ISLAM LIVE – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa masyarakat desa tidak memiliki saham kembali menjadi sorotan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57 persen ke level 5.185,11 pada 16/10/2026. Gejolak pasar ini juga dikaitkan dengan usulan MSCI untuk menurunkan status pasar modal Indonesia menjadi pasar independen karena persoalan transparansi kepemilikan saham dan dugaan transaksi terkoordinasi.
Dalam acara Tanwir dan peringatan ke-112 Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Kupang, 4/12/2024, Prabowo mengatakan, “Kasih tahu ya, saya nggak punya saham, rakyat di desa-desa juga tidak punya saham. Kalau saham jatuh, iya pemain bursa itu (yang terdampak)”.
Ia juga menyebut investor kecil berisiko kalah menghadapi pemain besar di pasar saham. Namun, gejolak pasar tidak hanya berdampak pada pemilik saham. Tekanan terhadap nilai tukar, biaya pembiayaan perusahaan, dan kemampuan fiskal berpotensi merambat ke sektor ekonomi lain.
Ekonom Ferry Latuhihin sebelumnya mengkritik pemahaman tersebut. “Kalau menurut saya sih, Pak Presiden enggak mengerti ekonomi ya. Maaf untuk mengatakan itu ya,” ujarnya dalam program Kompas Petang pada Mei 2026.
Persoalan utama kini bukan sekadar siapa yang berinvestasi di bursa, melainkan bagaimana transparansi, penegakan aturan, dan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia dipulihkan.
