ISLAM LIVE – Sebanyak 700 peserta mengikuti Workshop Nasional Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif yang digagas Imam Jazuli Foundation. Pendaftaran kegiatan ini mencapai 1.500 orang dalam tiga hari, dan setelah melalui proses seleksi, 700 peserta mengikuti workshop perdana untuk dai di Jawa Barat . Program tersebut ditargetkan berkembang hingga melibatkan 5.000 dai secara nasional melalui seleksi berbasis portofolio dan kompetensi.
“Seorang dai transformatif harus mampu menjaring, memeriksa, menganalisis, dan mengorganisasi informasi. Informasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi pengetahuan yang jernih dan relevan,” kata KH Imam Jazuli, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, dalam workshop di Cirebon, Kamis (17/9/2026).
Dalam ekosistem digital, sebuah pesan tidak otomatis sampai kepada orang yang membutuhkannya karena harus melewati mekanisme distribusi platform yang bekerja berdasarkan sinyal interaksi pengguna, mulai dari relevansi, riwayat perilaku, perhatian, hingga respons terhadap konten . Oleh karena itu, Anda perlu memahami algoritma sebagai bagian dari logika baru distribusi pesan keagamaan.
Tantangan baru pun muncul. Konten yang paling cepat menarik perhatian belum tentu memiliki kedalaman keilmuan, sementara materi agama yang kuat secara substansi bisa kesulitan menjangkau publik digital jika dikemas apa adanya . Ruang dakwah semakin ramai, namun popularitas tidak selalu sejalan dengan otoritas keilmuan.
Sejumlah tokoh turut memberikan perspektif dalam rangkaian kegiatan tersebut, antara lain KH Anwar Iskandar, Gus Ipang, Ustaz Yusuf Mansur, dan Ari Untung. Program ini juga menjadi bagian dari rangkaian agenda transformasi pesantren yang sebelumnya melibatkan ribuan pengasuh pesantren serta kegiatan untuk ibu nyai dan ning.
“Perubahan yang disruptif tidak sedang menunggu kesiapan para dai. Saatnya dai transformatif meramu kedalaman ilmu agama menjadi konten yang menginspirasi, memastikan bahwa di setiap sudut internet yang bising, suara moderasi yang menyejukkan tetap terdengar nyaring,” pungkas Kiai Imam Jazuli.
