebuah perumpamaan tajam disodorkan untuk menguji nalar kemanusiaan kita:

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا عَبْدًا مَّمْلُوْكًا لَّا يَقْدِرُ عَلٰى شَيْءٍ وَّمَنْ رَّزَقْنٰهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَ جَهْرًاۗ هَلْ يَسْتَوٗنَۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Allah membuat perumpamaan seorang hamba sahaya di bawah kekuasaan orang lain yang tidak berdaya berbuat sesuatu, dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan. Adakah mereka itu sama? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Ayat ini bukan sekadar catatan sosiologis masa lalu, melainkan potret kontras tentang hakikat pilihan hidup. Di satu sisi, ada figur yang terbelenggu—tak memiliki kuasa atas dirinya sendiri, mandul dalam menentukan pilihan, dan senantiasa mendamba rida dari sang majikan yang tak jarang sama lemahnya. Di sisi lain, berdiri tegak manusia merdeka; jiwa yang dilimpahi anugerah, yang tangannya bebas bergerak untuk membagikan kebaikan kepada dunia, baik dalam senyap malam maupun di bawah terik matahari.

Melalui metafora ini, teks klasik tersebut hendak menguliti perilaku para penyembah berhala. Sungguh sebuah ironi psikologis ketika manusia yang berakal sehat justru menyerahkan kedaulatan jiwanya kepada entitas yang tidak bisa menyelesaikan masalah apa pun. Mereka menyembah sesuatu yang bahkan untuk membela diri sendiri dari kehancuran pun tidak mampu.

Baca Juga:  "Tabattul": Hidup di Tengah Dunia, Tanpa Menjadi Milik Dunia

Jika kita membawa diskursus ini ke panggung modern, wajah perbudakan itu telah berevolusi menjadi apa yang disebut sebagai al-ubudiyyah al-mutathawwirah—perbudakan yang bermutasi. Hari ini, berhala tidak lagi berbentuk patung batu atau kayu yang dipahat secara kasar. Berhala hari ini menjelma dalam bentuk akumulasi materi, syahwat kekuasaan, status sosial, dan heroisme semu di media sosial. Manusia modern rela menghambakan seluruh waktu, pikiran, dan kesehatan mentalnya demi memuaskan “majikan-majikan” baru ini.

Ada sebuah kisah simbolis dari riwayat klasik Ibnu Abbas ra yang menggambarkan bagaimana materi mulai mengintervensi kebebasan spiritual manusia. Dikisahkan bahwa ketika sekeping dirham dan dinar pertama kali dicetak dan turun ke bumi, iblis mengambilnya, menciumnya, lalu meletakkannya di atas matanya. Iblis kemudian mendekap uang itu ke dadanya dan berseru kegirangan:

“Kalian adalah penyejuk hatiku dan buah dadaku. Aku tidak peduli lagi jika anak cucu Adam tidak menyembah berhala batu, asalkan mereka mau menyembahmu dan mencintaimu.”

Jeratan materi inilah yang hari ini menggerakkan roda keserakahan global. Para penguasa industri senjata, misalnya, dengan dingin memicu konflik dan menumpahkan darah di berbagai belahan dunia hanya demi menjaga agar pabrik-pabrik mesiu mereka tetap mengepulkan asap keuntungan. Bukankah itu bentuk nyata dari penyembahan berhala ekonomi yang paling keji? Mereka mengira diri mereka merdeka, padahal sejatinya mereka adalah tawanan dari tumpukan kekayaan mereka sendiri.

Namun, sejarah juga mewariskan oase pemikiran tentang bagaimana menjaga integritas jiwa di tengah impitan belenggu fisik. Ambil contoh kisah Nabi Yusuf as. Ketika dikurung di dalam penjara penguasa Mesir akibat menolak bersujud pada syahwat dan godaan sang majikan wanita, Nabi Yusuf as justru mendefinisikan ulang makna kebebasan. Baginya, jeruji besi jauh lebih membebaskan ketimbang kamar mewah yang menuntutnya menggadaikan kesucian jiwa. Penjara fisik menjadi ruang merdeka karena di sanalah dia bebas menghamba hanya kepada Yang Maha Esa.

Baca Juga:  Kebun yang Hangus di Senja Usia — Ketika Amal Hancur oleh Api yang Tak Terlihat

Refleksi tentang kemerdekaan sejati ini mengalir pula dalam ketegasan Khalifah Ali bin Abi Thalib as ketika memegang tampuk kekuasaan. Suatu hari, saudara kandungnya sendiri, Aqil, datang membawa keluh kesah kemiskinan dan meminta jatah lebih dari kas negara (Baitul Maal). Aqil mengira hubungan darah bisa melunakkan aturan hukum.

Bukannya memberikan dinar, Ali justru memanaskan sepotong besi hingga memerah, lalu mendekatkannya ke tubuh Aqil. Ketika Aqil menjerit ketakutan, Ali berkata dengan nada reflektif yang menggetarkan:

“Wahai Aqil, engkau menangis hanya karena sepotong besi yang dipanaskan oleh manusia untuk permainan, sementara engkau hendak menyeret aku ke dalam api yang dinyalakan oleh Sang Pencipta untuk kemurkaan-Nya?”

Lewat peristiwa itu, Imam Ali as menegaskan bahwa seorang pemimpin yang merdeka adalah ia yang tidak bisa didikte oleh nepotisme, tekanan sosial, atau rasa iba yang menabrak keadilan.

Pada akhirnya, membaca kembali risalah tentang hamba sahaya dan manusia merdeka ini memaksa kita untuk bercermin. Kemerdekaan sejati bukanlah ketika kita bebas melakukan apa saja tanpa batas, melainkan ketika kita memiliki kekuatan internal untuk berkata “tidak” pada segala bentuk tirani yang ingin menguasai hati kita.

Selama kita masih gemetar kehilangan jabatan, cemas kekurangan materi, atau rela mengorbankan prinsip demi pujian sesama, maka di balik pakaian mewah yang kita kenakan, kita masih membawa mentalitas seorang budak. Sudah saatnya kita menyalakan api kesadaran, membakar berhala-berhala modern itu, dan melangkah keluar sebagai manusia yang benar-benar merdeka di bawah naungan Sang Pencipta.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA