Belajar Bijak dari Abdullah al-Natili, Guru Masa Kecil Ibnu Sina

32 views

Sejarah filsafat Islam seringkali mengenal Ibnu Sina sebagai bintang terang yang cahayanya menenggelamkan nama-nama di sekitarnya. Namun di balik kejeniusan sang filsuf agung, selalu ada figur yang membakar kayu bakar pertama dalam tungku keberanian intelektualnya. Salah satu figur itu adalah al-Hakim Abu Abdullah al-Natili, seorang guru yang cukup beruntung—atau mungkin cukup tidak beruntung—untuk menjadi pendidik Ibnu Sina pada masa kanak-kanak. Al-Bayhaqi dalam Tatimmat Shiwan al-Hikmah menyelamatkan namanya dari tumpukan sejarah, dan dari sana kita bisa menarik pelajaran yang sangat indah tentang hubungan seorang guru dengan murid yang melebihi dirinya.

Abdullah al-Natili digambarkan sebagai seorang hakim yang alim, seorang filsuf yang mendalam, dan yang paling penting, seorang yang berakhlak dengan akhlak-akhlak yang indah. Ia bukan sekadar pengajar kering yang mentransfer informasi, ia adalah seorang yang hidup dalam nilai-nilai luhur. Dan justru karena keluhuran akhlaknya itulah ia mampu melakukan sesuatu yang tidak semua guru mampu lakukan: ia tidak merasa terancam ketika muridnya melampaui dirinya.

Kisah yang dinarasikan al-Bayhaqi sangat menakjubkan. Ibnu Sina sendiri mengakui bahwa ayahnya mengikat al-Natili sebagai guru, dan dari dialah ia mempelajari kaidah-kaidah logika. Namun, tak lama kemudian, Ibnu Sinai melesat begitu cepat, sampai pada kedalaman-kedalaman rumit yang membuat al-Natili sendiri terkagum-kagum. Ibnu Sina mengatakan, “Aku mencapai hal-hal yang membingungkan (ghawamid) yang membuat al-Natili sendiri heran.” Bayangkan: seorang murid kecil yang mempelajari ilmu dari gurunya, lalu melampaui gurunya, dan membuat gurunya bertanya-tanya dalam kekaguman. Tidak ada kecemburuan di sini, karena akhlak al-Natili yang indah telah menyucikan hatinya dari api iri.

Puncak dari hubungan yang luar biasa ini terjadi ketika al-Natili berkata kepada Ibnu Sina muda, “Cari tahu sendiri bentuk-bentuk geometri ini dari hasil penalaranmu, lalu tunjukkan padaku.” Dan al-Bayhaqi dengan jujur menulis, “Dan ia mengambil manfaat melalui perantaraanku.” Al-Natili, sang guru, belajar dari muridnya sendiri. Ia tidak merasa harga dirinya jatuh. Ia tidak menganggap itu sebagai aib. Sebaliknya, ia membuka diri sebagai seorang pencari kebenaran sejati, yang tahu bahwa kebenaran bisa datang dari siapa saja, bahkan dari anak kecil yang sedang dalam asuhannya. Di sinilah letak kebijaksanaan sejati seorang guru: ia tidak mengajar untuk melahirkan bayangan dirinya, ia mengajar untuk melahirkan cahaya yang mungkin lebih terang dari dirinya.

Baca Juga:  Figur Calon Ketua Umum PBNU Mulai Bermunculan, Jelang Muktamar ke-35 NU

Karya-karya al-Natili sendiri membuktikan bahwa ia bukanlah guru yang dangkal. Al-Bayhaqi melihat sendiri sebuah risalah tentang Wajib al-Wujud (Yang Wajib Ada, yaitu Tuhan) dan penjelasan tentang nama-Nya, yang menurut al-Bayhaqi menunjukkan bahwa al-Natili adalah seorang yang unggul dalam bidang ini dan mencapai batas paling jauh dalam ilmu ketuhanan. Ia juga menulis risalah tentang ilmu alkemi atau al-Iksir, yang meskipun Ibnu Sina—dengan skeptisismenya yang khas—tidak banyak menyebut namanya dalam karya-karyanya, kecuali dalam al-Maqdhiyat al-Sab’ah. Jadi al-Natili bukanlah guru yang biasa-biasa saja. Ia adalah filsuf kelas berat. Hanya saja, muridnya adalah seorang raksasa yang bahkan lebih besar.

Lebih berharga dari semua itu adalah petuah-petuah al-Natili yang terekam dalam teks al-Bayhaqi. Ia pernah berkata, “Wajib bagimu untuk terus mencari dan menyelidiki permata-permata jiwa yang mulia.” Ini adalah seruan untuk tidak pernah berhenti pada pengetahuan permukaan, untuk terus menggali kedalaman jiwa yang merupakan tempat bersemayamnya kebijaksanaan sejati. Ia juga mengingatkan, “Jiwa yang suci tidak akan bermanfaat dengan analogi dialektis dan retoris.” Maksudnya, kebenaran tertinggi tidak cukup didekati dengan debat-debat yang hanya mengandalkan kepandaian berbicara atau memenangkan argumen. Jiwa yang suci membutuhkan pendekatan yang lebih langsung, lebih intuitif, lebih bersih dari kepentingan duniawi.

Salah satu nasihatnya yang paling pragmatis adalah, “Jangan menyimpan sesuatu yang engkau takut akan kehilangannya.” Ini adalah pelajaran tentang keterikatan. Jika sebuah barang, seorang teman, atau sebuah kedudukan begitu berharga sehingga kehilangannya akan menghancurkanmu, maka sebenarnya barang itu telah menjadi tuan atas dirimu. Kebijaksanaan sejati bukanlah mengumpulkan apa yang kita takutkan hilang, melainkan melepaskan ketakutan itu sendiri.

Di antara hikmahnya yang paling mendalam adalah, “Orang yang arif tidak memilih pengenalan akan Kebenaran di atas Kebenaran itu sendiri.” Ini adalah pernyataan yang sangat halus. Seringkali manusia lebih mencintai pengetahuannya tentang Tuhan daripada mencintai Tuhan itu sendiri. Mereka berbangga dengan konsep-konsep teologis yang rumit, skema-skema metafisik yang canggih, dan lupa bahwa semua itu hanyalah peta, bukan wilayah. Orang arif sejati, menurut al-Natili, tidak akan terperangkap dalam pengagungan terhadap peta, ia langsung menuju ke wilayah yang sebenarnya.

Baca Juga:  Politik Transenden: Mengapa Al-Farabi Memulai Kota Utama dengan Metafisika?

Ia juga berkata, “Kebenaran dicari karena diri-Nya sendiri, sedangkan kebaikan dicari untuk diamalkan.” Ini membedakan antara ranah teoritis dan ranah praksis. Kebenaran memiliki nilainya sendiri, terlepas dari apakah ia memberi manfaat atau tidak. Tetapi kebaikan, sebaliknya, tidak memiliki makna jika tidak diwujudkan dalam tindakan. Sebuah niat baik tanpa perbuatan adalah hampa. Sebuah kebenaran yang tidak melahirkan kebaikan adalah mandul.

Dan yang terakhir, sebuah petuah yang sangat berguna bagi siapa pun yang sering terjebak dalam dilema moral: “Jika suatu hal membingungkanmu, dan engkau tidak tahu mana di antara dua perkara yang benar, maka perhatikan mana yang lebih dekat dengan hawa nafsumu—lalu jauhilah itu.” Ini adalah sebuah tes lakmus yang cerdas. Hawa nafsu selalu membisikkan jalan yang paling mudah, yang paling menyenangkan, yang paling menguntungkan diri sendiri. Jika kita ragu antara dua pilihan, dan salah satunya terasa lebih “enak” bagi ego kita, maka besar kemungkinan itulah yang salah. Kebenaran seringkali pahit di awal, tetapi manis di akhir. Sedangkan hawa nafsu selalu manis di awal, tetapi pahit di akhir.

Melihat kembali pada hubungan al-Natili dan Ibnu Sina, kita belajar bahwa mengajar bukanlah tentang menunjukkan siapa yang paling pintar di ruangan. Mengajar adalah tentang membuka pintu, menyalakan lampu, dan kemudian, jika murid memilih jalan yang berbeda dari yang kita bayangkan, kita memiliki dua pilihan: merasa terancam, atau merasa bangga. Al-Natili memilih yang kedua. Ia tidak hanya mengizinkan muridnya melampaui dirinya, ia bahkan belajar dari muridnya. Dan justru karena kerendahan hati itulah namanya abadi, terekam dalam lembaran sejarah sebagai seorang guru yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengajarkan kebijaksanaan tentang bagaimana menjadi manusia ketika murid melampaui gurunya.

Kita mungkin tidak akan pernah sejenius Ibnu Sina. Tetapi setiap kita bisa sebijak al-Natili. Dan mungkin, dalam skala yang lebih kecil dan sederhana, itulah panggilan tertinggi seorang pendidik: menciptakan murid-murid yang kelak menjadi lebih baik dari dirinya, lalu tersenyum dalam kekaguman ketika mereka melesat jauh ke depan, tanpa setitik pun rasa iri di dalam dada.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA