ISLAM LIVE— Ada luka yang tidak meninggalkan darah. Tidak tampak di kulit, tidak terdengar suaranya, tetapi diam-diam menghancurkan manusia dari dalam. Luka itu bernama adza “gangguan, rasa sakit”, atau penderitaan yang ditimpakan kepada orang lain. Dalam kehidupan modern, ia hadir dalam bentuk yang sangat akrab: ucapan yang merendahkan, sindiran di media sosial, penghinaan atas nama candaan, bahkan kebaikan yang disertai pamer dan rasa ingin dipuji.
Al-Qur’an menyebutnya dengan satu kata sederhana namun tajam: الأذى.
Kata itu tidak hanya berarti kekerasan fisik. Dalam khazanah Islam klasik, adza dijelaskan sebagai segala bentuk bahaya atau penderitaan yang sampai kepada makhluk hidup, baik mengenai jiwa, tubuh, maupun kehidupan sosialnya di dunia ataupun akhirat. Sebuah definisi yang terasa sangat modern. Sebab hari ini manusia justru lebih sering hancur bukan karena pukulan, melainkan karena tekanan psikologis, penghinaan sosial, dan rasa dipermalukan.
Karena itu Al-Qur’an memberikan peringatan yang terdengar sangat keras kepada orang-orang yang merasa dirinya sedang berbuat baik:
لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى
“Jangan batalkan sedekah kalian dengan ungkitan dan menyakiti perasaan” (QS. Al-Baqarah: 264)
Ayat ini terasa mengguncang karena ia membongkar satu ironi besar dalam kehidupan religius manusia: seseorang bisa memberi bantuan, tetapi sekaligus melukai. Bisa tampak dermawan, tetapi diam-diam menghancurkan harga diri orang lain.
Betapa sering bantuan berubah menjadi alat kekuasaan. Orang miskin diberi, lalu jasanya diungkit terus-menerus. Bantuan sosial dijadikan panggung pencitraan. Sedekah direkam kamera. Kebaikan dipakai untuk membuat orang lain merasa kecil. Dalam situasi seperti itu, Islam justru tidak hanya menilai “apa yang diberikan”, tetapi juga “bagaimana perasaan orang yang menerima”.
Di titik inilah konsep adza menjadi sangat penting. Islam tidak memandang manusia sekadar tubuh, tetapi juga martabat.
Menariknya, Al-Qur’an memakai kata yang sama dalam banyak konteks berbeda. Ketika berbicara tentang orang-orang yang menyakiti Nabi saw, Al-Qur’an berkata:
وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ
“Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan berkata: ia terlalu mudah mendengar” (QS. AT-Taubah: 61)
Yang dilakukan orang-orang itu tampaknya sederhana: ejekan, sindiran, komentar sinis. Tetapi Al-Qur’an menyebutnya sebagai tindakan menyakiti. Artinya, luka verbal dipandang serius. Kata-kata bukan benda ringan. Ia bisa menjadi senjata.
Mungkin karena itulah dunia digital hari ini terasa begitu melelahkan. Media sosial menjadikan manusia terbiasa melukai tanpa merasa bersalah. Orang menghina sambil tertawa. Mempermalukan orang lain dianggap hiburan. Kebencian diproduksi massal dalam bentuk komentar dan potongan video singkat. Kita hidup di zaman ketika adza menjadi tontonan sehari-hari.
Ironinya, banyak orang merasa tidak melakukan dosa besar karena tidak memukul atau mencuri. Padahal mereka mungkin setiap hari menghancurkan hati orang lain lewat ucapan.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى
“Janganlah kalian seperti orang-orang yang menyakiti Musa” (QS.AL-Ahzab : 69)
Ayat itu bukan hanya bicara tentang kekerasan fisik. Nabi Musa a.s disakiti oleh tuduhan, prasangka, pembangkangan, dan ucapan yang melampaui batas. Lagi-lagi, luka batin diposisikan setara dengan penderitaan nyata.
Dalam kehidupan modern, bentuk-bentuk adza semakin halus dan sulit dikenali. Ada orang yang sengaja meremehkan pasangan hidupnya di depan umum. Ada atasan yang menghancurkan mental bawahan dengan kalimat-kalimat kecil. Ada anak yang tumbuh dengan trauma karena terus dibandingkan. Ada pula budaya internet yang menjadikan penghinaan sebagai ukuran kecerdasan.
Semua tampak biasa. Tetapi Islam memandangnya sebagai sesuatu yang serius.
Bahkan ketika Al-Qur’an berbicara tentang haid, digunakan pula istilah yang sama:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى
“Mereka bertanya tentang haid. Katakanlah: itu adalah kondisi yang membawa gangguan.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Para ulama menjelaskan bahwa adza di sini menunjukkan sesuatu yang membawa ketidaknyamanan atau dampak tertentu, baik secara fisik maupun kesehatan. Ini menunjukkan betapa luasnya makna kata tersebut: segala sesuatu yang menghadirkan penderitaan, gangguan, atau rasa sakit.
Dengan kata lain, Islam memiliki sensitivitas tinggi terhadap rasa tidak nyaman manusia. Bahkan gangguan kecil sekalipun diperhatikan.
Barangkali karena itu Nabi saw pernah mengajarkan bahwa menyingkirkan duri dari jalan termasuk bagian dari iman. Pesannya sederhana tetapi dalam: jangan menjadi sumber gangguan bagi hidup orang lain.
Di tengah dunia yang makin bising, ajaran ini terasa semakin relevan. Banyak manusia hari ini ingin terlihat kuat, tetapi lupa cara bersikap lembut. Orang berlomba menjadi paling vokal, paling dominan, paling berpengaruh, tetapi tidak lagi peduli apakah kehadirannya menenangkan atau justru melukai.
Padahal mungkin ukuran kedewasaan spiritual bukan terletak pada seberapa banyak ibadah yang dipamerkan, melainkan seberapa sedikit rasa sakit yang kita tinggalkan di hati orang lain.
Sebab tidak semua dosa terdengar keras. Sebagian datang dalam bentuk nada bicara yang merendahkan. Sebagian hadir sebagai komentar singkat yang menghancurkan kepercayaan diri seseorang selama bertahun-tahun. Sebagian lagi muncul dari ego yang merasa paling benar lalu dengan mudah menghakimi.
Dan mungkin, inilah salah satu tragedi terbesar manusia modern: kita semakin takut disakiti secara fisik, tetapi semakin terbiasa menyakiti secara emosional.
Islam, jauh sebelum psikologi modern berbicara tentang trauma verbal dan kekerasan emosional, sudah lebih dulu mengingatkan bahwa manusia memiliki hati yang bisa terluka. Bahwa lidah dapat lebih tajam daripada senjata. Dan bahwa kebaikan yang dibarengi penghinaan bukanlah kebaikan sama sekali.
Pada akhirnya, dunia mungkin tidak kekurangan orang pintar, orang sukses, atau orang religius. Tetapi dunia sangat kekurangan manusia yang tidak menyakiti.
