ISLAM LIVE— Ada kata-kata yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan kedalaman yang sulit dijangkau oleh pengalaman manusia. Salah satunya adalah “abadi”. Kita mengucapkannya dengan ringan seperti cinta abadi, hukuman abadi, kebahagiaan abadi. Seolah kita benar-benar memahami panjangnya waktu yang kita maksud. Padahal, dalam tradisi bahasa Arab klasik, kata abaḍ أبد bukan sekadar tentang “lama”, melainkan sesuatu yang melampaui batas waktu itu sendiri.
Al-Qur’an menggunakan kata ini ketika menggambarkan keadaan akhir manusia:
خالدين فيها أبداً
mereka tinggal di dalamnya “selama-lamanya”
Khālidīna fīhā abadā, ungkapan ini bukan sekadar penegasan durasi, melainkan penegasan keadaan yang tidak akan berakhir. Ia bukan waktu yang panjang, melainkan waktu yang tak lagi bisa diukur.
Dalam pemahaman klasik, abaḍ bukanlah “waktu” dalam arti biasa. Ia tidak bisa dipotong, tidak bisa dihitung dalam unit seperti hari atau tahun. Kita bisa mengatakan “zaman ini” atau “masa itu”, tetapi tidak lazim mengatakan “abadi ini” atau “abadi itu”. Sebab abaḍ berdiri di luar cara kita memahami waktu sebagai rangkaian yang bisa dibagi. Ia adalah bentangan tanpa tepi.
Menariknya, para ulama bahasa mencatat bahwa secara logika, kata ini seharusnya tidak memiliki bentuk jamak. Bagaimana mungkin sesuatu yang tanpa batas bisa digandakan? Namun dalam praktik bahasa, muncul bentuk seperti ābād (jamak dari abaḍ). Ini bukan karena ada banyak “keabadian”, melainkan karena manusia mencoba meminjam konsep itu untuk menggambarkan berbagai jenis keberlangsungan yang sangat panjang. Seperti ketika kita menyebut “lautan” dalam banyak bentuk, padahal airnya satu dan tak terpisah.
Di sinilah terlihat satu hal: manusia selalu berusaha menaklukkan yang tak terbayangkan dengan bahasa yang terbatas.
Kata abaḍ juga melahirkan turunan makna yang lebih membumi. Dalam bahasa Arab ketika dikatakan sesuatu “ta’abbada”, itu berarti ia bertahan sangat lama, seolah tak berubah oleh waktu. Namun dalam penggunaan lain, kata ini justru bergerak ke arah yang berbeda: menggambarkan sesuatu yang menjadi liar, terlepas dari keteraturan. Seekor unta yang “ta’abbada” bukan berarti hidup selamanya, tetapi menjadi liar seperti binatang buas. Wajah seseorang yang “ta’abbada” bisa berarti berubah karena kemarahan atau keterasingan.
Peralihan makna ini bukan kebetulan. Ada benang halus yang menghubungkannya: sesuatu yang terlalu lama atau terlalu jauh dari keteraturan manusia akan tampak asing, liar, bahkan menakutkan. Keabadian, dalam arti tertentu, adalah wilayah yang tidak lagi manusiawi.
Di titik ini, kita mulai bisa memahami mengapa Al-Qur’an menggunakan kata abaḍ dengan sangat hati-hati. Ketika ia berbicara tentang surga atau neraka sebagai tempat tinggal “selama-lamanya”, yang ingin ditekankan bukan sekadar durasi, tetapi kepastian. Tidak ada akhir, tidak ada jeda, tidak ada kemungkinan keluar dari keadaan itu.
Dalam sebuah hadis, Nabi Saw pernah menggambarkan keadaan penghuni surga: “mereka tidak akan mati, tidak akan sakit, dan tidak akan mengalami kehancuran.” Gambaran ini bukan hanya tentang kenikmatan, tetapi tentang stabilitas total, sesuatu yang tidak pernah kita alami di dunia. Sebab dunia, dengan segala isinya, berdiri di atas perubahan. Segala yang hidup akan mati, segala yang baru akan usang.
Maka ketika konsep keabadian hadir, ia seperti membelah cara kita memandang hidup. Kita dipaksa bertanya: jika segala sesuatu di dunia ini sementara, lalu apa yang benar-benar layak kita kejar?
Di zaman modern, kata “abadi” sering mengalami penyempitan makna. Ia menjadi slogan yang dipakai dalam iklan, dalam janji politik, dalam ungkapan cinta. Tetapi justru di situ letak problemnya. Ketika sesuatu yang fana diberi label abadi, kita sedang menciptakan ilusi. Kita menuntut dari dunia sesuatu yang memang tidak dirancang untuk memberikannya.
Padahal, tradisi klasik mengajarkan sebaliknya: keabadian bukan milik dunia. Ia adalah cakrawala yang berada di luar jangkauan pengalaman sehari-hari. Dunia hanyalah lintasan, bukan tujuan.
Kesadaran ini seharusnya tidak membuat kita menjauh dari kehidupan, tetapi justru menajamkan cara kita menjalaninya. Jika segala sesuatu akan berlalu, maka nilai sebuah tindakan tidak terletak pada lamanya ia bertahan, melainkan pada maknanya. Sebuah kebaikan kecil bisa memiliki gema yang panjang, bahkan melampaui usia pelakunya.
Di sisi lain, konsep abaḍ juga mengandung peringatan yang halus. Jika ada keadaan yang bisa berlangsung selamanya, maka pilihan kita di dunia ini tidaklah netral. Ia memiliki konsekuensi yang tidak berhenti di batas kematian. Dalam bahasa Al-Qur’an, kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, sementara kehidupan akhirat adalah yang sebenarnya; yang menetap.
Namun, alih-alih menjadikannya ancaman, para ulama klasik sering membacanya sebagai undangan untuk berpikir lebih dalam. Keabadian bukan sekadar tentang hukuman atau ganjaran, tetapi tentang arah. Ke mana hidup ini bergerak? Apa yang kita bangun dari waktu yang terbatas ini?
Pada akhirnya, abaḍ mengajarkan kita satu hal yang sederhana tetapi sulit diterima: bahwa tidak semua hal bisa kita miliki selamanya. Dan justru karena itulah, hidup menjadi bermakna. Keterbatasan waktu membuat setiap pilihan menjadi penting, setiap momen menjadi berharga.
Keabadian, dalam pengertian ini, bukan sesuatu yang bisa kita genggam sekarang. Ia adalah sesuatu yang kita persiapkan melalui cara kita hidup, cara kita memaknai waktu dan cara kita menempatkan diri di tengah dunia yang terus berubah.
Mungkin kita tidak pernah benar-benar memahami apa itu “selama-lamanya”. Tetapi justru dalam ketidaktahuan itu, kita diingatkan: bahwa hidup ini bukan tentang berapa lama kita bertahan, melainkan kemana kita akan berlabuh setelah waktu berhenti menghitung?
