ISLAM LIVE — Sutradara film dokumenter sekaligus pendiri Watchdoc, Dandhy Dwi Laksono, kembali menyita perhatian publik lewat karya terbarunya yang berjudul “Pesta Babi”. Film yang menyoroti kondisi sosio-politik di Tanah Papua ini sukses memicu perbincangan hangat di media sosial.
Nama Dandhy Laksono sendiri sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia, terutama sejak film Sexy Killers meledak pada tahun 2019 lalu. Sejak saat itu, karya-karya investigasinya selalu dinantikan oleh audiens yang terus bertambah besar. Lantas, apa yang membuat Dandhy memilih Papua sebagai fokus investigasi jurnalistiknya kali ini?
Papua Seperti ‘Aceh Tanpa Liputan’
Dalam wawancara di kanal YouTube Bocor Alus Politik milik Tempo yang dipandu oleh Raymundus Rikang dan Hussein Abri, Dandhy mengungkapkan alasannya. Ia secara gamblang membandingkan kondisi Papua saat ini dengan konflik politik dan darurat militer yang pernah terjadi di Aceh.
“Melihat Papua itu kayak Aceh tanpa liputan, tanpa coverage. Dan level masalahnya berlipat-lipat dibanding Aceh,” ujar Dandhy dalam podcast tersebut, dikutip Minggu (17/5).
Menurut Dandhy, skala masalah di Papua jauh lebih masif namun minim mendapat sorotan kamera jurnalis.
“Deforestasinya, isu agrarianya, perampasan lahannya, operasi militernya, dan ada gelombang pengungsinya juga. Skala masalahnya lebih gede, tapi coverage-nya dikit banget,” tambahnya.
Secara garis besar, film dokumenter Pesta Babi memang menguliti tiga isu krusial di Papua: masifnya industri ekstraktif, krisis ketahanan pangan, dan cengkeraman militerisme.
Isu Krusial Papua yang Luput dari Algoritma Berita
Lebih lanjut, Dandhy membeberkan sejumlah data mencengangkan tentang Papua yang jarang masuk dalam headline media massa maupun algoritma media sosial. Salah satunya adalah proyek pembukaan hutan (deforestasi) terbesar di dunia.
“Ada proyek pembukaan hutan terbesar di dunia saat ini hingga mencapai 2,5 juta hektar, sampai harus mengadakan 2.000 ekskavator,” ungkap Dandhy.
Selain kerusakan lingkungan, sisi kemanusiaan di Papua juga berada dalam kondisi darurat. Dandhy menyebut ada sekitar 107 ribu orang pengungsi akibat konflik bersenjata aktif yang terus menelan korban jiwa, namun isu ini seolah tenggelam.
Respons Dandhy Laksono Soal Isu Pendanaan George Soros
Proses pembuatan film dokumenter Pesta Babi sendiri memakan waktu yang cukup lama, yakni sekitar tiga tahun. Dandhy mengaku lamanya proses ini disebabkan karena keterbatasan logistik yang dikerjakan secara sukarela secara mandiri oleh timnya.
Menariknya, dalam podcast tersebut, jurnalis Tempo Hussein Abri sempat menyentil isu sensitif mengenai rumor aliran dana dari lingkaran miliarder dunia, George Soros, di balik karya-karya Watchdoc.
Menanggapi tuduhan tersebut, Dandhy memilih menjawabnya menggunakan pendekatan metode pembuktian (epistemologi), alih-alih sekadar membantah.
“Saya gak perlu menjawab karena itu bisa disebut benar dan bohong, atau berkilah dan enggak. Tapi saya menjawabnya pakai epistemologi aja, pakai metode untuk mengecek,” jawab Dandhy tenang.
Bagi Dandhy, bantahan verbal tidak akan mengubah keyakinan orang yang sudah telanjur sinis. Ia justru menantang logika berpikir para pengkritiknya lewat modal besar yang diisukan tersebut.
“Kalau saya jawab enggak, orang juga bisa bilang ‘ah bohong’. Bukan itu poinnya. Yang percaya akan percaya, yang enggak percaya akan enggak percaya. Yang mau saya katakan adalah kalau itu premisnya (didukung dana besar), maka tadi, duit yang lebih gede harusnya akan bisa melakukan hal yang serupa,” pungkasnya.
