ISLAM LIVE – Ketegangan di kawasan Teluk kembali menyoroti kerentanan pasokan minyak dunia setelah serangkaian serangan yang diklaim Houthi menyasar fasilitas energi dan bandara di Arab Saudi pada Oktober 2026. Risiko gangguan jalur pelayaran turut meningkatkan kekhawatiran terhadap harga minyak global.
Dalam pernyataan televisi pada 11//10/2026, juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengklaim kelompoknya melancarkan empat gelombang serangan rudal dan drone dalam 24 jam, termasuk terhadap fasilitas Saudi Aramco di Shedgum dan Tanajib. Namun, klaim mengenai kerusakan fasilitas dan kebakaran masih memerlukan konfirmasi independen.
Bahan sumber mencatat harga Brent mencapai US$105,48 per barel dan WTI US$92,44 per barel pada 12 Oktober. Sementara itu, analis Commonwealth Bank, Vivek Dhar, sebelumnya memperingatkan bahwa Brent dapat menyentuh US$150 jika persediaan minyak global terkuras. Angka tersebut merupakan skenario bersyarat, bukan proyeksi pasti.
Tekanan terhadap Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb berpotensi mempersempit pilihan jalur ekspor energi. Di saat bersamaan, ketegangan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait Yaman menimbulkan pertanyaan tentang koordinasi keamanan regional. Besarnya dampak terhadap pasokan dan harga tetap bergantung pada perkembangan serangan, kondisi persediaan, serta konfirmasi kerusakan fasilitas.
