ISLAM LIVE – Kemunculan kembali Aidarous al-Zubaidi, pemimpin Dewan Transisi Selatan (STC) yang telah dibubarkan, di televisi memicu kritik dari sejumlah aktivis, penulis, dan peneliti di kawasan Teluk. Mereka memperingatkan bahwa langkah politik dan militer Al-Zubaidi berpotensi memperuncing perpecahan di kubu anti-Houthi ketika pertempuran di Yaman kembali meningkat.
Sejumlah pengkritik mempertanyakan tujuan Al-Zubaidi yang dalam pidatonya berusaha menampilkan diri sebagai bagian dari upaya menghadapi Houthi. Mereka menilai langkah tersebut perlu dilihat dalam konteks perselisihan sebelumnya antara STC dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, terutama terkait perebutan pengaruh politik dan kendali militer.
Aktivis Saudi, Faisal Al-Shehri, mengatakan kemunculan Al-Zubaidi kembali bertepatan dengan meningkatnya pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman beserta sekutunya, termasuk Brigade Raksasa, melawan Houthi dengan dukungan Arab Saudi. Menurut Al-Shehri, pidato tersebut berupaya membangun citra Al-Zubaidi sebagai mitra dalam pertempuran, meskipun rekam jejak konflik internal di kubu anti-Houthi masih menjadi persoalan.
Al-Shehri merujuk pada peristiwa Agustus 2019, ketika pasukan STC mengambil alih Aden, ibu kota sementara Yaman, dalam bentrokan dengan pasukan pemerintah. Menurutnya, peristiwa tersebut membuka front konflik baru di antara pihak-pihak yang seharusnya memusatkan upaya untuk memulihkan institusi negara dan mengakhiri kekuasaan Houthi.
Kekhawatiran serupa disampaikan penulis Kuwait, Abdullah Khaled Al-Ghanem. Ia menilai seruan mobilisasi umum melalui formasi yang berafiliasi dengan Al-Zubaidi berisiko memecah upaya militer dan membentuk kembali kekuatan bersenjata di luar kerangka pemerintah Yaman serta komando koalisi. Menurut Al-Ghanem, keberadaan pusat komando yang terpisah dapat memperlemah koordinasi dan membuka peluang bagi Houthi untuk memanfaatkan perbedaan keputusan di antara lawan-lawannya.
