ISLAM LIVE – Sapaan akrabnya adalah Dalang Ade, pemimpin grup kesenian Wayang Kulit Betawi “Giri Wijaya” di Pamulang, Tangerang Selatan.
Beliau bukan sekedar pegiat kesenian tradisional, tetapi juga penjaga budaya, sejarah dan identitas bangsa melalui keahliannya ber-wiracarita.
Di kediamannya yang sederhana, ia menyambut kami dengan hangat. Sanggar seni Giri Wijaya tidak terlalu luas, tapi juga tidak kecil. Konon kabarnya, dulunya sanggar itu adalah gudang yang disulap jadi tempat berkesenian wayang dan gamelan.
Dalang Ade menceritakan secara runut mengenai eksistensi Wayang Kulit Betawi di masa kini.
Dia sendiri merasa kesulitan karena tidak adanya regenerasi, baik dalang maupun penabuh gamelannya. Sepinya job juga salah satu hal yang ia keluhkan.
“Barangkali karena hiburan modern dan YouTube sudah bisa diakses, makanya jarang ada yang nanggap wayang” kata Dalang Ade kepada Islam Live (04/05/2026).
Ade mengatakan bahwa Wayang memiliki andil besar dalam kebudayaan Nusantara, malahan ia menyebut bahwa Wayang adalah kesenian adiluhung karena mencakup beberapa kesenian lain seperti musik, syair, sastra, ukir, lukis, komedi dan tari.
Tak bisa dibayangkan bagaimana identitas kebudayaan dan kesejarahan bangsa ini jika tanpa kesenian wayang, Kata Ade.
Barangkali banyak kisah kepahlawanan dan tokoh masa lampau hilang dari ingatan, mengingat tidak semua orang pada zaman dahulu bisa mengakses pustaka atau buku buku yang ditulis para pujangga (Selain disimpan di Keraton, masyarakat zaman dulu banyak yang tak bisa membaca).
Hampir kesejarahan Jawa Klasik dirawat dan ditransfer melalui media wayang. Dari kisah zaman Purwa, kisah Panji, hingga Babad -Babad yang menceritakan mengenai Kerajaan Majapahit, Kerajaan Kediri, Jenggala, hingga Kerajaan Pajajaran beserta para tokohnya diceritakan secara mendetail dan dibungkus dengan cara yang memikat hati orang-orang.
Jika Sobat pernah membaca kitab Babad Tanah Jawi, Pustaka Raja Purwa, dan Serat Kandha, buku buku yang mengisahkan kisah raja raja itu sebenarnya tidak ditulis sebagai bacaan khalayak umum, tetapi buku itu ditulis sebagai pegangan dan sumber cerita bagi para dalang untuk dikisahkan melalui pentas wayang. Karena itu kitab kitab sejarah klasik biasanya ditulis dalam bentuk pupuhan (umpan), macapat, sinom atau kawih (syair).
Tak heran jika Masyarakat di Jawa dan Sunda hingga sekarang masih ingat sosok Prabu Siliwangi, Jayabaya, Brawijaya, Hayam Wuruk, dan Gajah Mada, sebab kisah kepahlawanan mereka terus ditanamkan ke khalayak ramai melalui pagelaran wayang. Jika tak ada peran dalang ditengah masyarakat, mungkin kesejarahan dan identitas kita akan hilang.
Di abad 21 ini eksistensi wayang khususnya wayang Kulit Betawi sangat memprihatinkan. Untuk kasus di Banten dan Jakarta, dalang wayang kulit ini dalangnya yang tersisa hanya satu orang, yaitu Dalang Ade.
membujuk regenerasi ditambah lagi oleh abainya pemerintah Daerah terhadap sanggar wayang Giri Wijaya membuat kondisinya benar-benar memprihatinkan.
Jika dahulu Dalang merupakan tokoh terhormat dan dibutuhkan, zaman sekarang justru dalang dianggap sebagai sosok manusia marginal yang dianggap ketinggalan zaman… Sungguh miris dan membuat hati teriris!*


