ISLAM LIVE – Mengapa Thailand Selatan menjadi destinasi karir pendidikan favorit bagi pendidik asal Indonesia?
Di tengah dinamika pasar kerja global tahun 2026, profesi pengajar di Thailand tetap menjadi primadona bagi tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia.
Bukan sekadar mencari nafkah, para guru asal Indonesia kini menempati posisi istimewa dalam sistem pendidikan Thailand, terutama di wilayah Selatan yang memiliki kedekatan kultural dan emosional dengan nusantara.
Secara finansial, mengajar di Thailand menawarkan keseimbangan yang sulit ditemukan di Negara lain. Berdasarkan data terbaru, gaji rata-rata guru asing Non-Native English Speaker di ibu kota Thailand seperti Bangkok, berkisar antara 35.000 – 45.000 Baht per bulan, jika dikonversi kedalam rupiah hari ini, sekitar Rp. 15 juta hingga Rp. 20 juta.
Sedangkan untuk di wilayah Thailand Selatan seperti Pattani, Yala, Narathiwat, atau Songkhla, meski rata-rata gaji pengajar lebih rendah dibanding di Bangkok, yaitu sekitar 15.000 – 25.000 Baht per bulan, atau sekitar Rp. 7,5 juta – Rp. 13 juta, biaya transportasi dan akomodasi sehari-hari relatif jauh lebih terjangkau.
Artinya, potensi menabung bagi guru asal Indonesia yang berkarir di Thailand Selatan bisa mencapai 50% dari pendapatan mereka sebagai seorang guru atau pengajar di sekolah-sekolah di wilayah Thailand Selatan.
Fakta uniknya, guru-guru asal Indonesia yang umumnya mengajar bahasa Inggris, memiliki “senjata rahasia” yang jarang dimiliki pengajar dari Negara Barat, yaitu adaptasi budaya.
Di Thailand Selatan, yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan memiliki akar budaya Melayu, guru Indonesia dianggap sebagai saudara serumpun.
Misalnya dalam segi kemiripan bahasa, di provinsi seperti Satun dan Songkhla, dialek lokal memiliki kemiripan dengan bahasa Melayu, sehingga memudahkan guru asal Indonesia untuk membaur di ruang sosial.
Kemudian jika berbicara tentang etika dan kesantunan, budaya ketimuran Indonesia yang menjunjung tinggi rasa hormat sangat selaras dengan nilai-nilai Wai dan tata krama di Thailand.
Poin selanjutnya adalah tentang keahlian ganda. Selain mengajar bahasa Inggris, ada banyak guru Indonesia yang juga diminta untuk mengajar pendidikan Agama Islam. Apalagi bagi mereka yang pandai berbahasa Arab, sekolah-sekolah swasta Islam atau pondok, seringkali menjadikan guru tersebut sebagai aset yang sangat berharga bagi sekolah lokal.
Mengajar di Thailand Selatan bukan hanya soal mentransfer ilmu di ruang kelas, tapi juga tentang diplomasi budaya. Bagi banyak warga Indonesia, wilayah Thailand Selatan ini terasa seperti rumah kedua.
Dengan keramahtamahan penduduk lokal, kuliner yang mirip dengan selera lidah Indonesia, serta penghargaan tinggi terhadap profesi pendidik, Thailand Selatan tetap menjadi destinasi karier yang cukup menjanjikan. Bagaimana menurut kalian, tertarik untuk berkarir di Thailand?
