ISLAM LIVE – Ada satu ayat Al-Qur’an yang sejak lama memantik rasa ingin tahu sekaligus perdebatan panjang: kelahiran Nabi Isa as tanpa ayah. Di era rekayasa genetika, bayi tabung, dan teori evolusi, ayat ini terasa seperti berdiri di tengah persimpangan antara iman dan sains. Apakah kelahiran tanpa ayah mustahil? Atau justru ia membuka cara baru untuk memahami batas pengetahuan manusia?
Kisah kelahiran Nabi Isa as tanpa ayah sering diperdebatkan, dipertanyakan, bahkan dianggap mustahil. Namun Al-Qur’an justru mengajak melihatnya dari sudut pandang yang berbeda: bukan sebagai keajaiban tunggal yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari panorama besar kekuasaan Allah swt yang setiap hari terjadi di sekitar kita.
Al-Qur’an mengajukan sebuah perbandingan yang mengejutkan. Ia menyebut bahwa penciptaan Isa tidak lebih aneh dibandin penciptaan Adam as. Manusia pertama itu bahkan diciptakan tanpa ayah dan tanpa ibu. Dari tanah, lalu menjadi manusia. Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: jika manusia menerima penciptaan Adam, mengapa kelahiran Isa masih dianggap mustahil?
Allah swt berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 59:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah seperti Adam. Dia menciptakannya dari tanah, lalu berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.”
Ayat ini seperti membalik cara berpikir manusia. Biasanya kita mengukur kemungkinan berdasarkan kebiasaan. Sesuatu dianggap mungkin karena sering terjadi, dan dianggap mustahil karena jarang terjadi. Tetapi dalam logika ketuhanan, frekuensi bukan ukuran. Yang menentukan hanyalah kehendak Tuhan.
Di sinilah Al-Qur’an menuntun pembaca memasuki refleksi yang lebih luas: masalahnya bukan pada Isa as, melainkan pada cara manusia memahami kekuasaan Allah swt.
Banyak orang bertanya: bagaimana mungkin manusia lahir tanpa ayah? Pertanyaan ini tampak ilmiah, tetapi Al-Qur’an menjawabnya dengan cara yang tidak konfrontatif. Ia tidak menolak sains, justru memperluas cakrawala berpikir manusia. Jika Allah menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu, maka kelahiran Isa dari ibu tanpa ayah justru lebih mudah dipahami dalam skala kekuasaan Ilahi.
Di titik ini, pembahasan berpindah dari mukjizat menuju konsep kekuasaan Allah swt yang tak terbatas. Dalam logika manusia, kita terbiasa membedakan antara pekerjaan kecil dan pekerjaan besar. Membangun rumah berbeda dengan membangun kota. Membuat pesawat lebih rumit daripada membuat sepeda. Tetapi bagi Allah, tidak ada perbedaan antara yang besar dan yang kecil. Semua berada dalam satu kalimat sederhana: “Kun Fayakun (Jadilah).”
Jika manusia mampu menciptakan teknologi luar biasa—pesawat yang mengangkut ratusan orang melintasi benua, mesin yang mengirim manusia ke luar angkasa—maka betapa sering manusia lupa bahwa tubuhnya sendiri jauh lebih kompleks dari semua teknologi itu. Tubuh manusia adalah “kota kecil” yang hidup: sistem saraf, pencernaan, pernapasan, pendengaran, penglihatan, reproduksi, semuanya bekerja tanpa kita sadari.
Di sinilah suara Imam Ali bin Abi Thalib as menggema dari abad ke-7 melalui Nahjul Balaghah, Khutbah 185. Ia mengajak manusia melihat mukjizat yang paling dekat: dirinya sendiri.
Beliau berkata:
وَلَوْ فَكَّرُوا فِي عَظِيمِ الْقُدْرَةِ وَجَسِيمِ النِّعْمَةِ لَرَجَعُوا إِلَى الطَّرِيقِ، وَلَخَافُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ، وَلَكِنِ الْقُلُوبُ عَلِيلَةٌ، وَالْبَصَائِرُ مَدْخُولَةٌ. أَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى صَغِيرِ مَا خَلَقَ كَيْفَ أَحْكَمَ خَلْقَهُ، وَأَتْقَنَ تَرْكِيبَهُ، وَفَلَقَ لَهُ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ، وَسَوَّى لَهُ الْعَظْمَ وَالْبَشَرَ.
“Seandainya manusia mau merenungkan agungnya kekuasaan Allah swt dan besarnya nikmat-Nya, niscaya mereka akan kembali ke jalan yang benar. Tetapi hati telah sakit dan mata batin tertutup. Tidakkah mereka melihat makhluk kecil sekalipun—bagaimana Allah menyempurnakan penciptaannya, menata susunannya dengan presisi, membelah baginya pendengaran dan penglihatan, serta membentuk tulang dan kulitnya dengan sempurna?”
Lalu Imam Ali as melanjutkan dengan gambaran yang sangat sederhana, tetapi menghentak:
وَانْظُرُوا إِلَى الْإِنْسَانِ الَّذِي يَأْكُلُ بِفَمٍ وَاحِدٍ، وَيَسْمَعُ بِأُذُنَيْنِ، وَيُبْصِرُ بِعَيْنَيْنِ، وَيَتَنَفَّسُ مِنْ مَنْخَرَيْنِ، وَيَتَكَلَّمُ بِلِسَانٍ وَاحِدٍ.
“Perhatikan manusia: ia makan dengan satu mulut, mendengar dengan dua telinga, melihat dengan dua mata, bernapas dengan dua lubang hidung, dan berbicara dengan satu lidah.”
Kalimat ini tampak sederhana, hampir seperti deskripsi anatomi dasar. Tetapi di balik kesederhanaannya tersimpan revolusi cara pandang: tubuh manusia adalah mukjizat yang terus berjalan. Kita hidup di dalam mukjizat setiap detik, tetapi menganggapnya biasa karena terlalu sering terjadi.
Di sisi lain, ada teori penciptaan langsung, ada teori evolusi, ada hipotesis ilmiah yang berubah dari masa ke masa. Menariknya, ayat ini membedakan antara “hukum ilmiah” dan “hipotesis ilmiah”. Hukum lahir dari eksperimen berulang yang stabil; hipotesis adalah dugaan yang masih terbuka untuk berubah. Sejarah sains menunjukkan betapa sering hipotesis diganti oleh temuan baru.
Namun Al-Qur’an mengambil posisi yang unik. Ia tidak menolak pencarian ilmiah, tetapi menempatkannya dalam kerangka yang lebih luas: apa pun mekanismenya, penciptaan tetap berada dalam wilayah kehendak Allah swt. Bahkan jika suatu hari manusia memahami seluruh proses biologis kehidupan, pertanyaan paling mendasar tetap sama: siapa yang memberi hukum itu sendiri?
Di era modern, sains justru membuka kemungkinan yang dahulu dianggap mustahil. Ilmuwan menemukan makhluk yang mampu berkembang biak tanpa pembuahan jantan. Fenomena partenogenesis ini terjadi pada beberapa spesies. Fakta ini tidak membuktikan mukjizat Isa as secara ilmiah, tetapi setidaknya meruntuhkan klaim bahwa kelahiran tanpa ayah adalah sesuatu yang mustahil secara absolut.
Dan di titik itulah pesan ayat ini terasa relevan bagi pembaca masa kini: mukjizat bukan pelanggaran hukum alam, melainkan ekspresi kekuasaan Allah swt yang melampaui pemahaman manusia tentang hukum itu sendiri.
Pada akhirnya, kisah kelahiran Nabi Isa as bukan sekadar cerita teologis. Ia adalah undangan untuk meninjau ulang cara manusia memandang kemungkinan. Yang kita sebut mustahil sering kali hanya berarti belum pernah terjadi di hadapan kita.
Imam Ali as mengingatkan bahwa masalah terbesar manusia bukan kekurangan bukti, melainkan kebiasaan. Kita terbiasa melihat keajaiban hingga ia tampak biasa. Kita terbiasa hidup di dalam mukjizat hingga lupa bahwa ia mukjizat.
Mungkin, persoalannya bukan pada Isa yang lahir tanpa ayah. Persoalannya adalah: mengapa manusia tidak lagi takjub pada kenyataan bahwa setiap bayi lahir ke dunia?
