Memahami Dua Makna Siratal Mustaqim dalam Islam

2 views
Ilustrasi jembatan shiratal mustaqim. (Foto: Ilustrasi dibuat dengan AI)

ISLAM LIVE – Istilah Siratal Mustaqim dikenal umat Islam melalui Surah Al-Fatihah ayat 6, yang secara umum berarti jalan yang lurus. Dalam konteks kehidupan di dunia, siratal mustaqim merujuk pada jalan kebenaran yang harus ditempuh seorang muslim dengan mengikuti petunjuk Allah SWT. Sementara itu, dalam pembahasan mengenai kehidupan akhirat, Siratal Mustaqim dikenal sebagai jembatan atau titian yang dibentangkan di atas neraka Jahannam.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Dalam ajaran Islam, kehidupan manusia tidak berhenti setelah kematian. Setiap manusia akan menghadapi kehidupan akhirat dan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama di dunia. Jembatan Siratal Mustaqim akan dilewati manusia sebelum mencapai tempat yang telah ditetapkan Allah SWT.

Penjelasan mengenai jembatan tersebut dapat ditemukan dalam hadis Rasulullah SAW, di antaranya riwayat Abu Sa’id Al-Khudri dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Dalam hadis itu, jembatan di atas Jahannam digambarkan sebagai tempat yang licin dan memiliki pengait-pengait yang dapat menyambar manusia sesuai amal perbuatannya.

Salah satu fakta yang dijelaskan dalam hadis adalah letaknya yang membentang di atas neraka Jahannam. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jembatan akan dibentangkan di atas Jahannam. Para rasul ketika itu berdoa memohon keselamatan kepada Allah SWT dengan mengucapkan, Allahumma sallim, sallim, yang berarti “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.” Hadis tersebut juga menggambarkan adanya pengait-pengait seperti duri pohon Sa’dan. Pengait itu menyambar manusia sesuai dengan amal perbuatannya.

Baca Juga:  Kemenhaj Sulsel Targetkan 300 Stand di Expo UMKM Haji dan Umrah

Dalam riwayat yang dinukil dalam pembahasan para ulama, jembatan ini digambarkan lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang. Gambaran tersebut menunjukkan betapa sulitnya titian yang akan dilewati manusia di akhirat. Jembatan itu juga disebut licin, sehingga manusia tidak dapat melewatinya dengan mudah dengan kemampuan mereka sendiri.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Sa’id Al-Khudri RA, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang-orang beriman akan melewati jembatan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Ada yang melintas secepat kedipan mata, seperti kilat, seperti angin, bahkan seperti kuda dan unta yang berlari cepat. Ada juga yang berhasil melewatinya dengan selamat, namun sempat terluka atau kesulitan. Sebagian lainnya terjatuh ke dalam neraka Jahannam karena amal perbuatannya.

Hadis tersebut diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dengan redaksi yang berbeda-beda. Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa keadaan manusia ketika melewati Siratal Mustaqim tidak sama. Sebagian memperoleh kemudahan, sedangkan sebagian lainnya menghadapi kesulitan. Namun, kita tidak bisa memastikan nasib seseorang di akhirat hanya berdasarkan penilaian pribadi terhadap kehidupannya di dunia. Penilaian akhir berada dalam kekuasaan dan keadilan Allah SWT.

Baca Juga:  Disdik Kediri Sosialisasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman untuk Cegah Perundungan

Dalam hadis Abu Hurairah RA yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa jembatan akan dibentangkan di atas Jahannam dan beliau bersama umatnya menjadi yang pertama melewatinya. Hadis tersebut juga menjelaskan bahwa ketika itu para rasul berdoa memohon keselamatan kepada Allah SWT. Sementara itu, dalam riwayat Tsauban RA yang tercantum dalam Shahih Muslim, disebutkan bahwa golongan pertama dari umat Nabi Muhammad SAW yang melewati jembatan adalah kaum fakir miskin dari kalangan Muhajirin.

Keterangan ini menjadi salah satu gambaran mengenai peristiwa melewati Siratal Mustaqim pada hari akhir. Namun, urutan tersebut perlu dijelaskan sesuai dengan riwayat masing-masing agar tidak mencampuradukkan urutan Nabi Muhammad SAW dan umatnya dengan urutan golongan di dalam umat beliau. Gambaran mengenai ketipisan, ketajaman, dan pengait-pengait jembatan juga tidak seharusnya dijadikan dasar untuk mengarang rincian fisik lain yang tidak disebutkan dalam dalil. Dengan memahami penjelasan ini, umat Islam diharapkan semakin termotivasi menempuh jalan lurus di dunia sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA