ISLAM LIVE — Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di enam provinsi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 542 titik pada 12 Oktober 2026. Data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) berdasarkan pemantauan satelit NASA pukul 21.00 WIB menunjukkan kenaikan dari 238 titik pada hari sebelumnya.
Secara nasional, jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tercatat mencapai 1.085 titik. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyatakan terus memperkuat upaya pengendalian karhutla, terutama di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah, di tengah peningkatan titik panas di sejumlah wilayah.
Kalimantan Tengah mencatat jumlah titik panas tertinggi di antara enam provinsi prioritas, yakni 227 titik, naik dari 74 titik pada hari sebelumnya. Sumatera Selatan berada di urutan berikutnya dengan 147 titik, meningkat dari 121 titik, sedangkan Kalimantan Selatan mencatat 113 titik, naik dari 15 titik.
Peningkatan juga terjadi di Kalimantan Barat, dari 24 menjadi 31 titik, serta Jambi, dari empat menjadi 24 titik. Sementara itu, Riau tidak mencatat titik panas dalam data pemantauan tersebut. Titik panas merupakan hasil deteksi satelit dan tidak otomatis menunjukkan kebakaran yang telah terkonfirmasi di setiap lokasi.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau penanganan karhutla di Kalimantan Selatan pada 12 Oktober. Salah satu lokasi operasi berada di kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru. Penanganan dilakukan melalui operasi darat dan udara dengan melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan relawan.
Upaya pengendalian juga mencakup pembasahan kanal dan pendinginan lahan gambut. Kemenhut turut melakukan pemantauan kualitas udara, penyelamatan satwa terdampak, serta penegakan hukum. Masyarakat diimbau tidak membakar lahan untuk membuka area baru dan melaporkan kejadian kebakaran kepada pihak berwenang.
Dalam kunjungan tersebut, informasi BMKG menyebutkan hujan alami yang lebih konsisten di Kalimantan Selatan diperkirakan mulai terjadi sekitar pertengahan November. Sambil menunggu kondisi tersebut, pengendalian karhutla terus dilakukan untuk menangani titik panas dan mengurangi risiko meluasnya kebakaran.
