ISLAM LIVE – Ada masa ketika yang paling sulit dalam hidup bukanlah melangkah maju, melainkan tetap berdiri. Dunia berubah terlalu cepat, keadaan berbalik tanpa aba-aba, keyakinan diguncang keraguan, dan sesuatu yang kemarin terasa pasti mendadak kehilangan pijakan. Pada saat seperti itu, manusia membutuhkan satu hal yang sering terdengar sederhana, tetapi justru paling sukar dilakukan: keteguhan.
Dalam bahasa Al-Qur’an, gagasan itu berakar pada kata ثبت tsabat tetap, kokoh, tidak mudah lenyap atau bergeser. Ia berlawanan dengan زوال zawal, keadaan ketika sesuatu kehilangan tempatnya, berubah, atau lenyap. Karena itu, keteguhan bukan sekadar kemampuan bertahan secara fisik. Ia juga menyangkut sesuatu yang lebih dalam: kemampuan hati dan pikiran untuk tetap memiliki pijakan ketika segala sesuatu di luar diri sedang bergerak.
Al-Qur’an menggambarkan keteguhan itu dengan bahasa yang sangat konkret. Ketika orang-orang beriman berhadapan dengan kelompok yang menghadang mereka, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan suatu pasukan, maka tetaplah teguh”
(QS. Al-Anfal: 45)
Perintah itu menarik karena yang diminta bukan pertama-tama kemenangan. Yang diminta adalah tsabat: jangan kehilangan pijakan.
Di titik ini, keteguhan menjadi lebih luas daripada keberanian. Orang yang berani mungkin sanggup melakukan sesuatu yang besar dalam satu kesempatan. Tetapi orang yang teguh mampu mempertahankan arah ketika keberanian itu mulai surut. Ia tidak selalu tampak heroik. Kadang-kadang ia hanya berupa kesediaan untuk tetap memegang prinsip ketika tidak ada tepuk tangan, tetap bekerja ketika hasil belum terlihat, atau tetap jujur ketika kebohongan jauh lebih menguntungkan.
Karena itu pula, dalam tradisi bahasa Arab, seseorang disebut tsabit dalam peperangan ketika ia tidak mudah goyah. Namun kata ini tidak berhenti pada medan pertempuran. Sesuatu dapat disebut tsabit karena ia diyakini keberadaannya melalui penglihatan ataupun melalui kesadaran dan pengetahuan. Kita dapat mengatakan bahwa seseorang “tetap” dalam pandangan kita, bahwa sebuah keyakinan “kokoh”, atau bahwa kenabian seorang nabi merupakan sesuatu yang telah terbukti dan tetap.
Dengan demikian, keteguhan iman bukanlah sikap keras kepala. Ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Keras kepala mempertahankan sesuatu karena enggan berubah. Keteguhan mempertahankan sesuatu karena mengetahui mengapa ia layak dipertahankan.
Namun jika ditarik lebih jauh, Al-Qur’an justru memperlihatkan bahwa keteguhan tidak selalu lahir dari kekuatan manusia sendiri. Ada pertolongan yang membuat seseorang mampu tetap berdiri ketika dirinya hampir runtuh.
Allah berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia”
(QS. Ibrahim: 27)
Ayat ini menyimpan gambaran yang dalam. Manusia bisa memiliki keyakinan, tetapi keyakinan itu membutuhkan penguatan. Ia bisa mengetahui kebenaran, tetapi pengetahuan saja belum tentu membuatnya mampu bertahan ketika tekanan datang. Ada jarak antara mengetahui sesuatu dan tetap berdiri di atasnya.
Jarak itulah yang disebut keteguhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin mengenalnya dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Seseorang tahu bahwa kejujuran adalah benar, tetapi baru terlihat keteguhannya ketika kejujuran membuatnya rugi. Seseorang percaya bahwa kebaikan harus dilakukan, tetapi keteguhannya baru tampak ketika kebaikan itu tidak segera menghasilkan balasan. Seseorang meyakini bahwa hidup memiliki arah, tetapi keyakinan itu baru diuji ketika jalan yang ditempuh terasa panjang dan sepi.
Gagasan ini kemudian menyentuh satu sisi lain dari tsabat: tindakan yang benar dapat memperkuat manusia itu sendiri.
Al-Qur’an berkata:
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا
“Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan apa yang dinasihatkan kepada mereka, niscaya itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan”
(QS. An-Nisa: 66)
Ada paradoks kecil di sini: kita sering menunggu hati menjadi kuat sebelum melakukan sesuatu yang benar. Padahal bisa jadi justru tindakan yang benar itulah yang membuat hati semakin kuat.
Keteguhan, dengan demikian, bukan benda yang sekali diperoleh lalu disimpan selamanya. Ia dibentuk oleh kebiasaan. Ia tumbuh melalui pilihan-pilihan kecil yang terus diulang. Setiap kali seseorang menolak menyerah kepada keburukan, setiap kali ia kembali kepada kebenaran setelah tergelincir, setiap kali ia memilih bertahan di jalan yang diyakininya benar, sesuatu dalam dirinya sedang diperkuat.
Itulah sebabnya Al-Qur’an juga memuat doa yang sangat singkat tetapi terasa begitu manusiawi:
وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا
“Dan teguhkanlah langkah-langkah kami”
(QS. Al-Baqarah: 250)
Perhatikan kata yang digunakan: langkah. Bukan hanya pikiran, bukan hanya hati. Sebab keyakinan pada akhirnya harus mempunyai jejak dalam tindakan.
Dalam dunia yang gemar memuja kecepatan, kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri sering dianggap sebagai kelemahan. Orang didorong untuk segera berubah, segera beradaptasi, segera mengikuti arus. Padahal tidak semua perubahan harus diikuti. Ada saat ketika manusia justru perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya tidak boleh berubah dalam dirinya?
Mungkin di sanalah makna tsabat menemukan relevansinya hari ini. Hidup memang terus bergerak. Pendapat berubah, keadaan berganti, kekuasaan datang dan pergi, bahkan manusia sendiri berubah dari waktu ke waktu. Tetapi di tengah semua perubahan itu, selalu ada sesuatu yang perlu dijaga agar kita tidak ikut hanyut.
Sebab hidup bukan hanya soal seberapa jauh kita mampu berjalan. Ada saat ketika pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika angin berubah, apakah kita masih tahu di mana harus berdiri?
