Ifk: Ketika Manusia Bukan Tersesat karena Tidak Tahu, tetapi Karena Tidak Mau Tahu

14 views

ISLAM LIVE– Di zaman media sosial, kebohongan tidak lagi berjalan kaki. Ia berlari. Dalam hitungan detik, sebuah informasi palsu bisa menyebar ke jutaan orang, membentuk opini, memicu kemarahan, bahkan menghancurkan reputasi seseorang. Yang lebih mengkhawatirkan, sering kali kebohongan itu diterima bukan karena benar, melainkan karena sesuai dengan apa yang ingin dipercaya orang.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum internet dan algoritma digital lahir, tradisi Islam telah mengenal satu istilah yang menggambarkan penyimpangan semacam itu: ifk الإفك. Kata ini sering diterjemahkan sebagai kebohongan besar, fitnah, atau hoaks. Namun maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar berkata tidak benar.

Secara bahasa, ifk berarti sesuatu yang dipalingkan dari bentuk atau posisi yang semestinya. Segala sesuatu yang keluar dari jalur kebenaran disebut ifk. Karena itu, dalam bahasa Arab, angin yang berubah arah dari jalur biasanya pun pernah disebut dengan istilah yang berasal dari akar kata yang sama. Intinya sederhana: ada sesuatu yang bergeser dari tempat yang seharusnya.

Dari makna dasar inilah Al-Qur’an menggunakan istilah ifk untuk menggambarkan berbagai bentuk penyimpangan manusia. Bukan hanya kebohongan dalam ucapan, tetapi juga penyimpangan dalam cara berpikir, keyakinan, dan tindakan.

Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang berpaling dari kebenaran dengan ungkapan yang tajam:

فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

“Maka bagaimana kalian bisa dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Fatir: 3)

Pertanyaannya sederhana, tetapi mengandung keheranan yang mendalam. Mengapa manusia memilih jalan yang salah ketika petunjuk begitu jelas? Mengapa seseorang lebih percaya pada kebohongan daripada fakta? Mengapa fitnah sering terdengar lebih menarik dibandingkan kebenaran yang tenang?

Barangkali karena kebohongan sering kali menawarkan sesuatu yang lebih menggoda. Ia memberi pembenaran bagi ego, menguatkan prasangka, atau menyediakan jalan pintas untuk mendapatkan keuntungan. Kebenaran menuntut keberanian dan kejujuran, sementara kebohongan menawarkan kenyamanan sesaat.

Baca Juga:  Refleksi Hadis: Kasih Sayang Rasulallah terhadap Kucing

Karena itulah Al-Qur’an tidak memandang ifk hanya sebagai kesalahan informasi. Ia adalah proses berpaling dari kebenaran menuju kepalsuan. Berpaling dari kejujuran menuju dusta. Berpaling dari keindahan moral menuju keburukan perilaku.

Makna ini menjadi sangat relevan dalam kehidupan modern. Hari ini kita hidup di tengah banjir informasi yang nyaris tanpa batas. Ironisnya, semakin banyak informasi tersedia, semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia pada pengetahuan justru sering menjadi sarana penyebaran disinformasi.

Setiap hari orang menerima potongan-potongan berita, video pendek, kutipan yang dipelintir, atau narasi yang sengaja dibangun untuk mempengaruhi emosi. Banyak yang langsung membagikannya tanpa verifikasi. Akibatnya, kebohongan tidak hanya diproduksi oleh pembuatnya, tetapi juga diperkuat oleh mereka yang menyebarkannya.

Di sinilah ifk menemukan bentuk modernnya.

Ia tidak selalu hadir sebagai fitnah besar. Kadang ia muncul sebagai judul sensasional yang menyesatkan. Kadang sebagai informasi setengah benar yang sengaja dipotong konteksnya. Kadang sebagai narasi yang tampak logis tetapi sebenarnya dibangun di atas asumsi yang keliru.

Lebih jauh lagi, ifk juga dapat menjangkiti cara berpikir manusia. Seseorang bisa menjadi korban kebohongan bukan karena kurang informasi, melainkan karena tidak lagi mau menerima kebenaran yang bertentangan dengan keyakinannya. Dalam kondisi seperti itu, fakta kehilangan kekuatannya. Yang tersisa hanyalah keinginan untuk membenarkan diri sendiri.

Al-Qur’an pernah menyebut para penyebar kebohongan sebagai:

لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ

“Bagi setiap pendusta yang bergelimang dosa.” (QS. Al-Jatsiyah: 7)

Menariknya, istilah yang digunakan bukan sekadar orang yang pernah berbohong, tetapi mereka yang menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan dan karakter. Dusta bukan lagi tindakan sesaat, melainkan cara hidup.

Baca Juga:  Basyar: Ketika Al-Qur'an Mengingatkan Bahwa Kita Semua Hanya Manusia

Di titik inilah kebohongan menjadi berbahaya. Sebab ia tidak hanya merusak hubungan antarindividu, tetapi juga menghancurkan fondasi kepercayaan sosial. Ketika masyarakat tidak lagi percaya pada fakta, ketika setiap informasi dianggap manipulasi, dan ketika kebenaran diperlakukan sama dengan kebohongan, maka yang lahir adalah kekacauan moral.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak tragedi besar berawal dari penyimpangan semacam ini. Fitnah politik, propaganda perang, penghakiman massa, hingga konflik sosial sering kali berakar pada informasi yang dipelintir dari kenyataan.

Karena itu, melawan ifk bukan sekadar tugas para jurnalis atau pemeriksa fakta. Ia adalah tanggung jawab moral setiap orang. Setiap kali seseorang menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas, ia sedang menjaga ruang publik dari kerusakan. Setiap kali seseorang berani mengakui kesalahan dan kembali kepada fakta, ia sedang memulihkan martabat kebenaran.

Menariknya, para ulama bahasa juga menjelaskan bahwa seseorang yang kehilangan kemampuan membedakan yang benar dan salah dapat disebut sebagai orang yang “terpalingkan akalnya”. Artinya, kebohongan yang terus-menerus dipelihara pada akhirnya tidak hanya menipu orang lain, tetapi juga menipu diri sendiri.

Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin tantangan terbesar manusia modern bukanlah kekurangan informasi, melainkan keberanian untuk tetap setia pada kebenaran. Sebab kebohongan selalu menawarkan jalan yang lebih mudah, sementara kebenaran sering menuntut kesabaran.

Pada akhirnya, ifk bukan sekadar persoalan kata-kata yang salah. Ia adalah kisah tentang manusia yang perlahan menjauh dari arah yang semestinya. Dan pertanyaan yang diajukan Al-Qur’an ribuan tahun lalu tetap relevan hingga hari ini: jika jalan kebenaran telah tampak begitu jelas, lalu mengapa manusia masih memilih untuk berpaling?

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA