ISLAM LIVE – Menteri Luar Negeri Yaman Afrah Al-Zouba menegaskan bahwa pemerintahnya tidak menginginkan gencatan senjata maupun negosiasi baru dengan kelompok Houthi tanpa persyaratan yang menjamin perdamaian berkelanjutan. Ia memperingatkan bahwa memberi Houthi lebih banyak waktu akan memungkinkan kelompok tersebut memperkuat kemampuan militer dan kembali menyerang institusi negara.
“Jika Houthi diberi lebih banyak waktu, mereka akan menjadi milisi yang tidak terkalahkan. Mereka akan menjadi monster,” kata Al-Zouba dalam konferensi pers virtual pada Rabu. Ia menyatakan bahwa pemerintah Yaman telah meninggalkan apa yang disebutnya sebagai “ilusi perdamaian” yang menurutnya memberi Houthi kesempatan untuk mengonsolidasikan kekuatan dan mempersenjatai kembali pasukan.
Seperti lansiran Arab News pada Kamis, (15/10/2026), Al-Zouba juga menuding serangan rudal Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta serangan rudal dan drone terhadap Bandara Aden menunjukkan bahwa kelompok tersebut telah menjadi ancaman bagi keamanan regional dan internasional. Menurutnya, serangan di Riyadh pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Ia turut menuduh Iran memasok persenjataan, pendanaan, pelatihan, dan dukungan teknis kepada Houthi untuk memperkuat kemampuan kelompok tersebut serta menekan komunitas internasional.
Sebagai bukti, Al-Zouba merujuk pada penyitaan kapal yang membawa senjata Iran pada 2013 dan pencegatan sekitar 750 ton peralatan serta persenjataan yang disebut ditujukan kepada Houthi pada 2025. Ia mengatakan kedua kasus tersebut telah diselidiki Panel Ahli PBB.
