ISLAM LIVE – Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil., mengingatkan lembaga pendidikan tahfidz agar tidak hanya berfokus pada pencapaian hafalan Al-Qur’an. Menurutnya, pendidikan Al-Qur’an harus mampu melahirkan pribadi yang memahami, mengamalkan, dan menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Hamid saat menjadi pembicara dalam INSISTS Camp 2026 Batch 3 bertema “Bina Ketahanan Keluarga untuk Generasi Berdaya” di Cisarua, Bogor, Sabtu (25/7/2026).
“Al-Qur’an itu bukan hanya dihafal, tetapi dipahami dan diamalkan,” tegas Prof. Hamid.
Ia menilai, maraknya sekolah tahfidz di Indonesia merupakan perkembangan positif bagi pendidikan Islam. Namun, keberhasilan pendidikan tidak semestinya diukur hanya dari banyaknya hafalan yang dimiliki peserta didik.
Menurut Prof. Hamid, menghafal Al-Qur’an hanyalah tahapan awal dalam proses belajar. Setelah itu, peserta didik perlu dibimbing untuk memahami kandungan ayat serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Dalam taksonomi belajar, menghafal itu baru tahap awal. Tahap berikutnya adalah memahami dan mengamalkan. Jadi bagi Bapak dan Ibu yang menyekolahkan anaknya ke pondok tahfidz, jangan bangga dulu jika anak baru sekadar hafal. Itu baru satu tahap. Jika hafalan itu tidak diiringi dengan pemahaman dan pengamalan, nilai keberkahannya akan hilang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena sebagian anak yang mampu menghafal Al-Qur’an sejak usia dini, tetapi hafalannya berkurang ketika dewasa dan tidak tercermin dalam perilaku. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena proses pendidikan lebih menitikberatkan pada hafalan lafaz tanpa diimbangi pemahaman terhadap makna Al-Qur’an.
Prof. Hamid menegaskan tujuan akhir pendidikan tahfidz bukan sekadar mencetak hafiz atau hafizhah, melainkan membentuk manusia yang beradab, berakhlak mulia, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak.
