ISLAM LIVE – Serangan Houthi terhadap bandara di Riyadh, Arab Saudi, mengganggu operasional penerbangan di ibu kota tersebut. Data perusahaan analitik penerbangan Cirium menunjukkan 99,7 persen penerbangan terjadwal di Bandara Internasional King Khalid dibatalkan pada Minggu (11/10/2026), sementara sekitar 60 persen penerbangan dijadwalkan batal pada Senin (12/10/2026).
Menurut laporan Reuters, langit di atas Riyadh relatif sepi pada Senin setelah serangkaian serangan yang diklaim dilakukan kelompok Houthi dari Yaman. Bandara Internasional King Khalid merupakan bandara tersibuk kedua di Arab Saudi setelah bandara di Jeddah.
Perkiraan pembatalan penerbangan pada Senin berbeda menurut sumber data. Cirium memperkirakan sekitar 60 persen penerbangan terjadwal tidak beroperasi, sedangkan situs pelacakan penerbangan FlightRadar24 memperkirakan pembatalan di Bandara Riyadh mencapai sekitar 78 persen. Lebih dari sepertiga penerbangan terjadwal di seluruh Arab Saudi juga diperkirakan tidak beroperasi pada hari yang sama.
Serangan yang terjadi pada Minggu menewaskan satu orang dan melukai hampir selusin orang lainnya. Peristiwa itu menyusul serangan sehari sebelumnya yang diklaim Houthi, yang menewaskan 13 orang dan menyebabkan lebih dari 300 orang terluka.
Gangguan tersebut menjadi salah satu disrupsi paling signifikan terhadap penerbangan sipil Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah maskapai dari Eropa dan Asia menghentikan layanan penerbangan, sementara Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) pada Minggu meminta maskapai AS meningkatkan kewaspadaan saat terbang menuju atau melintasi wilayah udara Arab Saudi.
Lufthansa Group membatalkan seluruh penerbangan menuju Riyadh hingga 16 Oktober. Sementara itu, Air France-KLM memperpanjang penghentian sementara layanan penerbangan dari dan menuju ibu kota Arab Saudi hingga akhir Oktober.
Gangguan ini menunjukkan dampak serangan terhadap konektivitas udara internasional, terutama ketika maskapai menyesuaikan operasional dengan risiko keselamatan penerbangan. Namun, tingkat pembatalan dan durasi penghentian layanan dapat berbeda menurut maskapai, rute, serta perkembangan situasi keamanan.
