ISLAM LIVE – Keterlambatan pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi guru honorer non-ASN hingga pekan pertama Agustus 2026 memicu keprihatinan luas, karena bagi sebagian besar dari mereka tunjangan sebesar Rp2 juta per bulan itu menjadi satu-satunya penopang ekonomi keluarga setelah tidak lagi menerima gaji pokok dari sekolah tempat mereka mengabdi .
Kondisi ini memantik perhatian aktivis pendidikan yang mendesak pemerintah memangkas prosedur birokrasi pencairan demi menjamin kelangsungan hidup para guru honorer di berbagai daerah yang kini menggantungkan penghidupan mereka pada TPG.
“Guru Honorer/Non ASN itu sudah tidak mendapatkan gaji, upah satu-satunya hanya lewat TPG,” kata Reza Sudrajat, aktivis sosial dan pendidikan, melalui unggahan di akun X pribadinya, Rabu (5/8/2026).
Reza menyoroti ironi bahwa di tengah kesulitan pencairan tunjangan guru, anggaran di sektor lain yang rawan korupsi justru lebih mudah diakses. Ia menilai sikap pemerintah yang terkesan berbelit-belit saat berurusan dengan hak-hak dasar tenaga pendidik sangat memprihatinkan.
“Sekarang pemerintah masih pelit dan terkesan ribet untuk membayar tunjangan guru yang di bawah Rp2 juta itu, tapi pengadaan barang rawan korupsi bisa. Hmmm,” sindirnya.
Akun X @dariguruhonorer juga secara terbuka menagih pencairan TPG dengan menandai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Mereka menyebut belum cairnya TPG membuat banyak guru honorer tidak memiliki pemasukan.
“TPG belum cair Prof @Abe_Mukti untuk bulan Juli dan Agustus. Tolong segera cairkan, yang honorer belum ada pemasukan dari TPG,” tulis akun tersebut.
Sebelumnya, pemerintah telah mengubah skema pencairan TPG dari triwulan menjadi bulanan mulai 2026 dengan transfer langsung ke rekening guru untuk memangkas birokrasi . Namun, kendala sinkronisasi Dapodik di awal tahun ajaran baru diduga menjadi penyebab keterlambatan .
Kepastian pencairan tunjangan ini sangat mendesak agar para guru honorer dapat kembali fokus menjalankan tugas mulia mendidik generasi bangsa tanpa terbebani ancaman krisis ekonomi harian yang mengintai keluarga mereka.
