ISLAM LIVE– Bayangkan seseorang yang tampak biasa saja, tetapi mampu menghadapi beban besar yang membuat orang lain runtuh. Ia tidak selalu paling cerdas, tidak selalu paling kuat, bahkan sering berdiri sendirian. Namun ada sesuatu yang membuatnya tetap tegak. Dalam bahasa Al-Qur’an, keadaan semacam itu disebut dengan satu kata yang kaya makna: ayyada; menguatkan, menopang, meneguhkan.
Di tengah dunia yang mengagungkan kemampuan individu, konsep ini menawarkan sudut pandang yang berbeda. Bahwa tidak semua kekuatan berasal dari diri sendiri. Ada saat-saat ketika manusia mampu melampaui batas kemampuannya karena memperoleh dukungan yang lebih besar daripada sekadar tenaga, kecerdasan, atau sumber daya material.
Al-Qur’an menggunakan kata ini ketika berbicara tentang Nabi Isa a.s, Allah berfirman:
أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ
“Aku menguatkan engkau dengan Ruhul Qudus” (QS. Al-Ma’idah: 110)
Kata ayyadtuka berasal dari akar kata al-aid, yang berarti kekuatan yang sangat kuat, daya yang kokoh, atau kemampuan yang menopang seseorang agar tetap berdiri menghadapi tantangan. Para ahli bahasa Arab menjelaskan bahwa kata ini bukan sekadar menunjukkan adanya bantuan, melainkan bantuan yang membuat seseorang menjadi lebih kuat dari keadaan normalnya.
Makna ini menarik. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memahami pertolongan sebagai sesuatu yang datang dari luar: uang, jabatan, jaringan, atau dukungan massa. Namun konsep ta’yid penguatan ilahi berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar. Ia adalah kekuatan yang bekerja dari dalam, membuat seseorang mampu bertahan ketika alasan untuk menyerah justru lebih banyak.
Al-Qur’an kembali menggunakan istilah yang sama dalam ayat lain:
وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ
“Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa saja yang Dia kehendaki” (QS. Ali Imran: 13)
Menariknya, ayat ini tidak hanya berbicara tentang kemenangan. Ia berbicara tentang penguatan. Sebab kemenangan sering kali merupakan hasil akhir, sedangkan penguatan adalah proses yang terjadi jauh sebelumnya. Seseorang mungkin belum menang, tetapi ia sudah diperkuat untuk menghadapi perjuangan.
Dalam sejarah, banyak tokoh besar yang mengalami fase semacam ini. Mereka menghadapi tekanan sosial, ancaman politik, atau kesendirian yang panjang. Secara kasat mata mereka tampak lemah. Namun ada daya yang membuat mereka tetap melangkah. Dalam bahasa Al-Qur’an, daya itulah yang disebut ta’yid.
Akar kata yang sama juga muncul dalam ayat yang berbicara tentang penciptaan langit:
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuatan” (QS. Adz-Dzariyat: 47)
Di sini kata aidin tidak berarti tangan sebagaimana dipahami secara harfiah, melainkan kekuatan dan kemampuan yang luar biasa. Langit menjadi simbol keteraturan kosmos yang berdiri di atas daya dan kekuasaan Tuhan.
Dari sini tampak bahwa konsep kekuatan dalam Al-Qur’an tidak selalu berkaitan dengan otot atau dominasi. Kekuatan adalah kemampuan untuk menopang, menjaga, dan mempertahankan sesuatu agar tetap berada pada jalurnya. Langit berdiri karena kekuatan itu. Para nabi menjalankan misinya karena kekuatan itu. Bahkan manusia biasa dapat bertahan menghadapi ujian hidup karena kekuatan yang sama.
Bahasa Arab juga mengenal kata iyad, yang berarti penyangga atau pelindung. Sesuatu yang mencegah benda lain jatuh atau rusak. Makna ini memberikan gambaran yang indah tentang bagaimana pertolongan bekerja. Tidak selalu berupa dorongan ke depan, tetapi terkadang berupa penahan agar kita tidak terjatuh lebih jauh.
Mungkin inilah yang sering luput dalam cara kita memahami keberhasilan. Kita terlalu fokus pada faktor-faktor yang terlihat. Kita mengukur kekuatan dari jumlah pengikut, saldo rekening, atau posisi sosial. Padahal ada kekuatan lain yang tidak selalu tampak. Ketenangan di tengah krisis. Kesabaran saat menghadapi penghinaan. Kemampuan untuk tetap jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan. Semua itu adalah bentuk kekuatan yang tidak dapat dihitung dengan angka.
Menariknya, para ahli bahasa juga mengaitkan pembahasan ini dengan kata lain yang muncul dalam Ayat Kursi:
وَلَا يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا
“Memelihara keduanya tidak memberatkan-Nya” (QS. Al-Baqarah: 255)
Kata ya’uduhu berasal dari akar yang bermakna beban yang berat. Sesuatu yang membuat seseorang merasa letih karena harus menanggungnya. Dalam penggunaan bahasa Arab kuno, akar kata ini bahkan dapat menggambarkan batang pohon yang melengkung karena terlalu berat memikul beban.
Kontrasnya sangat jelas. Manusia sering kali membungkuk oleh beratnya tanggung jawab. Kita kelelahan oleh pekerjaan, hubungan, ambisi, dan berbagai tuntutan hidup. Namun Al-Qur’an menggambarkan bahwa seluruh alam semesta berada dalam pemeliharaan Tuhan tanpa sedikit pun memberatkan-Nya.
Di titik inilah pesan spiritual dari kata ayyada menemukan relevansinya bagi manusia modern. Kita hidup di zaman yang dipenuhi tekanan untuk selalu kuat. Media sosial menampilkan citra manusia yang seolah mampu mengendalikan segalanya. Kegagalan dianggap kelemahan. Ketergantungan dianggap aib.
Padahal bahasa wahyu mengajarkan hal yang berbeda. Bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk berdiri sendirian, melainkan kesediaan untuk menerima penguatan dari sumber yang lebih besar daripada diri sendiri. Manusia memang harus berusaha, bekerja, dan berjuang. Tetapi pada akhirnya ada batas yang tidak dapat ditembus hanya dengan kemampuan pribadi.
Mungkin karena itu, orang-orang yang paling kuat sering kali bukan mereka yang tidak pernah jatuh. Mereka adalah orang-orang yang, setelah jatuh berkali-kali, masih menemukan alasan untuk bangkit. Seolah ada tangan tak terlihat yang menopang mereka dari dalam.
Dalam bahasa Al-Qur’an, itulah ta’yid: kekuatan yang tidak selalu tampak, tetapi membuat seseorang tetap berdiri ketika beban kehidupan seharusnya telah membuatnya roboh. Sebuah pengingat bahwa di balik segala kemampuan manusia, selalu ada kemungkinan hadirnya pertolongan yang mengubah kelemahan menjadi keteguhan dan keterbatasan menjadi daya tahan yang luar biasa.
