ISLAM LIVE – Ratusan pasien penderita penyakit ginjal di Taiz, Yaman, berisiko kehilangan akses terhadap layanan dialisis dalam satu hingga dua pekan jika pasokan bahan bakar, air, dan makanan terus terhambat. Menteri Luar Negeri Yaman Afrah Al-Zouba menyampaikan peringatan tersebut pada Rabu dan menuduh kelompok Houthi memperketat pengepungan serta menghambat masuknya kebutuhan dasar ke wilayah itu.
Merujuk pada Arab News, pada Kamis, (15/10/2026), Al-Zouba menyebut pengepungan berkepanjangan di Taiz sebagai kejahatan perang. Menurutnya, terputusnya pasokan penting mengancam keberlangsungan layanan kesehatan dan kehidupan warga sipil. Namun, materi sumber tidak merinci jumlah pasien yang terdampak ataupun kondisi operasional fasilitas dialisis saat pernyataan tersebut disampaikan.
Pemerintah Yaman, kata Al-Zouba, sedang berkomunikasi dengan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) untuk mengupayakan pengiriman bahan bakar bagi fasilitas kesehatan dan penyediaan air. Pemerintah juga membahas kemungkinan pengiriman makanan dan air bersama perusahaan swasta untuk memenuhi kebutuhan penduduk.
Al-Zouba menyatakan bahwa lebih dari 217.000 warga Yaman telah mengungsi sejak eskalasi terbaru dimulai. Ia juga menuduh Houthi mengalihkan bantuan, menghambat upaya kemanusiaan, dan masih menahan 72 pekerja Perserikatan Bangsa-Bangsa. Angka pengungsian dan tuduhan tersebut berasal dari pernyataan pemerintah Yaman.
Peringatan mengenai pasien dialisis menyoroti risiko yang dihadapi warga sipil ketika konflik menghambat pasokan kebutuhan dasar. Meski demikian, materi sumber belum memberikan verifikasi independen mengenai kondisi pasien, fasilitas kesehatan yang terdampak, ataupun jalur pasokan yang terputus. Tuduhan terhadap Houthi karena itu perlu dipahami sebagai pernyataan pihak pemerintah Yaman.
