Analis Wall Street Tak Sepakat soal Lonjakan Harga Minyak Ekstrem

2 views
Harga minyak mentah dunia.

ISLAM LIVE – Tidak semua analis di Wall Street memperkirakan harga minyak akan mengalami lonjakan ekstrem dalam waktu dekat. Goldman Sachs pada Senin (12/10/2026) menaikkan proyeksi harga minyak Brent pada Desember menjadi 90 dollar AS per barrel. Untuk minyak mentah AS, bank tersebut memperkirakan harga mencapai 81 dollar AS per barrel. Kedua proyeksi itu masih berada di bawah harga pasar saat ini.

Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent dapat mencapai 125 dollar AS per barrel apabila terjadi kerusakan infrastruktur minyak, serangan terhadap kapal pengiriman semakin intensif, atau premi risiko tetap bertahan. Premi risiko merupakan tambahan harga yang muncul karena pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan akibat ketidakpastian geopolitik atau faktor lainnya.

Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa arah harga minyak masih sangat bergantung pada perkembangan pasokan dan situasi geopolitik. Di sisi lain, Analis energi William Blair, Neal Dingmann, menilai harga minyak berpeluang bertahan di level tinggi, bahkan menembus 100 dollar AS per barrel dalam periode tertentu. Dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (17/10/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati 100 dollar AS per barrel, sedangkan minyak mentah Brent berada di kisaran 110 dollar AS per barrel.

Dingmann mengatakan, kemungkinan terjadinya lonjakan harga yang jauh lebih tinggi dari perkiraan saat ini bukan hal yang mustahil. “Kita bisa melihat lonjakan harga yang sangat tajam seperti yang telah disampaikan banyak CEO perusahaan minyak besar,” kata Dingmann. “Apakah menurut saya itu mungkin terjadi? Tentu saja,” ujarnya.

Baca Juga:  Egafood Gelar Demo Masak untuk 50 Kader PKK dan Pengurus RW se-Jelambar

Menurut Dingmann, harga minyak berpotensi bertahan di level yang lebih tinggi selama beberapa kuartal mendatang. Para eksekutif perusahaan minyak yang ditemuinya juga melihat adanya perubahan pada tingkat harga dasar minyak. Harga minyak pada pertengahan siklus, yang sebelumnya diperkirakan banyak analis berada di kisaran 70–80 dollar AS per barrel, kini diperkirakan naik menjadi sekitar 80–90 dollar AS per barrel.

Sejumlah faktor turut mendorong kenaikan harga, mulai dari serangan terhadap kapal tanker Iran hingga melonjaknya biaya pengiriman. “Terjadi serangan terhadap kapal tanker Iran dan biaya pengiriman mencapai rekor. Pasar fisik yang mendasari perdagangan minyak terus mengalami pengetatan,” ujar Dingmann. Pasar fisik mengacu pada transaksi minyak yang melibatkan komoditas untuk pengiriman nyata, bukan sekadar kontrak keuangan.

Dingmann menambahkan, perkembangan geopolitik dan politik kini telah memicu gangguan nyata terhadap aktivitas fisik di pasar energi. Kondisi tersebut membuat upaya sementara untuk meredam kenaikan harga menjadi semakin sulit. Menurutnya, pelepasan minyak dari Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat (SPR) maupun langkah darurat lainnya akan sulit memberikan solusi yang memadai. Cadangan minyak strategis AS sendiri telah turun ke level terendah sejak 1982.

Baca Juga:  WFP: Lebih dari 600.000 Warga Taiz Terputus dari Bantuan Kemanusiaan

Kenaikan harga minyak turut mendorong kinerja sektor energi di pasar saham Amerika Serikat. Sektor energi yang tercermin dalam indeks Energy Select Sector SPDR Fund (XLE) telah menguat lebih dari 50 persen sepanjang 2026, menjadi yang terbaik di antara 11 sektor dalam indeks S&P 500 yang secara keseluruhan naik sekitar 12 persen. Harga minyak mentah AS telah meningkat lebih dari 70 persen sejak 31 Desember 2025, sedangkan harga minyak Brent naik sekitar 80 persen dalam periode yang sama.

Kenaikan harga minyak tersebut menguntungkan produsen minyak AS, tetapi berpotensi menambah beban biaya bagi konsumen. Dingmann mengatakan, sebagian besar perusahaan minyak yang dicakup oleh risetnya mencatat arus kas bebas tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal II-2026. Ia memperkirakan sejumlah perusahaan kembali membukukan rekor pada kuartal III atau kuartal IV tahun ini. Selain minyak mentah, kontrak berjangka minyak pemanas (heating oil) yang menjadi salah satu acuan harga diesel telah meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini. Dingmann memperkirakan harga bahan bakar berpotensi kembali mencetak rekor tertinggi menjelang musim dingin di Amerika Serikat.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA