ISLAM LIVE– Ada kata-kata yang tampak sederhana, tetapi menyimpan perjalanan makna yang panjang. Dalam bahasa Arab, satu akar kata bisa melahirkan beragam pengertian yang pada pandangan pertama tampak tidak saling berkaitan. Namun ketika ditelusuri, semuanya ternyata bertemu pada satu gagasan dasar. Salah satunya adalah akar kata بضع, yang melahirkan kata bida’ah (barang dagangan), bid’u sinīn (beberapa tahun), hingga ungkapan yang akrab dalam tradisi Islam, “fulānun bid’atun minnī” dia adalah bagian dari diriku.
Di balik keragaman itu tersembunyi satu ide sederhana: sesuatu yang dipotong, diambil sebagai bagian, lalu memperoleh makna baru sesuai konteksnya. Bahasa ternyata tidak sekadar menjadi alat komunikasi, melainkan juga cara manusia memahami dunia.
Dalam Al-Qur’an, kata bida’ah muncul dalam kisah Nabi Yusuf a.s. Ketika saudara-saudaranya pulang dari Mesir, mereka terkejut mendapati barang dagangan yang mereka bawa justru dikembalikan.
هَذِهِ بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ إِلَيْنَا
“Inilah barang dagangan kami yang dikembalikan kepada kami” (QS. Yusuf: 65)
Pada kesempatan lain, ketika mereka kembali meminta bantuan, Al-Qur’an menggambarkan keadaan mereka dengan ungkapan:
بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ
“Dengan barang dagangan yang nilainya sangat sederhana” (QS. Yusuf: 88)
Menariknya, bida’ah pada mulanya bukan berarti komoditas perdagangan. Kata itu berasal dari makna “sepotong” atau “bagian yang dipisahkan”. Sebagaimana sepotong daging dipotong dari tubuh, demikian pula sebagian harta dipisahkan dari kepemilikan seseorang untuk diperdagangkan. Dari tindakan memotong itulah lahir konsep modal usaha.
Di titik ini, bahasa menawarkan pelajaran yang lebih luas. Kekayaan sesungguhnya bukan seluruh harta yang kita miliki, melainkan bagian yang berani kita lepaskan untuk bergerak. Harta yang hanya disimpan tetap menjadi milik pribadi, tetapi ketika dipisahkan menjadi bida’ah, ia mulai menjalani kehidupan baru: berputar, berkembang, bahkan memberi manfaat bagi orang lain.
Gagasan itu terasa sangat relevan dalam kehidupan modern. Banyak orang mengukur kesejahteraan dari besarnya aset yang dimiliki, padahal ekonomi justru bertumbuh karena keberanian menggerakkan sebagian harta. Modal selalu lahir dari sesuatu yang dipisahkan, bukan dari sesuatu yang terus digenggam.
Namun akar kata ini tidak berhenti di ranah perdagangan. Ia merambah hubungan antarmanusia, bahkan relasi paling intim dalam kehidupan. Dalam bahasa Arab klasik, kata bud’ juga digunakan sebagai kiasan untuk hubungan pernikahan. Ungkapan “malaka bud’aha” berarti seseorang telah menikahi seorang perempuan, sementara bada’aha merujuk pada hubungan suami istri.
Bagi masyarakat Arab, penggunaan kata semacam ini bukan sekadar penghalusan bahasa. Ia menunjukkan bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua individu, tetapi juga penyerahan sebagian diri kepada orang lain. Ada ruang pribadi yang kini menjadi milik bersama, ada batas yang berubah menjadi kedekatan. Bahasa menyampaikan sesuatu yang sering gagal diungkapkan definisi hukum.
Makna “bagian” juga muncul dalam ungkapan yang sangat menyentuh. Ketika seseorang berkata, “Engkau adalah bagian dari diriku,” ia tidak sedang berbicara secara biologis. Ia sedang menggambarkan kedekatan emosional yang begitu dalam hingga keberadaan orang lain terasa menyatu dengan dirinya sendiri.
Ungkapan seperti ini hidup dalam banyak kebudayaan, tetapi bahasa Arab memberinya bentuk yang sangat konkret. Seseorang bukan hanya dicintai; ia dipandang sebagai potongan tubuh yang tak mungkin dipisahkan tanpa rasa sakit. Dari sini lahir pemahaman bahwa hubungan keluarga, persahabatan, maupun kasih sayang selalu melibatkan sebagian diri yang kita berikan kepada orang lain.
Dalam konteks yang lebih luas, akar kata ini juga menjelaskan mengapa luka terbuka disebut dengan istilah yang berasal dari kata yang sama. Sebuah sayatan adalah bagian daging yang terbelah. Pulau yang terpisah dari daratan pun pernah disebut dengan istilah serumpun karena dipandang sebagai bagian bumi yang terpotong dari induknya.
Semuanya kembali kepada ide yang sama: pemisahan.
Bahkan ketika Al-Qur’an menggunakan ungkapan:
بِضْعَ سِنِينَ
“Beberapa tahun” (QS. Ar-Rum: 4)
kata bid’ tidak berarti jumlah tertentu secara mutlak. Para ahli bahasa berbeda pendapat; ada yang memaknainya antara tiga hingga sembilan tahun, ada pula yang memperluasnya hingga mendekati sepuluh tahun. Namun seluruh pendapat itu berangkat dari pengertian yang sama: hanya sebagian dari bilangan sepuluh, bukan keseluruhannya.
Bahasa ternyata memandang angka sebagaimana ia memandang benda: ada keseluruhan, ada bagian yang dipisahkan darinya.
Di sinilah kekayaan bahasa Arab klasik terasa mengagumkan. Sebuah akar kata mampu menghubungkan perdagangan, tubuh manusia, keluarga, geografi, luka, hingga hitungan waktu dalam satu jalinan makna yang utuh. Semuanya bergerak mengelilingi satu poros: bagian yang dipisahkan dari sesuatu yang lebih besar.
Barangkali itulah pelajaran yang paling menarik dari kata بضع. Hidup sendiri sesungguhnya tersusun dari banyak “bagian”. Kita memberikan sebagian waktu untuk bekerja, sebagian harta untuk orang lain, sebagian tenaga untuk beribadah, sebagian perhatian untuk keluarga, dan sebagian hati kepada orang-orang yang kita cintai. Tidak semua harus dimiliki sepenuhnya. Justru karena berani melepaskan sebagian, kehidupan memperoleh maknanya.
Bahasa akhirnya mengingatkan kita bahwa nilai sebuah bagian tidak ditentukan oleh ukurannya, melainkan oleh tujuan pemisahannya. Sebagian harta dapat menjadi modal. Sebagian waktu dapat menjadi amal. Sebagian kasih sayang dapat menghidupkan sebuah keluarga. Dan sebagian diri yang diberikan dengan tulus sering kali menjadi jalan bagi lahirnya kehidupan yang lebih utuh.
