Makna “Bard”: Ketika Segala yang Bergejolak Akhirnya Diam

18 views

ISLAM LIVE– Ada kata-kata yang tampaknya sederhana, tetapi menyimpan perjalanan makna yang panjang. Dalam bahasa Arab, salah satunya adalah bard (برد). Secara harfiah ia berarti dingin, lawan dari panas. Namun ketika ditelusuri lebih dalam, kata ini ternyata tidak hanya berbicara tentang suhu. Ia merambah ke wilayah jiwa, kematian, ketenangan, bahkan kebahagiaan hidup.

Mungkin itu sebabnya manusia sejak dahulu selalu mengaitkan kesejukan dengan rasa nyaman. Di tengah terik yang menyengat, yang dicari adalah tempat teduh. Dalam kepenatan hidup, yang didambakan adalah ketenteraman. Dingin, dalam pengertian tertentu, menjadi simbol dari berakhirnya kegelisahan.

Bahasa sering kali menyimpan cara pandang sebuah peradaban. Dalam tradisi Arab klasik, kata bard tidak hanya digunakan untuk menggambarkan udara yang sejuk atau air yang dingin. Kata itu juga dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang telah menetap dan menjadi tenang. Hutang yang sudah pasti disebut “telah dingin” dalam arti telah tetap keberadaannya. Sesuatu yang tidak menetap justru dikatakan belum “dingin” di tangan seseorang.

Di titik ini, dingin bukan lagi sekadar kondisi fisik. Ia menjadi metafora bagi stabilitas. Sesuatu yang panas bergerak, bergolak, dan berubah-ubah. Sebaliknya, sesuatu yang dingin cenderung tenang dan mantap. Maka tidak mengherankan jika makna “dingin” berkembang menjadi “tetap” dan “mapan”.

Gagasan ini kemudian menyentuh wilayah yang lebih dalam: kematian.

Orang Arab klasik menggunakan kata yang sama untuk menggambarkan seseorang yang meninggal dunia. Ketika ruh meninggalkan jasad, panas kehidupan perlahan menghilang. Tubuh menjadi dingin. Namun yang menarik, hubungan antara dingin dan kematian tidak semata-mata karena perubahan suhu tubuh. Kematian juga menghadirkan keadaan diam yang sempurna. Semua kesibukan, ambisi, dan kegelisahan dunia berhenti pada satu titik yang tak dapat ditawar.

Baca Juga:  Al-Qur’an, Kesehatan Mental, dan Makna “Syarh al-Shadr”

Karena itulah pedang yang mematikan pernah disebut sebagai “pedang-pedang yang mendinginkan”. Bukan karena ia membawa kesejukan, melainkan karena ia menyebabkan seseorang memasuki keadaan yang sunyi dan tak bergerak.

Namun makna bard tidak berhenti pada kematian. Dalam tradisi Al-Qur’an, kata ini juga terkait dengan tidur.

Allah berfirman:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا

“Allah memegang jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati ketika tidurnya” (QS. Az-Zumar: 42)

Ayat ini mengisyaratkan kedekatan antara tidur dan kematian. Keduanya merupakan jeda dari hiruk-pikuk kesadaran. Dalam beberapa penjelasan bahasa Arab klasik, kata bard bahkan digunakan untuk menunjukkan tidur itu sendiri.

Sebuah ayat lain berbicara tentang penghuni neraka:

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا

“Mereka tidak merasakan kesejukan dan tidak pula minuman” (QS. An-Naba’: 24)

Sebagian ulama bahasa memahami “kesejukan” di sini sebagai tidur. Seolah-olah Al-Qur’an ingin menggambarkan betapa beratnya azab itu hingga seseorang tidak memperoleh dua kenikmatan paling dasar: minuman yang menyegarkan dan tidur yang menenangkan.

Dalam konteks yang lebih luas, hubungan antara dingin dan ketenangan tampak sangat manusiawi. Ketika seseorang merasa damai, kita sering mengatakan bahwa hatinya sejuk. Ketika kemarahan reda, panasnya hati telah turun. Bahasa Indonesia pun mewarisi metafora yang sama.

Karena itu, orang Arab menyebut kehidupan yang menyenangkan sebagai ‘aisyun bārid; hidup yang dingin. Maksudnya bukan hidup yang membeku, melainkan hidup yang menghadirkan kenyamanan dan ketenteraman. Sebuah kehidupan yang tidak terus-menerus dibakar oleh kecemasan, iri hati, atau ambisi yang tak berujung.

Menariknya lagi, waktu-waktu paling nyaman dalam sehari juga dinamai dengan akar kata yang sama. Pagi dan petang disebut al-abradān; dua waktu yang sejuk. Keduanya adalah saat ketika matahari tidak terlalu garang. Ada kelembutan yang mengiringi fajar dan senja, seolah alam sedang mengajarkan bahwa keseimbangan lebih menenangkan daripada ekstremitas.

Baca Juga:  Menyelam ke Dalam Bahr: Hikmah tentang Kedalaman Jiwa dan Kematangan Hidup 

Dari langit, kata bard melahirkan makna lain: hujan es. Butiran air yang membeku sebelum mencapai bumi disebut barad. Al-Qur’an menggambarkannya dengan indah:

وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ

“Dan Dia menurunkan dari langit, dari gumpalan-gumpalan awan yang seperti gunung-gunung, butiran-butiran es” (QS. An-Nur: 43)

Di sini dingin tampil dalam bentuk yang nyata, turun dari langit sebagai bagian dari siklus alam yang menunjukkan kebesaran Tuhan.

Namun jika ditarik lebih jauh, seluruh perjalanan makna kata bard seakan mengarah pada satu tema besar: berhentinya kegaduhan.

Dingin adalah lawan dari panas. Tenang adalah lawan dari gejolak. Tidur adalah jeda dari aktivitas. Kematian adalah akhir dari pergerakan duniawi. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang terbebas dari kegelisahan yang berlebihan.

Barangkali karena itulah manusia selalu mencari “kesejukan” dalam berbagai bentuknya. Ada yang mencarinya dalam rumah yang tenang, ada yang menemukannya dalam doa, ada yang merasakannya saat memandang senja, dan ada pula yang mendapatkannya ketika hatinya berhasil berdamai dengan kenyataan.

Pada akhirnya, makna terdalam dari dingin bukanlah suhu yang rendah. Dingin adalah keadaan ketika sesuatu menemukan tempatnya. Ketika gejolak mereda. Ketika hati tidak lagi berperang dengan dirinya sendiri.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin panas oleh persaingan, kemarahan, dan kegaduhan informasi, yang paling dibutuhkan manusia bukanlah kemenangan yang lebih besar, melainkan sedikit kesejukan yang membuat hidup kembali terasa lapang.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA