ISLAM LIVE – Buku Islam Sontoloyo karya Ir. Sukarno (Bung Karno) yang ditulis pada tahun 1940 dan diterbitkan pertama kali oleh Pandji Islam menjadi salah satu karya pemikiran yang paling banyak diperbincangkan hingga sekarang. Dari judulnya saja, banyak orang merasa terkejut. Namun sebenarnya, Bung Karno tidak sedang menghina Islam. Ia justru mengkritik cara beragama yang dianggap kehilangan semangat kemajuan, kemanusiaan, dan akal sehat.
Melalui buku ini, Presiden Pertama, sekaligus Bapak Proklamator, Bung Karno mengajak umat Islam untuk kembali memahami ajaran agama secara mendalam, bukan sekadar sibuk pada simbol dan formalitas. Ia melihat ada kecenderungan sebagian masyarakat yang terlalu fokus pada aturan lahiriah, tetapi melupakan nilai keadilan, persatuan, dan perjuangan sosial yang menjadi inti ajaran Islam.
Salah satu pernyataan Bung Karno yang paling terkenal dalam buku tersebut berbunyi, “Bukan apinya, bukan nyalanya, tetapi abunya.” Kalimat itu digunakan Bung Karno untuk menggambarkan bagaimana sebagian umat hanya mengambil “kulit” agama, tetapi meninggalkan semangat pembebasan dan perubahan yang terkandung di dalamnya.
Bung Karno juga mengkritik kecenderungan umat yang terlalu memuja fiqh tanpa memahami tujuan besar agama. Dalam salah satu bagian buku, ia menyebut bahwa Islam seharusnya menjadi kekuatan yang mendorong kemajuan masyarakat, melawan kebodohan, kemiskinan, dan penjajahan. Karena itu, ia menolak cara beragama yang sempit dan mudah menyalahkan orang lain.
Meski ditulis puluhan tahun lalu, isi Islam Sontoloyo masih terasa relevan hingga hari ini. Buku tersebut mengingatkan bahwa agama tidak cukup hanya dipahami sebagai ritual, tetapi juga harus melahirkan keberanian berpikir, kepedulian sosial, dan semangat membangun bangsa. Itulah sebabnya karya Bung Karno ini terus dibaca dan diperdebatkan oleh banyak kalangan hingga sekarang.
