ISLAM LIVE – Munculnya aliansi suku anti-Houthi di Provinsi Al-Jawf dinilai menjadi tantangan baru bagi kelompok Houthi di tengah meningkatnya potensi pecah kembali perang di Yaman. Para analis menilai persatuan suku tersebut dapat memperkuat posisi pemerintah Yaman apabila konflik kembali meluas.
Senior Fellow di Washington Center for Yemeni Studies, Marwan Ali Noman, mengatakan terbentuknya aliansi suku di Al-Jawf merupakan perkembangan penting yang perlu diperhatikan Houthi.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya koordinasi pasukan pemerintah dan perhatian internasional terhadap keamanan jalur pelayaran di Laut Merah.
“Perkembangan ini dapat meningkatkan kemampuan [pasukan anti-Houthi] untuk meraih keuntungan teritorial jika eskalasi baru-baru ini berkembang menjadi konfrontasi apa pun,” kata Noman kepada Al Jazeera pada 27/7/2026.
Ia menjelaskan bahwa Houthi masih memiliki kemampuan militer yang kuat, terutama dalam penggunaan rudal dan pesawat nirawak. Namun, setelah berakhirnya keterlibatan langsung Uni Emirat Arab dalam konflik, pasukan pemerintah Yaman dinilai berhasil membangun koordinasi politik, perencanaan militer, dan dukungan eksternal yang lebih baik.
Aliansi suku tersebut muncul setelah ribuan anggota suku dari berbagai wilayah berkumpul di Al-Jawf dan mengecam otoritas Houthi. Aksi itu dipicu oleh kasus penahanan seorang pemimpin suku, Hamad al-Hazmi, yang mengaku mengalami perlakuan tidak adil selama ditahan di Sanaa sebelum akhirnya dibebaskan pada akhir Juni.
Beberapa hari terakhir ini, ketegangan di Yaman kembali meningkat setelah Houthi mengklaim menyerang dua kapal Saudi di Laut Merah menggunakan rudal dan pesawat nirawak. Bentrokan juga terjadi antara pasukan Houthi dan pasukan pemerintah di Provinsi Dhale, memunculkan kekhawatiran bahwa konflik berskala penuh dapat kembali terjadi setelah empat tahun masa relatif tenang.
