بلوغ: Ketika Sampai Bukan Sekadar Tiba

1 views

 ISLAM LIVE – Ada satu kata dalam Al-Qur’an yang tampak sederhana, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar “sampai”. Kata itu adalah bulugh. Kita sering mengaitkannya dengan usia balig, tanda seseorang memasuki fase kedewasaan. Namun, akar kata ini ternyata berbicara tentang perjalanan yang lebih luas: mencapai tujuan, menunaikan amanah, menyampaikan pesan, bahkan menemukan kecukupan dalam hidup.

Di tengah zaman yang mengukur keberhasilan dari kecepatan dan pencapaian, bulugh mengingatkan bahwa yang paling penting bukan sekadar tiba di garis akhir, melainkan bagaimana seseorang benar-benar sampai pada makna yang seharusnya ia capai.

Dalam bahasa Arab, bulugh berarti mencapai batas tertinggi atau tujuan akhir, baik dalam ruang, waktu, maupun suatu keadaan tertentu. Kadang-kadang ia juga digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sudah sangat dekat dengan tujuan itu meskipun belum benar-benar menyentuhnya. Karena itu, Al-Qur’an menggunakan kata ini dalam berbagai konteks kehidupan.

Tentang kedewasaan manusia, Allah berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً

“…hingga ketika dia mencapai kedewasaan dan mencapai usia empat puluh tahun” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ayat ini menarik karena tidak memandang usia sebagai sekadar hitungan angka. Ada proses bertumbuh, matang, dan akhirnya sampai pada titik ketika seseorang mampu melihat hidup dengan kebijaksanaan. Menjadi dewasa bukan hanya soal bertambah umur, tetapi tentang kesiapan memikul tanggung jawab.

Makna “sampai” juga muncul dalam kisah Nabi Ibrahim a.s ketika putranya telah cukup besar untuk berjalan dan bekerja bersama ayahnya.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ

“Ketika anak itu telah sampai pada usia mampu berusaha bersama ayahnya” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kalimat itu menjadi awal dari salah satu ujian terbesar dalam sejarah para nabi. Menariknya, Al-Qur’an tidak menyebut usia sang anak secara angka. Yang ditekankan justru kesiapan dirinya. Rupanya, dalam pandangan wahyu, pencapaian tidak selalu diukur dengan kalender, tetapi dengan kemampuan memikul amanah.

Di titik ini, bulugh mulai memperlihatkan wajah lain. Ia tidak hanya berbicara tentang manusia yang mencapai sesuatu, tetapi juga tentang pesan yang harus sampai kepada manusia.

Baca Juga:  Buruj: Tentang Menara-Menara yang Kita Dirikan untuk Menutupi Ketakutan

Al-Qur’an berulang kali menggunakan kata yang berasal dari akar yang sama ketika berbicara tentang tugas para nabi.

وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Tidak ada kewajiban atas kami selain menyampaikan dengan jelas” (QS. Yasin: 17)

Begitu pula firman-Nya:

فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

“Tugasmu hanyalah menyampaikan, sedangkan perhitungan menjadi urusan Kami” (QS. Ar-Ra’d: 40)

Dua ayat ini mengubah cara kita memandang dakwah, pendidikan, bahkan komunikasi sehari-hari. Yang dituntut dari manusia bukan memastikan semua orang menerima pendapatnya. Yang diwajibkan adalah menyampaikan kebenaran secara jelas, jujur, dan bertanggung jawab. Hidayah bukan berada di tangan penyampai, melainkan di tangan Allah.

Namun, menyampaikan ternyata bukan perkara sederhana. Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas kepada Nabi Muhammad saw:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan, maka berarti engkau sama sekali tidak menyampaikan risalah-Nya” (QS. Al-Ma’idah: 67)

Ayat ini menunjukkan betapa besar arti sebuah amanah. Dalam kehidupan biasa, seseorang mungkin dianggap berhasil walaupun hanya menyelesaikan sebagian tugasnya. Akan tetapi, bagi para nabi, menyembunyikan satu bagian dari wahyu sama artinya dengan mengabaikan keseluruhan amanah. Standar moral mereka jauh lebih tinggi dibandingkan manusia pada umumnya.

Pesan itu tetap relevan hingga hari ini. Setiap orang memikul amanah sesuai kapasitasnya: orang tua kepada anak, guru kepada murid, pemimpin kepada rakyat, penulis kepada pembacanya. Amanah kehilangan makna ketika disampaikan setengah hati atau dipilih-pilih sesuai kepentingan.

Dalam konteks lain, akar kata yang sama juga melahirkan istilah balagh, yang berarti kecukupan. Al-Qur’an menyatakan:

إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ

“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat kecukupan bagi kaum yang beribadah” (QS. Al-Anbiya: 106)

Baca Juga:  Riba: Ketika Uang Beranak Pinak dan Manusia Kehilangan Keseimbangan

Makna ini terasa sangat menarik. Ternyata, sesuatu disebut balagh bukan hanya karena ia sampai kepada seseorang, tetapi juga karena ia telah cukup untuk memenuhi kebutuhan terdalamnya. Dalam dunia yang terus mendorong manusia merasa kurang, Al-Qur’an justru berbicara tentang kecukupan yang lahir dari petunjuk.

Barangkali karena itu pula, bahasa Arab mengenal kata bulghah, yaitu bekal yang membuat seseorang mampu melanjutkan perjalanan hidup. Bukan kemewahan, melainkan sesuatu yang cukup untuk terus berjalan. Ada kebijaksanaan besar di baliknya: hidup tidak selalu membutuhkan segala sesuatu, tetapi membutuhkan apa yang benar-benar mencukupi.

Akar kata bulugh bahkan melahirkan istilah yang sangat akrab dalam tradisi Islam: balaghah, atau retorika. Akan tetapi, balaghah bukan sekadar kepandaian bermain kata. Sebuah ucapan baru disebut baligh apabila memenuhi tiga syarat sekaligus: bahasanya benar, maknanya tepat, dan isinya benar. Keindahan tanpa kebenaran hanyalah hiasan. Sebaliknya, kebenaran yang disampaikan tanpa mempertimbangkan keadaan pendengar sering kali kehilangan daya sentuhnya.

Karena itu Allah memerintahkan:

وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا

“Katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas dalam jiwa mereka” (QS. An-Nisa’: 63)

Perkataan yang baligh bukanlah kata-kata yang rumit. Ia justru sederhana, tetapi tepat sasaran. Ia tidak hanya terdengar di telinga, melainkan sampai ke hati.

Dalam konteks yang lebih luas, bulugh mengajarkan bahwa kehidupan bukan perlombaan mengumpulkan pencapaian. Ada orang yang mencapai usia tua, tetapi tidak pernah sampai pada kebijaksanaan. Ada yang memiliki jabatan tinggi, tetapi gagal menyampaikan amanah. Ada pula yang pandai berbicara, tetapi ucapannya tidak pernah menyentuh hati siapa pun.

Mungkin karena itulah Al-Qur’an memilih kata bulugh untuk menggambarkan begitu banyak fase kehidupan. Sebab yang terpenting bukan sekadar bergerak, melainkan benar-benar sampai. Sampai pada kedewasaan, sampai pada tanggung jawab, sampai pada kejujuran, sampai pada kecukupan, dan akhirnya sampai kepada tujuan terbesar hidup manusia: kembali kepada Allah dengan hati yang telah menunaikan amanahnya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA