ISLAM LIVE– Ada masa ketika kebohongan terdengar lebih masuk akal daripada kejujuran. Kepalsuan tampil lebih memesona dibanding kebenaran. Bahkan, sesuatu yang sesungguhnya rapuh justru berdiri tegak seolah-olah tak tergoyahkan. Barangkali karena kebatilan memang memiliki satu kelebihan: ia pandai menyamar.
Namun penyamaran selalu memiliki batas. Begitu diuji, ia kehilangan pijakan.
Al-Qur’an menggambarkan hakikat itu dengan kalimat yang sederhana sekaligus tajam:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ
“Yang demikian itu karena Allah adalah Yang Maha Benar, dan apa yang mereka sembah selain Dia adalah kebatilan” (QS. Al-Hajj: 62)
Ayat ini tidak sekadar mempertemukan dua kata haq dan batil. Ia sedang memperlihatkan dua cara keberadaan. Kebenaran memiliki akar yang menghunjam. Ia tetap berdiri meski diterpa waktu, diuji keadaan, atau diserang berbagai kepentingan. Sebaliknya, kebatilan adalah sesuatu yang kehilangan daya tahan. Ia mungkin tampak kokoh di permukaan, tetapi runtuh ketika diperiksa lebih dalam.
Di situlah makna kebatilan menjadi menarik. Dalam khazanah bahasa Arab, al-baṭil bukan sekadar sesuatu yang salah. Ia adalah sesuatu yang tidak memiliki ketetapan. Ia tidak mampu bertahan di bawah cahaya pemeriksaan. Selama tidak diuji, ia tampak hidup. Tetapi begitu ditimbang dengan akal sehat, nurani, atau wahyu, fondasinya perlahan menghilang.
Fenomena itu terasa sangat dekat dengan kehidupan modern.
Hari ini, informasi beredar lebih cepat daripada kemampuan manusia memverifikasinya. Opini sering diperlakukan sebagai fakta. Sensasi mengalahkan substansi. Popularitas dianggap ukuran kebenaran. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk membangun kesan daripada mencari kenyataan.
Kebatilan selalu bekerja dengan cara seperti itu: ia tidak harus benar, cukup terlihat benar.
Karena itu Al-Qur’an memberi peringatan yang terasa semakin relevan:
لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ
“Mengapa kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan?” (QS. Ali ‘Imran: 71)
Yang berbahaya ternyata bukan hanya kebatilan yang terang-terangan. Yang jauh lebih sulit dikenali adalah kebatilan yang mengenakan pakaian kebenaran. Ia meminjam bahasa agama, memakai istilah ilmiah, berlindung di balik data, atau mengatasnamakan kepentingan publik. Dari luar tampak meyakinkan, tetapi di dalamnya kosong.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Persoalannya adalah keberanian untuk membedakan keduanya ketika batas-batas itu sengaja dikaburkan.
Dalam konteks yang lebih luas, kebatilan tidak hanya hadir dalam bentuk keyakinan yang keliru. Ia juga muncul dalam tindakan yang kehilangan makna. Seseorang bisa bekerja tanpa tujuan yang benar, berbicara tanpa kejujuran, bahkan beribadah tanpa keikhlasan. Aktivitasnya banyak, tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang bernilai. Geraknya ada, namun substansinya hilang.
Karena itulah Al-Qur’an berkali-kali menggambarkan bahwa pada akhirnya kebatilan akan gugur oleh dirinya sendiri.
لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ
“Agar Allah menegakkan kebenaran dan melenyapkan kebatilan” (QS. Al-Anfal: 8)
Menariknya, kata “membatalkan” dalam bahasa Arab tidak selalu berarti menghancurkan sesuatu yang salah. Ia juga berarti menghapus atau menghilangkan sesuatu hingga kehilangan pengaruhnya. Artinya, kebatilan sering kali tidak perlu dihancurkan dengan amarah. Cukup disingkapkan hakikatnya. Begitu topengnya dilepas, ia runtuh dengan sendirinya.
Sejarah berkali-kali menunjukkan pola yang sama. Kekuasaan yang dibangun di atas manipulasi mungkin bertahan beberapa tahun, bahkan beberapa generasi. Kekayaan yang diperoleh melalui ketidakjujuran mungkin tampak mengagumkan. Popularitas yang lahir dari kepalsuan bisa memenuhi ruang publik. Namun semuanya memiliki umur yang pendek dibandingkan kebenaran.
Sebab kebenaran tidak bergantung pada banyaknya pengikut. Ia hidup karena sesuai dengan kenyataan.
Sebaliknya, kebatilan selalu membutuhkan penopang. Ia memerlukan propaganda, pencitraan, intimidasi, atau kebohongan baru untuk mempertahankan kebohongan lama. Semakin besar kebatilan, semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk menjaganya tetap tampak hidup.
Gagasan ini kemudian menyentuh sisi yang lebih personal.
Sering kali manusia mengira dirinya sedang melangkah menuju sesuatu yang berarti, padahal yang dikejarnya hanyalah ilusi. Jabatan, pujian, harta, atau pengakuan dapat berubah menjadi kebatilan apabila seluruh hidup hanya dipusatkan kepadanya. Bukan karena semua itu buruk, melainkan karena ia dijadikan tujuan akhir, padahal sifatnya sementara.
Yang abadi hanyalah kebenaran.
Dalam tradisi bahasa Arab, bahkan terdapat ungkapan tentang darah yang “menjadi batil”, yakni darah yang tertumpah sia-sia tanpa keadilan. Dari sini tampak bahwa kebatilan bukan sekadar persoalan akidah atau pemikiran. Ia juga berarti hilangnya nilai, lenyapnya makna, dan gugurnya keadilan. Sesuatu menjadi batil ketika ia kehilangan tujuan yang semestinya.
Mungkin itulah sebabnya Al-Qur’an tidak hanya mengajak manusia membela kebenaran, tetapi juga menjaga agar hidupnya tidak berubah menjadi sia-sia. Sebab kebatilan selalu berawal dari hal-hal kecil yang dibiarkan: sedikit kebohongan, sedikit kompromi terhadap nurani, sedikit pembenaran atas kesalahan. Lama-kelamaan semuanya membangun dunia yang tampak kokoh, padahal sesungguhnya rapuh.
Pada akhirnya, kebatilan bukanlah lawan yang paling menakutkan. Ia hanya bayangan yang tampak besar selama cahaya belum dinyalakan. Begitu kebenaran hadir dengan ilmu, kejujuran dan keberanian, bayangan itu perlahan menghilang.
Sebab hakikat kebatilan memang bukan kuat, melainkan kosong. Ia hanya bertahan selama manusia enggan mengujinya. Dan ketika kebenaran datang, yang rapuh akan kembali kepada sifat asalnya: lenyap, seolah tidak pernah benar-benar ada.
