ISLAM LIVE – Pernyataan sejumlah gubernur di Kalimantan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menuai sorotan, terutama mengenai empati kepada masyarakat, ketepatan informasi, dan kesiapan penanganan bencana.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menjadi perhatian setelah berkelakar, “Karena bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi.” Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, mengingatkan pentingnya empati pemimpin ketika masyarakat menghadapi bencana dan kabut asap.
Di Kalimantan Selatan, Gubernur H. Muhidin menilai kebakaran tidak parah karena tidak ada helikopter yang melakukan penyiraman saat peninjauan di Guntung Damar, Banjarbaru, pada 22/07/2026. Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mempertanyakan keterlibatan mahasiswa dalam pemadaman saat berdialog dengan demonstran.
Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang mengakui masih terdapat kekurangan peralatan. Adapun Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud sebelumnya menyebut kualitas udara aman, tetapi pada 7/10/2026 memaparkan ISPU Sendawar sempat mencapai 409 atau kategori berbahaya.
Langkah teknis, termasuk rencana dukungan CSR bagi relawan di Kalimantan Timur, tetap perlu dinilai bersama transparansi data dan konsistensi komunikasi. Dalam situasi bencana, masyarakat membutuhkan informasi terukur, akurat, dan peka terhadap dampak yang mereka alami.
