ISLAM LIVE – Pengelolaan sampah di pesantren besar tidak cukup hanya dengan pengangkutan, tetapi perlu edukasi dan pembentukan sistem pengolahan mandiri berbasis edukasi santri. Gagasan itu menjadi fokus program terobosan yang direncanakan mulai bergulir pada 2027 melalui pilot project di beberapa pesantren berkapasitas besar di Jawa Timur sebelum diterapkan secara meluas.
Anggota Komisi A DPRD Jatim Abdul Qodir menjelaskan, melalui skema pemilahan dari sumbernya, para santri akan dilatih memilah sampah organik dan anorganik secara terstruktur. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan perkebunan internal pesantren atau masyarakat sekitar, sedangkan sampah daur ulang dikelola lebih lanjut. “Jika pemilahan dilakukan langsung oleh santri sebagian menjadi kompos dan sebagian lagi dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna, ini akan jauh lebih baik. Itulah gagasan utama yang ingin kita dorong,” beber Abdul Qodir.
Menurut politikus asal PKB itu, pondok pesantren dengan jumlah santri di atas 1.000 orang dinilai hampir pasti menghadapi kendala operasional terkait penanganan sampah harian. Tanpa sistem penanganan terpadu, penumpukan sampah berpotensi memicu masalah kesehatan lingkungan serta menurunkan kualitas hidup para santri. “Pesantren-pesantren yang santrinya di atas seribu sudah pasti ada problem pengolahan tentang sampah domestik. Pemerintah harus hadir membantu, baik melalui Dinas Lingkungan Hidup maupun skema pelaksanaan lainnya yang relevan,” ujar mantan ketua DPRD Gresik saat dikonfirmasi Kamis (15/10/2026).
Data menunjukkan volume sampah domestik pesantren rata-rata satu orang menghasilkan sekitar 0,5 hingga 0,7 kg sampah per hari. Pada pesantren dengan populasi 1.000 santri, estimasi sampah yang dihasilkan mencapai 500 kg hingga 700 kg per hari. Potensi ekonomi sampah organik cukup besar, sebab sekitar 50–60 persen sampah domestik pesantren merupakan sampah organik berupa sisa makanan, dapur, dan daun. Pengolahan menjadi kompos atau pemanfaatan metode black soldier fly (maggot BSF) dapat mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus menghasilkan nilai ekonomi bagi pesantren.
Program ini sejalan dengan gerakan Eco-Pesantren yang didorong Kementerian Agama dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk membangun kemandirian lingkungan berlandaskan nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan berbasis edukasi santri, pesantren tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran lingkungan dan keterampilan produktif bagi para santri. Intervensi pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup maupun skema lain yang relevan dinilai penting agar program ini berjalan berkelanjutan dan dapat direplikasi ke pesantren lain.
