ISLAM LIVE— Ada satu ilusi yang diam-diam kita pelihara setiap hari: bahwa waktu masih panjang, bahwa hidup bisa diatur ulang kapan saja. Kita menunda, merencanakan ulang, bahkan menenangkan diri dengan kalimat sederhana “nanti saja.” Padahal, dalam satu kata tua yang berulang kali disebut dalam Al-Qur’an “ajal” tersimpan kenyataan yang jauh lebih tegas: hidup ini sudah diberi batas, dan batas itu tidak pernah menunggu kesiapan kita.
Al-Qur’an menyebut dengan lugas:
لِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى
“Agar kamu mencapai waktu yang telah ditentukan.” (QS. Ghafir: 67)
Kalimat itu terdengar sederhana, hampir datar. Tapi justru di situlah ketajamannya. Hidup bukan perjalanan tanpa ujung; ia adalah lintasan yang mengarah pada satu titik yang sudah ditentukan sejak awal.
Dalam bahasa Arab klasik, ajal berarti durasi yang telah dipatok. Bukan sekadar “akhir”, melainkan rentang waktu yang diam-diam membingkai seluruh kehidupan. Karena itu, istilah ini juga dipakai dalam urusan sehari-hari, misalnya pada utang yang ditangguhkan, mu’ajjal, yang memiliki jatuh tempo. Kita boleh menunda pembayaran, tetapi tidak bisa menghapus tanggalnya.
Begitulah hidup bekerja: bukan soal apakah ia akan berakhir, melainkan kapan.
Ketika seseorang berkata, “ajalnya telah dekat,” itu bukan sekadar ungkapan puitis. Itu adalah kesadaran bahwa seseorang sedang mendekati batas yang sejak awal sudah ditetapkan. Dalam satu gambaran Al-Qur’an, manusia kelak mengakui:
بَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا
“Kami telah sampai pada waktu yang Engkau tetapkan bagi kami” (QS. Al-An‘am: 128)
Sebuah pengakuan yang sering datang terlambat ketika waktu itu benar-benar habis.
Namun, konsep ajal tidak sesederhana satu garis lurus. Teks klasik membuka kemungkinan bahwa manusia hidup dalam dua lapis waktu. Al-Qur’an menyebut:
ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِندَهُ
“Kemudian Dia menetapkan satu ajal, dan ada ajal lain yang ditentukan di sisi-Nya” (QS. Al-An‘am: 2)
Sebagian ulama memahami yang pertama sebagai masa hidup di dunia, dan yang kedua sebagai kehidupan setelah kematian. Ada pula yang memaknainya lebih subtil: yang pertama adalah kehidupan sadar, sementara yang kedua adalah “kematian kecil” yang kita alami setiap kali tidur.
Isyaratnya hadir dalam ayat lain:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا
“Allah mengambil jiwa saat kematiannya, dan juga saat tidurnya bagi yang belum mati” (QS. Az-Zumar: 42)
Tidur, dalam perspektif ini, bukan sekadar istirahat biologis. Ia adalah jeda yang menyerupai kematian, latihan yang kita jalani setiap malam tanpa pernah benar-benar kita sadari.
Dari sini, ajal tidak lagi terasa jauh. Ia hadir dalam ritme harian kita, menyelinap dalam sesuatu yang paling biasa.
Namun kehidupan tidak hanya soal kapan berakhir, melainkan juga bagaimana ia berakhir. Sebagian manusia menemui ajalnya melalui sebab-sebab yang tampak: kecelakaan, penyakit, bencana. Sebagian lain hidup panjang, seolah dijaga dari banyak hal, hingga akhirnya meninggal secara alami.
Ungkapan klasik merangkum dengan getir: siapa yang luput dari panah musibah, tidak akan luput dari panah kematian.
Ada pula jenis kematian yang dalam teks disebut ‘abthan “kematian mendadak”, tanpa sebab yang jelas, ketika seseorang masih sehat dan muda. Kata ini awalnya digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang diputus tanpa alasan, lalu dipinjam untuk melukiskan hidup yang terhenti tanpa tanda.
Sebaliknya, ada yang dibiarkan menua hingga mencapai fase yang oleh Al-Qur’an digambarkan sebagai titik paling rapuh:
وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ
“Sebagian kamu diwafatkan, dan sebagian lain dikembalikan ke usia paling lemah” (QS. Al-Hajj: 5)
Di titik itu, manusia perlahan kehilangan kekuatan dan ingatan, seolah hidup ditarik kembali menuju awalnya.
Dua jalan ini; kematian mendadak dan kematian karena usia sering terasa berbeda secara emosional. Namun dalam kerangka ajal, keduanya hanyalah variasi dari satu kepastian.
Seorang penyair Arab kuno pernah menulis: kematian berjalan tanpa arah; siapa yang terkena, ia mati, dan siapa yang luput, ia akan hidup hingga menua. Penyair lain menambahkan: siapa yang tidak mati tiba-tiba, ia akan mati karena usia tua, karena setiap manusia akan meminum cawan kematian.
Kalimat-kalimat itu terdengar seperti gema dari satu ide besar: tidak ada yang benar-benar keluar dari lingkaran ini.
Menariknya, ajal juga memiliki makna lain yang lebih luas. Ia bisa berarti sebab atau konsekuensi. Dalam Al-Qur’an, ketika disebut:
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا…
“Karena itu Kami menetapkan…” (QS. Al-Ma’idah: 32)
kata ajal hadir dalam makna “karena” atau “akibat”. Seolah ingin mengatakan bahwa setiap akhir tidak berdiri sendiri; ia terhubung dengan rangkaian sebab yang mendahuluinya.
Makna ini terasa dalam kehidupan sosial. Dalam hukum perceraian, misalnya, Al-Qur’an menggunakan istilah ajal untuk menyebut masa tunggu, periode antara perpisahan dan kebebasan penuh seseorang untuk menentukan langkah berikutnya:
فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ
“Ketika mereka telah sampai pada masa waktunya…” (QS. Al-Baqarah: 231)
Ini bukan sekadar jeda administratif. Ia adalah waktu yang diberi makna ruang untuk merenung, menimbang, dan menata ulang kehidupan.
Di sinilah ajal menjadi lebih dari sekadar batas. Ia adalah disiplin waktu yang mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa dipercepat.
Ironisnya, di zaman sekarang, justru batas inilah yang paling sering kita abaikan. Kita hidup dalam budaya yang memuja kecepatan dan menolak jeda. Kita ingin segalanya instan, termasuk masa depan.
Padahal ajal berdiri sebagai pengingat paling sunyi: ada garis yang tidak bisa kita lewati, sekeras apa pun kita berusaha.
Dan mungkin justru di situlah letak kejujurannya.
Karena jika hidup memang memiliki batas yang tak bisa dinegosiasikan, maka pertanyaannya bukan lagi bagaimana memperpanjangnya tanpa akhir. Pertanyaannya bergeser: bagaimana mengisinya sebelum ia selesai.
Ajal, pada akhirnya, bukan sekadar tentang kematian. Ia adalah tentang hidup yang sedang berjalan menuju titiknya, diam-diam, pasti, dan tanpa pernah menunggu kita siap.
