ISLAM LIVE – Pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, menuai sorotan publik setelah gambaran rentetan bencana alam dan letusan gunung berapi di Indonesia dengan kemungkinan adanya intervensi teknologi asing.
Dalam diskusi yang ramai diperbincangkan di ruang publik, Ulta sempat menyinggung penggunaan teknologi High-frekuensi Active Auroral Research Program (HAARP) sebagai instrumen yang diduga mempengaruhi aktivitas geologi.
Menanganggapi narasi tersebut, sejumlah pakar kebencanaan dan ilmu pengetahuan kebumian memberikan bantahan telak. Sebagaimana dilansir dari pemberitaan berbagai media kredibel, para ahli menegaskan bahwa fenomena letusan gunung berapi dan bencana alam di Indonesia murni merupakan proses geologis alami, bukan hasil rekayasa teknologi buatan manusia.
Melalui laporan yang dikutip dari berbagai sumber media nasional, pakar mitigasi bencana menegaskan bahwa teori yang menghubungkan aktivitas vulkanik dengan intervensi teknologi negara lain tidak memiliki dasar ilmiah yang valid.
Berdasarkan rangkuman pemberitaan Tribunnews , sebagian besar netizen menyayangkan lontaran narasi tersebut karena dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman serta kekhawatiran di tengah masyarakat. Warganet mengingatkan agar seorang pejabat publik selalu berhati-hati dalam menyampaikan analisis yang bersinggungan dengan isu-isu sensitif.
Kendati menuai kritik tajam dan bantahan dari kalangan akademisi, polemik ini sekaligus menjadi catatan penting di ruang publik mengenai pentingnya literasi sains serta kehati-hatian seorang tokoh pengambil kebijakan dalam menyampaikan pandangan pribadi agar tidak bercampur dengan teori yang sifatnya spekulatif.
