ISLAM LIVE – Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki bulan kelima disebut membuat Presiden AS Donald Trump semakin kesulitan menentukan langkah untuk mengakhiri konflik.
Laporan The Wall Street Journal yang terbit pada Kamis 23/07/26, mengungkapkan bahwa konflik yang semula diperkirakan Trump akan berakhir dalam hitungan pekan justru terus berlarut tanpa kepastian. Kondisi tersebut disebut mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan penasihat Gedung Putih karena berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi, tingkat dukungan publik, serta prospek Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu.
Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan Trump meyakini Iran hanya memahami penggunaan kekuatan militer dan kini berada dalam “mode balas dendam” terhadap Teheran, sehingga hanya memiliki sedikit pilihan selain melanjutkan serangan.
Sejumlah pejabat pemerintahan dan sumber yang mengetahui pembahasan internal Gedung Putih menyebut Trump kini memandang opsi militer sebagai satu-satunya cara menghadapi Teheran.
Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat terus mengerahkan tambahan pasukan dan persenjataan ke Timur Tengah. Langkah itu diambil ketika Trump masih mempertimbangkan kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut, meski muncul kekhawatiran mengenai besarnya biaya perang dan dukungan publik terhadap kebijakan tersebut.
Laporan itu juga menyebut perang berkepanjangan mulai memengaruhi hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan Trump dikabarkan enggan berbicara maupun bertemu dengan Netanyahu di tengah perkembangan konflik.
Selain berdampak pada dinamika politik, perang Iran disebut turut meningkatkan ancaman keamanan terhadap Trump dan sejumlah penasihat seniornya. Menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut, badan intelijen AS telah memperingatkan adanya ancaman pembunuhan dari Iran sehingga mereka diminta meningkatkan kewaspadaan selama konflik masih berlangsung.
