Kreativitas dan Bid’ah: Memahami Makna Ibdā’ yang Sering Disalahpahami

1 views

ISLAM LIVE– Di zaman yang memuja inovasi, kreativitas dianggap sebagai mata uang paling berharga. Perusahaan berlomba menciptakan produk baru, para seniman mencari bentuk ekspresi yang belum pernah ada, dan masyarakat mengagungkan mereka yang mampu menghadirkan gagasan segar. Namun di sisi lain, dalam percakapan keagamaan, kata “baru” sering kali menimbulkan kecurigaan. Sebuah pertanyaan pun muncul: apakah setiap hal baru selalu baik? Ataukah justru berbahaya?

Untuk menjawabnya, menarik menelusuri akar kata Arab yang melahirkan istilah “bid’ah”. Kata itu berasal dari akar yang sama dengan ibdā’, yang berarti menciptakan sesuatu tanpa meniru atau mengikuti contoh sebelumnya. Dalam bahasa Arab klasik, sebuah sumur yang baru pertama kali digali disebut rakiyyah badī‘, sumur yang benar-benar baru dan belum pernah ada sebelumnya.

Makna ini membawa kita pada pengertian yang lebih dalam tentang kreativitas. Mencipta bukan sekadar memodifikasi sesuatu yang sudah ada, melainkan menghadirkan sesuatu yang sebelumnya belum memiliki pola atau teladan. Dalam pengertian tertinggi, kemampuan semacam ini hanya dimiliki oleh Tuhan.

Al-Qur’an menggambarkan Allah sebagai:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Pencipta langit dan bumi yang mengadakan keduanya tanpa contoh sebelumnya.” (QS. Al-Baqarah: 117)

Ayat ini memperlihatkan bahwa penciptaan Tuhan berbeda dari seluruh aktivitas kreatif manusia. Seorang arsitek membutuhkan bahan bangunan. Seorang pelukis memerlukan kanvas dan cat. Seorang penulis membutuhkan bahasa yang sudah tersedia. Bahkan ide paling revolusioner sekalipun lahir dari pengalaman, pengetahuan, atau realitas yang telah ada sebelumnya.

Tuhan tidak demikian. Dalam pemahaman para ulama bahasa, penciptaan Ilahi terjadi tanpa alat, tanpa bahan baku, tanpa keterikatan ruang dan waktu. Karena itu, gelar Al-Badī‘ bukan sekadar berarti “Maha Kreatif”, tetapi “Maha Mengadakan dari ketiadaan”.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara kreativitas manusia dan kreativitas Tuhan. Manusia berinovasi dengan mengolah yang ada, sedangkan Tuhan menciptakan keberadaan itu sendiri.

Baca Juga:  Lafazh `Ajr Hanya Bagi Mereka yang Tak Dapat Dibayar Oleh Dunia

Menariknya, akar kata yang sama juga digunakan dalam firman Allah ketika Nabi Muhammad saw diminta berkata:

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

“Katakanlah, aku bukanlah rasul yang pertama”

Pesan ayat ini sederhana tetapi penting. Nabi Muhammad saw bukanlah fenomena yang muncul tanpa jejak sejarah. Sebelum beliau telah datang banyak nabi dan rasul. Dengan kata lain, risalah yang dibawanya bukan sesuatu yang asing dari tradisi kenabian sebelumnya.

Pemahaman ini membantu kita melihat bahwa dalam pandangan Islam, tidak semua yang bernilai harus selalu baru. Kadang justru kekuatan sebuah ajaran terletak pada kesinambungannya dengan kebenaran yang telah lama ada.

Dari akar kata yang sama lahirlah istilah bid’ah, sebuah kata yang sering menjadi sumber perdebatan panjang. Dalam pengertian bahasa, bid’ah berarti sesuatu yang baru. Namun dalam pengertian keagamaan, maknanya lebih spesifik: menghadirkan suatu keyakinan atau praktik agama yang tidak memiliki dasar dalam ajaran syariat, tidak memiliki pijakan pada prinsip-prinsip yang mapan, dan tidak memiliki teladan dari sumber-sumber yang sahih.

Karena itu, ketika Nabi saw memperingatkan bahwa perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama dapat menyesatkan, yang menjadi persoalan bukanlah unsur “barunya”, melainkan keterlepasannya dari fondasi kebenaran.

Perbedaan ini sering kali hilang dalam perdebatan modern. Banyak orang mengira Islam memusuhi inovasi karena adanya konsep bid’ah. Padahal sejarah peradaban Islam justru menunjukkan sebaliknya. Umat Islam pernah menjadi pelopor dalam ilmu kedokteran, matematika, astronomi, arsitektur, hingga teknologi navigasi. Semua itu merupakan bentuk kreativitas yang sangat maju.

Yang dikritik bukanlah inovasi dalam kehidupan, melainkan perubahan yang mengaburkan prinsip-prinsip dasar agama. Dengan kata lain, Islam membedakan antara kreativitas yang memperkaya kehidupan dan penyimpangan yang mengubah fondasi keyakinan.

Baca Juga:  Ketika Akal Bertemu Wahyu: Warisan Pemikiran Ibnu Sina untuk Dunia Modern

Ada satu makna lain dari kata ibdā’ yang jarang diketahui, tetapi sangat relevan dengan kehidupan modern. Dalam bahasa Arab klasik, kata tersebut juga digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terputus di tengah perjalanan karena tunggangannya kelelahan atau rusak. Ia tidak lagi mampu melanjutkan perjalanan dan akhirnya tertahan di tengah jalan.

Makna ini terasa sangat dekat dengan realitas zaman sekarang. Banyak orang memulai perjalanan hidup dengan ambisi besar. Mereka ingin sukses, terkenal, kaya, atau berpengaruh. Namun di tengah jalan, energi mereka habis. Semangat yang dulu menyala perlahan padam. Mereka mengalami kelelahan mental, kehilangan arah, atau merasa tidak lagi mampu melanjutkan langkah.

Ironisnya, kondisi itu juga disebut dengan akar kata yang sama: ibdā’.

Seakan-akan bahasa Arab klasik sedang mengingatkan bahwa menjadi “pencipta hal baru” dan menjadi “orang yang terhenti di tengah jalan” bisa berasal dari sumber yang sama. Kreativitas membutuhkan tenaga, kesabaran, dan ketekunan. Tanpa itu, seseorang yang semula ingin menghadirkan sesuatu yang luar biasa justru bisa terhenti sebelum mencapai tujuan.

Mungkin di sinilah pelajaran terpenting dari kata ibdā’. Menjadi kreatif bukan hanya soal menghasilkan gagasan baru, tetapi juga memahami batas-batas diri dan menjaga arah perjalanan. Sebab tidak semua kebaruan bernilai, dan tidak semua yang lama harus ditinggalkan.

Dalam dunia yang terobsesi pada hal-hal baru, kita sering lupa bahwa kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan mana inovasi yang membangun dan mana yang sekadar perubahan tanpa arah. Kreativitas sejati bukanlah memberontak terhadap semua tradisi, melainkan menemukan cara baru untuk menghidupkan nilai-nilai yang benar.

Dan mungkin, seperti langit dan bumi yang diciptakan oleh Al-Badi‘, setiap karya besar selalu lahir dari perpaduan antara keberanian untuk mencipta dan kerendahan hati untuk tetap berpijak pada kebenaran.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA