ISLAM LIVE – Penggunaan label “teroris” dalam konflik Yaman menuai kritik karena dinilai berisiko menjadi alat politik untuk membenarkan serangan militer dan memperluas pengaruh di wilayah selatan negara tersebut.
Salah satu kasus yang disorot adalah serangan udara Uni Emirat Arab (UEA) terhadap pasukan pemerintah Yaman di Aden pada Agustus 2019. Menurut bahan yang dihimpun, UEA menggunakan alasan antiterorisme, sementara tindakan tersebut juga dikaitkan dengan persaingan politik dan dukungan terhadap Dewan Transisi Selatan (STC).
Dalam laporan yang dikaitkan dengan Sana’a Center for Strategic Studies pada Oktober 2019, Gregory D. Johnsen menyatakan bahwa UEA mengirimkan berkas mengenai sejumlah tokoh Partai Islah kepada panel ahli PBB dengan tuduhan keterkaitan mereka dengan Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP).
Johnsen mengaku tidak menemukan bukti bahwa Khaled al-Aradah merupakan anggota senior atau komandan AQAP. Ia juga menegaskan bahwa AQAP merupakan organisasi teroris, sedangkan Partai Islah bukan.
Perbedaan ini menyoroti pentingnya membedakan tuduhan politik dari bukti keterlibatan dalam terorisme. Namun, tanggal publikasi dan konteks lengkap laporan Johnsen masih perlu diverifikasi melalui sumber primer sebelum seluruh keterangannya dipastikan.
