ISLAM LIVE – Sebuah negeri bisa runtuh bukan selalu karena serangan dari luar. Kadang kehancuran bermula dari sesuatu yang lebih sunyi: ketika manusia berhenti menyadari nikmat yang mereka miliki. Kemakmuran yang dulu dirayakan perlahan dianggap biasa. Keamanan yang dahulu diperjuangkan berubah menjadi sesuatu yang dilupakan. Dan pada titik tertentu, manusia bukan lagi bersyukur atas karunia, melainkan merasa semua itu adalah hasil mutlak dari dirinya sendiri.
Gambaran tentang masyarakat yang kehilangan rasa syukur ini muncul dalam Al-Qur’an melalui perumpamaan sebuah negeri yang awalnya tenteram, sejahtera, dan dilimpahi rezeki. Namun karena penduduknya mengingkari nikmat Allah swt, keadaan mereka berubah. Kisah itu bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin bagi setiap masyarakat yang hidup dalam kemajuan tetapi kehilangan kesadaran moral.
Allah swt berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 112:
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah dari segala tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)
Ayat ini menghadirkan kontras yang tajam. Sebuah negeri yang memiliki tiga fondasi utama kehidupan: keamanan, ketenangan, dan kecukupan. Tiga hal yang sering dianggap sederhana ketika sudah dimiliki, tetapi baru terasa mahal ketika hilang.
Keamanan adalah nikmat yang sering tidak disadari. Selama seseorang bisa tidur tanpa rasa takut, berjalan tanpa ancaman, dan bekerja tanpa bayang-bayang kekacauan, ia mungkin lupa bahwa semua itu adalah karunia besar. Begitu pula kesejahteraan ekonomi. Makanan yang tersedia, pasar yang berjalan, ilmu pengetahuan yang berkembang, serta fasilitas kehidupan modern sering dianggap sebagai sesuatu yang otomatis ada.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan sebuah masyarakat sangat bergantung pada bagaimana mereka menjaga nikmat tersebut.
Dalam penjelasan para ulama, “kufur nikmat” bukan hanya berarti menolak secara lisan, tetapi juga menggunakan pemberian dengan cara yang salah. Sebuah masyarakat bisa kehilangan nikmat bukan karena tidak memiliki sumber daya, melainkan karena sumber daya itu dikelola dengan kesombongan, ketidakadilan, dan kerakusan.
Nikmat yang tidak disyukuri dapat berubah menjadi sumber kehancuran.
Al-Qur’an kemudian menyebut bahwa negeri tersebut mengalami perubahan besar: dari rasa aman menuju ketakutan, dari kelapangan menuju kesulitan. Menariknya, Al-Qur’an menggunakan gambaran “pakaian kelaparan dan ketakutan”. Seolah-olah rasa lapar dan takut bukan hanya kondisi sesaat, tetapi sesuatu yang menyelimuti seluruh kehidupan mereka.
Kelaparan bukan hanya kehilangan makanan, tetapi hilangnya keberkahan dalam kehidupan. Ketakutan bukan hanya ancaman fisik, tetapi hilangnya rasa damai dalam masyarakat.
Pesan ini terasa relevan bagi dunia modern. Sebuah negara dapat memiliki gedung tinggi, teknologi canggih, dan pertumbuhan ekonomi, tetapi tetap rapuh jika kehilangan nilai-nilai yang menjaga manusia tetap manusiawi. Ketika keserakahan menggantikan kepedulian, ketika kekuasaan digunakan tanpa tanggung jawab, dan ketika manusia merasa tidak membutuhkan siapa pun, termasuk Tuhan, maka kemajuan bisa berubah menjadi jebakan.
Al-Qur’an juga memberi contoh tentang bagaimana sebuah masyarakat yang dekat dengan kenikmatan dapat berubah karena sikap batin mereka. Dalam ayat berikutnya Allah berfirman:
وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِّنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
“Sungguh, telah datang kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka ditimpa azab sedang mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. An-Nahl: 113)
Penolakan terhadap kebenaran menjadi bagian dari masalah tersebut. Mereka tidak kekurangan tanda-tanda, tetapi kehilangan kesediaan untuk melihat. Mereka memiliki nikmat, tetapi tidak memiliki kesadaran untuk menjaganya.
Dalam konteks kehidupan hari ini, kisah ini dapat dibaca sebagai peringatan bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh teknologi dan ekonomi. Ia juga dibangun oleh rasa syukur, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa setiap nikmat membawa amanah.
Bahkan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan hal yang sama. Kesehatan yang sering dilupakan ketika tubuh kuat, waktu yang disia-siakan ketika kesempatan masih terbuka, dan hubungan baik yang dianggap biasa sampai semuanya hilang.
Kisah negeri dalam Surah An-Nahl bukan sekadar tentang hukuman, tetapi tentang hukum kehidupan. Ada hubungan antara cara manusia memperlakukan nikmat dan bagaimana masa depan mereka terbentuk.
Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan hanya “berapa banyak nikmat yang kita miliki?”, tetapi “apa yang kita lakukan setelah menerima nikmat itu?”
Sebab sering kali manusia baru memahami nilai sebuah karunia ketika ia telah pergi. Dan mungkin, salah satu bentuk kecerdasan terbesar manusia adalah mampu bersyukur sebelum kehilangan.
