ISLAM LIVE – Iran meluncurkan serangan ke wilayah Uni Emirat Arab untuk pertama kalinya dalam hampir satu bulan terakhir. Serangan itu memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Pemerintah UEA menyebut sistem pertahanan udaranya menghadapi 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone yang diluncurkan Iran ke sejumlah wilayah strategis negara Teluk tersebut.
Serangan itu memecah ketenangan rapuh setelah gencatan senjata antara Iran dan aliansi Amerika Serikat-Israel mulai berlaku sejak awal April lalu di tengah konflik yang terus membesar di kawasan.
Salah satu target yang diserang disebut berada di kota pelabuhan Fujairah. Sebuah terminal minyak yang sebagian dimiliki Vitol Group dilaporkan terkena dampak serangan drone Iran tersebut.
Kantor media Fujairah melaporkan kebakaran besar terjadi di kawasan industri minyak usai serangan berlangsung. Sedikitnya tiga orang dilaporkan mengalami luka dalam insiden tersebut.
Di Dubai dan Abu Dhabi, warga menerima peringatan melalui telepon genggam untuk segera menuju lokasi aman. Situasi ini memicu kepanikan karena ancaman serangan dianggap masih berlanjut.
Pasar global langsung merespons ketegangan itu. Harga minyak mentah Brent melonjak hampir enam persen dan diperdagangkan di kisaran 114 dolar AS per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Konflik besar di kawasan dimulai sejak akhir Februari ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Teluk.
Ribuan korban jiwa dilaporkan jatuh sejak konflik pecah. Sebagian besar korban berada di Iran dan Lebanon, tempat Israel juga terlibat pertempuran dengan kelompok Hezbollah yang didukung Teheran.
Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan Iran sebagai “eskalasi berbahaya,” dan menegaskan bahwa negaranya “tidak akan menoleransi ancaman apa pun terhadap keamanan dan kedaulatannya.” tutupnya.
